Semua Juga Butuh Modal!

Iya, deh! Semua? Benar. Semua aspek dalam kehidupan kita membutuhkan modal. Dan harap diingat, modal itu tak melulu soal materi, uang di bank, tanah yang bisa dijual, atau segenggam berlian. Ada yang namanya nyali, semangat, dan harapan. Oh, kamu boleh menyebutnya apa pun. Tak terlihat secara langsung, tetapi cahaya mata bisa memancarkannya.

shutterstock_124302109

 

credit image from Shutterstock

Well, salah satunya tentang banyaknya ide berkeliaran di alam pikiranku. Mau bikin ini, mau usaha ini, mau jualan ini, dan mau coba ini. Semua. Sayangnya, semua terbentur oleh biaya yang tidak sedikit. Plus, siapalah aku yang gak punya track record di bidang bisnis kuliner / pengelolaan kafe? *tutup muka*

Emangnya mau usaha apaan sih? Hm, karena aku suka makan, maka aku ingin membuka usaha seputar makanan. *langsung ngiler dah*

“Kamu mau jadi reseller, An?” Andai mengeluarkan modal semudah menganggukkan kepala, ya?

“Jadi reseller aja, An. Ntar dapet diskon.” Yah, itu sih aku juga paham.

Etapi kayaknya aku emang gak bakat jadi penjual sih. Gak bisa pengaruhi orang untuk membeli. Gak pinter buat provokasinya😆 Kalo orang gak mau beli, ya udah, aku gak mau maksa. Soalnya aku juga gak suka dipaksa, sih. Berasa dapet karma. *ini apa hubungannya?*

Sedang bingung, kenapa juga hari ini (2 September) banyak stat FB yang cukup untuk menamparku bolak balik sampe lecet nih pipi. *ngik* Merenung seharian di tanggal 1 September menghasilkan satu kesimpulan: selama masih dikasih napas, masih sanggup berpikir, masih kuat berjalan meski ngos-ngosan, gak ada kata ‘menyerah’ dan ‘berhenti’.

Udah sejak lama diingetin sama mamanya Moses bahwa aku harus percaya keajaiban. Trus diingetin lagi sama maminya Javi, keajaiban itu nyata. Dan mereka berdualah yang nyodorin lagunya Whitney Houston itu. Keangkuhanku yang sudah di tahap akut, membuatku kadang ingin menolak keajaiban itu.

Modal maha penting itu bernama rasa percaya. Aku harus percaya bahwa Tuhan gak akan memberi sesuatu (kebahagiaan dan kedukaan) tanpa hikmah yang menyertainya. Hingga kini, aku masih mencari ada di mana rasa percayaku pada Tuhan. Berjuta tanya MENGAPA mengusik setiap harinya. Itu termasuk ‘mengapa aku sulit berjualan?’ ‘mengapa aku tak bisa berani bergerak?’ ‘mengapa aku begini begitu?’

Modal percaya itu yang seharusnya membuatku berani melangkah. Tetapi nyatanya tidak demikian. Aku mendapati diriku bingung sendiri. Kemudian aku disadarkan oleh seseorang yang melihatku seperti ini:

“A hardworking mom, punya dunianya sendiri dan gak terlalu suka berbagi sama orang, baek, seneng dengerin keluh kesah orang, straight forward dan cenderung pedes tapi to the point. She is a loner.”

Sesuatu yang bahkan tak dimengerti oleh kebanyakan orang yang mengenalku dari lahir😀 Mungkin karena aku gak terlalu suka untuk berceloteh banyak dengan orang lain dan aku penyendiri. Aku memang kurang suka berada di tengah pesta / hiruk pikuk. Pasti aku cenderung memilih untuk menepi di pojokan. Sendirian. Aku lebih suka mengamati orang. Aku lebih suka menjadi penggembira.

Aku gak punya modal nekat atau sok percaya diri bahwa semesta akan mendukungku. Aku bahkan sangat mudah sakit hati bila orang yang baru mengenalku langsung menuduhku macam-macam. Seperti yang dilakukan seorang pria dari benua lain yang mengatakan bahwa aku terlihat putus asa dengan menolak menceritakan kehidupan pribadiku. Sebenarnya yang aneh tuh siapa kalau sudah begini kasusnya? Aku memang gak terlalu suka berbagi dengan orang lain apalagi orang asing / yang baru kukenal.

“Tapi kenapa lu bawel banget di dunia maya, An?” Karena aslinya aku sangat rikuk dan nyaman berada di tengah orang banyak. Bingung sendiri. Itu sebabnya aku lebih ceweret di saat tak dilihat orang banyak. Ini mungkin modalku untuk bekerja. Tak harus bertemu dengan orang banyak, tapi aku bisa menghasilkan uang untuk survive.😉

Ya sudah, sekian ocehan yang gak jelas di sore hari ini. Efek merenung seharian di awal bulan, menghasilkan banyak cermin untuk melihat pantulan diri.

God loves me.

2 thoughts on “Semua Juga Butuh Modal!”

  1. Tulisan yang menarik, thank you sudah berbagi tulisan. Dan sebagai bagian dari mengelola hati, rasanya kita perlu tahu tentang mengapa penolakan terasa benar-benar menyakiti secara fisik.

    Kebetulan saya baru saja menjelaskan secara keilmuan tentang penyebab rasa sakit hati dari penolakan itu, silakan baca di Kenapa Penolakan Rasanya Sakit? Semoga memberi pencerahan.🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s