Senja Bersamamu: Luka Masa Lalu

Tak biasanya aku memaksakan diri menembus hujan lebat dan kemacetan yang membuat gila semua orang di jalan saat ini. Sudah dua jam aku tercekik oleh perasaan senewenku sendiri. Jantungku berdetak lebih cepat, membuat adrenalinku terpacu naik. Tak sadar beberapa kali aku membanting pulpen atau menghentakkan kaki. Membuat supirku ikut senewen. “Bu, sebenernya kita mau ke mana sih?”
“Grogol, kan?” aku malah balik bertanya ketus.
“Tadi Ibu bilang ke Palmerah.”
“Batal. Orangnya kirim BBM, gak jadi. Baguslah kita terjebak di sini. Tapi kita harus ke Grogol.”
“Taman Anggrek, Bu?”
“Iya. Aku lebih suka ke sana dari pada tetangga sebelahnya itu.”

Dan setelah merasakan panas mendidih di kepala akibat kemacetan luar biasa, tiga jam untuk Tanah Abang – Grogol, akhirnya aku memesan tiga gelas Iced Mochacinno dan membelikan supirku makan siang yang kesorean. Yang sudah menungguku tertawa kecil. “Tante gak pernah berubah. Meski sepuluh tahun sudah berlalu. Tetap kalap minum kopi,” Angga menyeruput Hazelnut Coffee-nya dengan santai.

Aku mendelik ke arah Angga sebal dan pemuda itu malah semakin jadi menggodaku. “Tante lucu deh kalau cemberut gitu. Hehehe…”
“Ah sudahlah! Aku malah mengantuk begini. Oh ya, kamu sudah makan?”
“Porsi ketiga sih belum, Tan,” jawabnya kalem. Aku menjewer telinganya.

Setelah supirku selesai makan dan pamit ke parkiran, aku memulai pertanyaan dengan sesuatu hal paling dia benci, “Apa kabar Mama?” Wajahnya mengeras dan dia malah sibuk memainkan Androidnya. Aku salah tingkah dan mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.
“Angga? Maaf, bukan maksudku… Aku gak tahu kalau…” Aku menggeleng penuh penyesalan.

“Tahun baru kemarin aku ketemu sama pakde Rudi. Tetiba aja dia sodorin hape. Ternyata ke nomernya Mama. Bingung mau ngomong apa. Sekenanya aja. Apa kabar? Oh sehat? Ya udah. Gitu doang. Emangnya aku mau ngomong apa sama perempuan kayak gitu?” tanyanya ketus.
“Hus, biar gimana juga dia Mama kamu, Angga.” Aku menepuk pundaknya pelan.

Kemudian kami hening beberapa saat. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Hanyut dalam perasaan yang porak poranda. Evi, mamanya Angga, adalah sepupuku yang berusia 45 tahun. Sepupu tua dan pemarah. Di usiaku yang 33 tahun sekarang ini, belum menikah dan asyik dengan bisnisku sendiri tak membuatku kesepian. Angga, yang gantengnya mewarisi mata hijau milik papanya, cukup sering mengajakku berdiskusi. Usianya masih 16 tahun, tetapi dia cerdas dan sangat puitis. Romantis. Meski agak lebay layaknya remaja pada umumnya, tetapi cukuplah menghibur.

“Tan, besok aku mau ke Brazil. Barusan aku dapat kabar kalau Papa sakit. Mau ikut?” Angga membuyarkan lamunanku. Matanya memerah.

“Hmmm…” Aku pura-pura berpikir. Hey anak bawel, tentu saja aku mau! Bertemu Fernandez adalah impianku sejak Alfredo mengatakan bahwa sahabat kuliahnya itu ingin mengenalku lebih jauh.

“Alfredo sakit apa? Jantungnya?”

“Bukan, Tan. Jantung Papa stabil. Maria bilang kalau Papa mengeluh perutnya sakit. Setelah dicek, ternyata gejala kanker usus.”

Aku menutup mulutku sesaat dan kemudian menghubungi Putri untuk memesan tiket. “Hai, Put! Pesan tiket besok dong. Maaf mendadak. Ke Rio, ya. Dua tiket. Ekonomi saja kalau bisnis habis. Penerbangan pertama atau kedua. Oke ya, Put. Makasih. Apa? Adanya penerbangan terakhir? Yah. Oke deh. Hm? Oh, nggak usah. Pulangnya nanti kupikir lagi kapan. Aku mau memastikan Alfredo stabil dulu. Iya, bokapnya Angga. Oke. Danke!” Aku menutup telepon dan menoleh ke arah Angga. “Kamu langsung nginep di apartemen deh. Beberapa baju kamu juga masih ada di sana. Paspor selalu dibawa kan?”

Angga mengangguk. Aku tersenyum.

Senja perlahan meredup. Sesekali aku melirik Angga yang terlihat kelelahan. Dia mungkin seharusnya anakku. Jika saja Evi tak merebut Alfredo dariku. Ya, pria itu adalah cinta monyetku. Aku diam-diam jatuh cinta padanya bertahun lampau, ketika pria berkacamata itu sedang berlibur ke Tangerang.

Sekitar lima tahun kemudian, berita pernikahan Alfredo dan Evi membuatku membenci keduanya. Seharusnya tidak begitu skenarionya. Tetapi inilah yang dinamakan garis takdir. Setelah Angga lahir dan berumur sepuluh tahun, Evi ketahuan selingkuh dengan mitra kerjanya dan membuat Angga tak pernah bisa memaafkan ibu kandungnya sendiri. Ia begitu memuja mamanya. Alfredo memenangkan hak perwalian dengan alot. Karena alasan sekolah, Angga tetap berada di Jakarta. Sementara Alfredo sesekali pulang ke Rio de Janeiro untuk urusan bisnisnya.

Aku menghela napas dengan berat. Aku kasihan pada Angga. Tetapi aku tak pernah bermimpi untuk menggantikan posisi Evi secara hukum. Aku memiliki Angga sejak hari pertama dia dilahirkan. Seperti ada benang merah yang mengeratkan kami berdua.

Seketika, aku merasa ada yang aneh di dalam hati. Aku ke Brazil untuk siapa?

 

 

(Oktober 2011)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s