La Taghdab. Kendalikan Segalanya Menjadi Lebih Baik.

Ketika seseorang menghadap kepada Rasulullah SAW untuk meminta nasihat, maka manusia terbaik itu bersabda, “La taghdab. Jangan marah.”

Sungguh, sederhana dan singkat nasihatnya, namun sangat dalam makna dan manfaatnya. Manusia, merasa dirinya bisa mengendalikan amarah, namun ternyata menjadi orang yang paling pemarah. Setidaknya, bagi diri sendiri.

Jujur, aku termasuk sumbu pendek. Mudah sekali tersulut emosi yang jika mau dicerna terlebih dahulu, terkadang malah bingung. Apa yang menjadi sumber amarah? Hihihihi…

Belajar mengendalikan diri untuk tidak bersuara negatif, tidak langsung marah, tidak curiga, tidak cemburu, dan tidak menuduh sebelum bukti terkumpul lengkap ternyata tidak semua orang memberi komentar ya?

Sudah terlalu banyak kejadian menyedihkan melukai banyak pihak hanya karena kemarahan sepihak atau yang disambut dengan marah juga. Tak perlu kuberi contohnya, karena hal itu terjadi di sekitar kita setiap hari (jika tak bisa disebut setiap saat). Berapa banyak tangis ratapan penyesalan hanya karena seucap kata yang menyakitkan?

Jangan marah. Duhai, betapa sulitnya mengendalikan hawa napsu untuk tak sekadar mengumbar emosi sesaat. Penyesalan yang selalu datang terlambat dan tak sempat terselamatkan menjadikan waktu terbuang sia-sia.

Aku belajar. Semakin hari, jatah usiaku semakin menipis. Tidakkah aku ingin kembali ke kampung akhirat dengan sebaik-baik amalan? Maka aku belajar untuk mengatur emosi saat marah. Berusaha untuk berpikir cepat dan mengerem keinginan untuk teriak. Alangkah sulitnya! Satu kata saja yang membuat nyeri di hati atau sakit kepala, seketika itu aku langsung beristighfar dan berta’awudz.

Aku belajar, meski bukan aku yang salah, aku mencoba membuang egois dengan tak lagi berkata, “Kamu yang salah, bukan aku!” Aku yang akan maju dan berkata dengan suara pelan, “Maafkan aku. Salahku membuatmu menjadi marah.” Dulu, berkata seperti itu ogah banget pakai senyum manis tulus. Senyumnya dipaksain banget. Seiring waktu, aku belajar tentang keikhlasan memaafkan dengan cara meminta maaf.

Tak mudah. Tetapi bukannya tak bisa diubah. Manajemen emosinya memang harus terus diasah. Untuk itu, aku akan terus belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s