Ikhwan, Bad Boy, dan Pernikahan

Disclaimer: Baiklah, tulisan ini murni subyektif dan berdasarkan stalking gak jelas sehingga melahirkan pendapat yang absurd. Dilarang protes karena sejatinya apa yang tertulis di bawah ini tidak menunjuk pria mana pun (kecuali ada yang merasa)šŸ˜€

if he


Siapa sih yang tidak bermimpi mendapatkan seorang imam rumah tangga ahli ibadah? Banyak hapalannya (lebih keren lagi kalau hafidz), dan sangat takut kepada Allah. Pria yang menjaga auratnya, menahan emosinya, menyembunyikan lelahnya, dan menampakkan kecintaan kepada keluarganya senantiasa. Pria semacam itu dambaan bagi setiap wanita. Tentu saja. Golongan pria ini nyaris tanpa cela. Cerdas, tawadhu’, sopan, dan kebanggaan keluarga. Tetapi… Pantaskah ia menjadi kepala rumah tangga? Pria yang selalu menjaga pandangannya, mungkin akan terasa kaku di awal pernikahannya karena tak terbiasa. Tetapi, mereka akan menjadi sangat romantis karena semua kelebayannya sudah ada yang menampung. Hihihihi….

Sayangnya, sungguh disayangkan (setidaknya menurut eikeh), pria semacam ini pun memiliki standar yang cukup tinggi untuk kriteria calon istrinya. Harus berjilbab syar’i dan kalau bisa sih berkhimar (yaeyalah!), bisa mengaji (syukur kalau menjadi hafidzah), dan biasanya harus dari lingkaran yang sama. Oke, bagian ini tak tak ada yang masuk di diriku tutup muka pakai taplak meja

Ya ya ya ya, tau banget deh yang membaca ini pasti langsung bergumam tentang hadist bahwa pria baik untuk wanita baik. Okay, deal. Itu pasti. Harus sekufu. Sip, atur saja! Ā Dalam bayanganku, ikhwan idamanku adalah Mas Gagah deg-degan norak Tetapi benarkah semua ikhwan layak dijadikan suami hanya dengan bermodalkan pintar mengaji dan gajinya tinggi? Mimpiku hanya sebatas bayangan yang langsung buyar setiap azan subuh menggema. Pernah memimpikan seorang ikhwan ganteng nan cerdas… Tapi apa daya, aku bagai pungguk merindukan bulan.

Aku menoleh ke arah bad boy. Pria yang sudah kenyang dengan aneka kelamnya kehidupan. Drugs, drinks, and women. Tiga hal ini selalu melekat erat sempurna dalam diri seorang bad boy. Aku mengenal banyak sekali pria model begini. Bajingan dari kelas teri hingga kelas paus, ada semua. Terlepas bagaimana latar belakangnya dan juga masa lalunya, mereka selalu menyimpan kerinduan untuk bisa hidup ‘tenang’ di usianya yang sudah semakin merambat tua. Godaan untuk kembali menikmati aneka obat terlarang atau minuman keras bukannya datang begitu saja. Selalu ada iming-iming harta dan wanita di belakangnya. Diakui atau disangkal, demikian lingkarannya berputar.

Jenis pria ini sebenarnya butuh pengakuan, meski ego mereka menentang dan menganggapnya sebagai ancaman. Pria ini membutuhkan seorang ratu bagi keangkuhannya. Bukan pula selir yang mudah dicampakkan dan tak memiliki kepentingan apapun selain memuaskan hasrat sesaat. Pria ini sudah cukup puas dengan masa lalu yang berantakan dan ingin sekali menata hidupnya agar lebih berarti di sisa usianya.

Kayaknya elu emang belain bad boy ya, An? nyengir dulu Entah bagaimana skenario yang disodorkan oleh Allah, sampai detik aku menulis ini, aku belum pernah dipertemukan oleh ikhwan mana pun. Mungkin, karena aku terlalu bejat untuk disandingkan dengan ikhwan. HiahahahahašŸ˜†

Lantas, bagaimana seorang ikhwan dan bad boy memandang sebuah pernikahan? Sama saja, kalau menurutku. Tapiiiii…. Ada satu bagian yang harap jangan disalahartikan dan diterjemahkan dengan mentah. Mengenai jumlah istri. Karena seorang ikhwan selalu menjaga kesuciannya, maka dia hanya akan menyalurkan hasratnya dengan pasangan yang sah. Karena Islam membolehkan memiliki istri lebih dari satu dan maksimal empat orang, banyak ikhwan yang kalap dengan memperistri banyak perempuan. Adil? Belum tentu. Lantas bagaimana dengan bad boy? Tipe ini sudah puas dengan jajan di masa jahiliyahnya, maka dia merasa cukup dengan hanya satu istri dan kapok ngelaba lagi. Sudah bukan zamannya lagi. Meski, godaan enaknya berpindah ranjang itu bukanlah cobaan sekadar kena bacokan golok semata…

Semua kembali kepada individunya. Aku membicarakan siapa? Rahasia identitas aman bersama embusan semilir angin malam… kemudian sarungan, meringkuk

Ingatkah kita, bahwa perjalanan hidup bukanlah jaminan ke jannah-Nya? Akhir hidup seseorang, apakah dalam keadaan menyebut nama-Nya atau justru berhenti dalam gelimang maksiat? Ujian terberat kita nanti. Sanggupkah menyambut malaikat maut dalam keadaan tersenyum?

Tulisan random ini belum selesai sampai di sini. Akan ada tambahan lain. Mungkin di bawah postingan ini atau di lain halaman.

PS: Ada pertanyaan di atas yang sengaja tak kuselesaikan, silakan dijawab oleh masing-masing sesuai keinginan.šŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s