Bermanuver Total. Mampukah?

Malah bertanya kepada diri sendiri. Aku sedang menunjuk diri dengan pertanyaan yang mudah dibaca namun sulit dijawab. Rasanya aku akan berantakan menulis di sini.

Menulis status di Facebook bagaikan bercermin seperti ini:

saya gak pernah tau besok bakalan kayak gimana perjalanan hidup. saya hanya tau tiga hal: berdzikir, berpikir, dan berikhtiar. sebelum saya memahami pentingnya tiga utama ini, hidup rasanya berantakan. tidak tau prioritas.

guru saya, Aa Gym, mengajarkan:
dzikir : harusnya menyerahkan segalanya kepada Allah. doa sangat penting agar saya selalu mendahulukan Allah dari yang lain.
pikir : tubuh saya di bagian kepala dibenamkan yang namanya otak. dengan prosesor super canggih dari Allah, harus bisa dipakai untuk berpikir positif selalu. harus bisa menghentikan ketakutan yang gak jelas.
ikhtiar : tubuh yang alhamdulillah masih sempurna, akanlah sangat memalukan bila tak digunakan secara maksimal. saya sebagai hamba yang terbatas dan hina, mau menikmati dunia haruslah dengan berusaha. apalagi, harus sadar dunia hanya sementara. jadi, karena tidak tau usia ini mentoknya di angka berapa, tak boleh berhenti untuk mengumpulkan saldo demi tiket ke akhirat yang kekal.

jadi, saya harus tetap bergerak. menggerakkan hati, pikiran, dan tubuh saya. semampunya. kemudian bertawakkal. mempercayai semuanya dan mengembalikannya pada Allah. hanya Dia yang bisa menjadikan saya seperti sekarang.

jadi, mari tetap tersenyum! 🙂

Satu hal yang ingin sekali kulakukan dari dulu adalah bereksperimen di dapur. Tetapi aku tak pernah punya cukup keberanian untuk mencoba. Gak pede. Takut gak enak. Lucu kan? Cemen banget ya? Jujur, aku sudah lelah dengan laptop, ingin sekali bermain di dapur. Terlebih setelah menonton film Julie & Julia. Rasanya memang harus dicoba ya? Gemas rasanya melihat teman-teman pamerin hasil ulik dapurnya. Sampai terkadang berpikir, “Harusnya aku juga bisa!” Tetapi aku hanya tertarik untuk kue kering, camilan ringan, dan dessert. Aku gak begitu menyukai atau tertarik pada appetizer atau main course. Ah, mungkin nanti sambil jalan bisa dipelajari ya?

Aku baru tahu kalau ilmu tentang kopi ada sekolahnya lho. Secara resmi, keren, dan bersertifikat! Waw! (Iya, norak!) Nah, karena kopi memiliki bidang ilmunya tersendiri, makanya aku ingin mencoba. Bahkan aku ingin belajar menjadi barista dan kemudian membuka kedai kopi, seperti mimpiku selama ini. Oh, I wish

Aku juga mengetahui dengan kesadaran penuh bahwa berhijab tak sekadar menutup aurat. Haruslah dilakukan total dan seutuhnya. Bukan sekadar pakai gamis atau menutup kepala dengan kain yang terjulur begitu saja. Aku ingin mengubahnya. Aku lama terdiam. Takut. Entah kenapa. Bagaimana cara memulai perubahan ini…

Ingin sekali lagi berterima kasih (tanpa bosan) kepada para penyemangat hidupku yang justru beberapa orang baru kukenal dan berada jauh dariku : Fira, Aria, Panca, Vei, Dewi, Pakde Bambang, Ladrang, Ichy, Saidah, Kiki, Sean, dan Al yang selama ini berada di belakangku. Mendorongku agar tetap maju dan tak berhenti berjuang.

Teman-teman baru yang mewarnai hidup bagai pelangi (dan dengan teganya bisa membuatku tertawa hampir 18 jam sehari…. well… 24 jam? 😀 ): Happy, Oje, Do, Dry, Lia, Susan, Sefa, Erwin, Dwi, Nano, dan Fero. Many thanks! 😉 Ternyata aku bisa mendapat keriaan di komunitas yang sama sekali baru 🙂

Tuhan mahatahu, dengan skenario terbaik-Nya, Dia sedang menyiapkan sebuah humor yang akan sangat membuatku sesak napas karena bahagia. Entah apa dan kapan. Perubahan total itu akan terjadi.

Sungguh, terima kasih…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s