Berkenalan Dengan Harapan, Kemudian Melupakannya

Aku sudah sering mendapat cercah harapan yang membuatku membuncah karena senang dan semangat. Tetapi, ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan, aku hanya bisa tersenyum pahit dan melanjutkan hidup dengan sisa kekuatan.

doubt kills

Tapi,hey, aku tak pernah kapok untuk berkenalan harapan. Versi 1.0, 1.0.1, 1.0.1.1. dan seterusnya. Kalau target si versi 1.0 aku gagal, kucoba versi anaknya 1.0.1. Terus, sampai aku mendapat jawabannya. Capek? Banget. Kesel? Pastinya. Menyerah? Ehm, tergantung situasi.šŸ˜€

Misalkan aku ikut ujian UMPTN (haghaghag ketauan angkatannya!šŸ˜† ), targetku waktu itu 2 pilihan: Fakultas Sastra (sekarang FIB) Jurusan Sastra Jepang UI dan Fakultas ISIP Jurusan Kehumasan. Keduanya gagal. Menyerah? Belum. Aku ikut lagi seleksi Diploma di tempat yang sama: FS dan FISIP. Plus mencoba di universitas swasta. Meski, aku memohon sambil jungkir balik bahwa aku gak mau di swasta. Mahal. Jauh. *iya mulai lebay* Allah memang maha mengetahui apa yang terbaik untukku. Aku tidak terlalu suka segala bentuk akademis dan lebih suka pelajaran ringan. Well, ketika diterima di Diploma FSUI itu aku bersyukur karena memenuhi harapan orangtua pun harapanku sendiri. Selesai? Belum. Aku harus tetap target lulus tepat waktu 3 tahun. Gak pake acara mengulang. Taruhannya uang yang sudah dikeluarkan bapakku, tentu saja. Tega gitu aku membuang uang orangtua untuk pendidikan sementara aku malah harus mengulang tingkat? No way. Aku lulus tepat waktu sesuai harapan. Tidak dengan IPK memuaskan tentu saja. Karena targetku lulus, bukan memiliki IPK terbaikšŸ˜› bwehehehehe…

Targetku menikah usia 20 tahun ternyata meleset mundur 3 tahun. Ah, baiklah. Berharap punya anak usia 21 tahun agar ketika aku berusia 40, punya teman jalan-jalan yang asyik. *terlalu norak ya harapannya?* Target langsung punya anak setelah menikah pun ditunda Allah hingga 2 tahun berikutnya. Mau protesĀ juga gak bisa, kan? Harapan cepat punya anak dibalas-Nya dengan punya dua anak cowok yang luar biasa. Ini menghapus segala sedih.

Harapan tinggal di Bandung sudah ada sejak kecil. Aku harus bersabar selama hampir 25 tahun untuk mewujudkannya. Hey hey, jika selama itu untuk sebuah harapan, berarti aku cukup baik dalam mengafirmasikan sebuah doa kan? *ngebela diri sendiri*šŸ˜›

Tahun 2011-2012, hidupku jumpalitan. Dari segi fisik, tak akan banyak yang menyadari. Terjun bebasnya di hati dan pikiran. Untuk yang menyadari intonasi tulisanku di tahun itu sih pasti akan banyak pertanyaan. Yowes, kita mup on yuk ah!

Ada beberapa harapan yang belum terwujud. Sepertinya harus mengganti taktik cara menyempurnakan ikhtiarnya nih. Intinya aku gak boleh ragu dengan apa yang kujalani. Maju aja terus. Yang menilai usaha dan ibadahmu hanya Allah, An! Usahaku terus mencari solusi. Celah yang bisa diutak-atik dari sebuah harapan. kalau gagal di versi 1.0.1 ya coba lagi di 1.0.0.1 gitu lho.

Ketika ditakdirkan untuk gagal, bukan berarti harus berhenti, kan? Anggap saja diberi waktu istirahat selonjoran oleh Allah, sambil memikirkan strategi berikutnya. Jangan matikan pikiranmu, An! Kalau sudah berpikir kalah, hal negatif itu akan merenggut kesehatan pikiran secara perlahan. Jika didiamkan, matilah sudah pikiran sehat.

Tetapi aku sudah sering berkenalan dengan harapan, sudah terlalu sering keluar emosi yang melelahkan… Dan digantikan oleh Allah dengan sesuatu yang lebih baik. Jadi, tetap harus berkenalan. Dikecewakan harapan? Lupakan sajašŸ™‚ Gagal tetap lebih baik. Itu artinya kamu mencoba, An!

*seruput kopi sore*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s