Untuk Apa Menikah Setelah Sakit Hati?

Siapa bilang menikah itu harus? Emangnya wajib? Kan gak ada perintah wajibnya. Menikah itu sunah. dilempar bakiak

Sudahlah, aku sedang tak ingin membahas dari segi Quran atau Hadist. Kita bicara tentang keseharian aja yah? Biar enak dibacanya. Sok atuh ambil kopi sama camilannya tuh di meja.

Jadi gini…

Aku membayangkan suatu fragmen tentang sepasang suami istri yang memiliki beberapa anak (2, 3, 4, 5, 6, dan seterusnya). Semua dimulai dari satu langkah kecil: lamaran si pria kepada wali si wanita. Sesederhana itu. Ketika si pria dengan gagahnya maju dan menyatakan kesiapan membuka lembaran baru bersama wanita pilihannya.

Ini bukan tentang cinta. Kamu tak akan pernah bisa memilih dengan siapa kamu jatuh cinta. Tetapi kamu bisa memilih dengan siapa kamu hendak menikah. Bingung? Gak usah. Lagian pembahasannya juga bukan tentang inišŸ˜€

Balik lagi ke lamunan di atas. Suami dan istri yang sama-sama sibuk bekerja. Tetapi, pernikahan membuat mereka bertahan, karena ada kekuatan tak kasat mata yang membuat senyum penuh keikhlasan tetap mengembang setiap hari. Membayangkan, suami pulang kerja dalam keadaan lelah tapi masih bisa bermain dengan anak, masih mau membantu membereskan cucian piring, misalnya.

Membayangkan, istri yang lelah berjibaku dengan anak dan domestik, tetapi masih bisa dandan istimewa untuk menarik hati suami. Plus, anak-anak yang sudah wangi sehabis mandi sore siap menanti ayah mereka untuk berebut menceritakan kejadian lucu di sekolah, misalnya.

Lamunanku masih berlanjut. Selelah apapun suami istri itu, mereka masih sempat berbincang dan saling mencurahkan isi hatinya. Terkadang, tak dibutuhkan ucapan apapun, hanya pelukan hangat yang bisa meningkatkan rasa percaya diri dan memberi kekuatan baru. Lenyap segala yang membebani hati dan pikiran.

image via indiebookcorner
image via indiebookcorner

Kesendirian tak akan menghasilkan apapun yang melegakan. Benar. Atas nama bahagia dan bebas seorang diri, sejatinya manusia adalah makhluk sosial. Membutuhkan orang lain lagi sebagai teman. Meski pernah merasakan sakit hati. Terluka sangat dalam. Trauma yang membuat diri menggigil ketakutan atau pun marah.

Bagiku, trauma delapan tahun selamanya akan tertanam dalam pikiran. Tetapi aku tak mau menyimpan lukanya dalam hati seumur hidupku. Ruginya waktu hidupku bila terus-terusan menangisi yang sudah berlalu. Benar? Begitulah.

Awalnya, aku tak siap untuk memulai hidup baru bersama orang lain lagi. Aku pernah menutup pintu rapat untuk sebuah komitmen baru yang bagiku menakutkan. Padahal aku tak pernah tahu bagaimana masa depan. Berulang kali aku membohongi diri sendiri. Yes, am happy. Yes, am ready for everything ahead. Nyatanya?

Eh, rada OOT dikit nih. Mem-bully jomblo itu gak membantu masalah mereka itu selesai, guys. Use your empathy. (not for me, for sure). Pernah membaca seorang jomblo mati bunuh diri karena tak tahan diledek oleh teman-temannya. Itu bahaya lho. Terlepas itu adalah dosa yang tak termaafkan, kalian yang meledek tuh punya andil dalam keputusannya untuk suicide. Kalian bahagia dan semakin tertawa ketika si jomblo itu mati sia-sia? Bayangkan kalau posisi itu diisi oleh kalian. At least, aja kek temanmu yang jomblo itu untuk ikut kegiatan positif agar lupa dengan kesendiriannya. Ikut pengajian, kek. Ikut naik gunung, kek. Jadi relawan sosial, kek. Siapa tahu kan jadinya dia nemuin jodohnya di kegiatan itu. kedip-kedip apasih

Oh ya,Ā ada dua tipe pria yang tidak mau / belum mau menikah: diragukan kejantanannya atau terlalu banyak maksiat. Ā Sama saja, menumpuk dosa lagi. Obatnya hanya ada dua pilihan: Menikah atau berpuasa. Tak ada yang lain. Gak bisa pakai antibiotik, karena bakterinya gak mempan pakai penisilinšŸ˜› dikeplak

Kembali ke topik di atas. Jika pernikahan terjadi antara dua orang yang pernah sakit hati, apa yang kaubayangkan? Sebuah pernikahan bahagia atau sia-sia? Tak akan ada yang bisa menjawabnya, sebelum semuanya dijalani atas dasar kepatuhan kepada Allah. Tak ada yang benar-benar siap untuk sebuah komitmen yang dianggap membelenggu kebebasan itu. Tetapi apakah kamu juga mau bebasnya tak bertanggung jawab?

Aku sadar, pernikahan itu penyempurna setengah dien. Dan aku membayangkan, rasa sakit hati akibat trauma itu perlahan lenyap bersamaan dengan cinta baru yang Allah titipkan di hatiku. Aku tak memiliki apapun untuk dibanggakan di hadapannya. Aku hanya punya keyakinan bahwa jika kita sudah siap, segalanya akan menjadi lebih mudah.šŸ™‚

Gitu aja sih.


Tulisan ini untuk: S.šŸ™‚

2 thoughts on “Untuk Apa Menikah Setelah Sakit Hati?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s