Mengosongkan Isi Teko dan Membiarkannya Terisi Kembali

“Teko hanya mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Jika isinya air putih, keluar air putih. Jika isinya air comberan, yang keluar pastilah air comberan.” Ini kalimat yang selalu terngiang di telingaku setelah 14 tahun…

“Andi, kamu harus membiarkan isi dalam tekomu tumpah dan terisi oleh air bersih. Selama kamu menahan teko itu, maka tak akan ada kebaikan yang masuk ke dalamnya.” Tujuh tahun berlalu, aku selalu mencoba mencerna maksud kalimat ini.

“Bang, aku ingin kembali ke titik nol. Aku ingin jadi mualaf.” Kutulis dalam chat BBM, tak lama setelah hari lahirku di tahun 2014 ini kepada seorang sahabat lama.

—————————————-

Perjalanan spiritual yang sungguh tak mudah. Aku sendiri pernah terjerumus ke dalam kubangan hitam bertahun- tahun tanpa ada yang tahu kecuali Tuhan. Meski di mata banyak orang, aku tetaplah si bengal jutek yang susah diatur. Tetapi kenakalan yang diketahui mereka sebatas kabur dari sekolah, bernyanyi di kelas, pacaran, dan meminta pada Bapak untuk menikah di usia dini (well, usia 23 tahun menikah di keluargaku termasuk terlalu muda.😆 ).

Mungkin benar aku ini masih kotor hati. Kemudian, aku merenungi sebuah kalimat yang kubaca bertahun silam:

“Setiap individu memiliki jalannya sendiri-sendiri. Qul kullun ya’malu ‘ala syakilatihi. Bahwa setiap orang diberi anugerah kebebasan, ke arah mana jalan ingin ditempuhnya.”

Bahwa cahaya dan kegelapan, kebenaran dan kebatilan, kekafiran dan keimanan, harapan dan ketakutan, sama sekali tidak bisa menjadi penghalang atau hijab antara hamba dengan Allah, di balik gelap dan terang, Allah ada di sana.

Sebab hidayah itu adalah hak prerogatif Allah, bukan hak para pejuang, bukan hak orang-orang yang meneriakkan takbir sambil menghunus pedang, bukan pula hak mereka yang selama ini merasa paling Islami, paling bersih, dan paling agamis.

Allah menilai sejauh mana hatimu bergantung kepada-Nya. Bukan bergantung keoada prestasi amal masing-masing.

“Masa depanmu adalah Allah itu sendiri. Kamu harus belajar berbaik sangka kepada Allah, dengan cara kamu memahami bahwa terkadang Allah menakdirkan hamba-Nya berbuat dosa, dalam rangka si hamba itu untuk lebih mampu dekat dengan-Nya. Nabi Adam berdosa dengan pelanggaran-Nya, tetapi beliau menyadari bahwa itulah takdir Allah agar kelak bisa melahirkan keturunan di dunia.”

Tobat itu cinta…

(dari buku Jack dan Sufi, 2004).

Aku sangat menyadari adanya pergolakan batin selama satu dasawarsa ini. 2004 – 2014 bukan waktu yang sebentar untuk jungkir balik mencari jati diri. Aku pernah baca, bahwa manusia selalu berubah setiap 10 tahun. Benarkah? Tapi aku coba merunut ke belakang seperti ini:

Usia 10 tahun, mulai puber. Mulai egois mencari eksistensi. Suka lagu klasik dan pop. Suka warna merah muda.

Usia 20 tahun, mulai mikirin nikah. *setdah* Mulai gelisah dan mencari ketenangan dalam lingkungan islami. Suka lagu nasyid dan jazz. Mulai melirik dunia sufi. Suka warna hijau.

Usia 30 tahun, mulai mencoba menahan diri untuk tidak cepat panik dan mudah meledak meski ternyata sulit. Mulai berdamai dengan diri sendiri. Mulai berani mengemukakan pendapat yang berbeda 180 derajat bahkan dengan sahabat sendiri (dulu aku bebek sejati😛 ) Suka warna merah.

Ternyata benar. Manusia itu selalu berubah. Masalahnya kita mau berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk, ya terserah. Semua kan karena niat😉

peggy melati sukma

Pastinya sudah tahu ya bagaimana proses perubahan hijrahnya Peggy Melati Sukma? Dalam penampilan hijabnya juga perlahan berubah. Dari model jilbab gaul modern banyak pernik hingga jilbab lebar feminin dan manis.

peggy 2

Cantik? Banget. Anggun? Pasti. Adem ngeliatnya? Iya!

Tadinya aku gak begitu peduli dengan perubahan Peggy, hingga suatu hari aku tergelitik melihat seorang ibu muda yang mengenakan gamis dan jilbab lebar persis seperti Peggy. Corak warna manyala itu membuatnya percaya diri tanpa harus meninggalkan kewajiban menutup aurat. Indah dilihat. Padahal si ibu muda itu rempong dengan dua balitanya yang riuh. Aku tersenyum. Sekaligus malu.

Saat krucilku masih balita, dengan dalih rempong dan ribet, aku ogah pakai jilbab model itu. Terlebih, akunya merasa gak pede dan gak nyaman. Ada yang mengganjal perasaanku waktu itu. Entah apa.

Sekarang, ada perubahan dalam hatiku. Ingin sekali mengubah penampilan (plus belajar berbicara yang santun *uhuk*) seperti Peggy. Oh, ketika bertemu Teh Ninih pertama kali di tahun 2002 sih sebenernya mulai jatuh cinta dengan penampilan seperti itu. Tapi akunya denial terus. Akunya defensif terus.😦 Lagipun, aku gak suka warna kalem. Aku lebih memilih yang terang benderang. Lebih pede aja gitu😛 Satu lagi, brosnya jangan bunga. (ini tomboynya gak ilang juga)

Teko hanya mengeluarkan isi teko? Yah! Jika dulu aku membuat tak nyaman banyak orang karena sikapku yang rebel, stubborn, dan keras hati, rasanya sudah cukup petualanganku di dunia gelap itu. Rasanya… Entah. Prosesnya tak mudah. Yah, bingung deh aku jelasinnya.

Jadi ingat, dulu aku menulis di blog dengan tingkat emosi yang berada di level seuhah (pedas, sunda.) Bawaannya mau marah dan menangis tak karuan. 10 tahun kedua dalam kehidupanku benar-benar seperti petasan dan kembang api. Meledak penuh warna tapi berpotensi menyakiti orang.

Saat ini, bukan lagi waktu yang pantas bagiku untuk berperilaku seperti remaja labil. Saatnya berubah! *masih zamannya Ksatria Baja Hitam gak sih?*😆

An, kenapa gak dari sekarang aja sih pakai jilbab seperti Peggy? Pertama, klasik. Aku gak ada modal untuk berubah drastis begitu. Mahal kan gamis dan jilbab kayak gitu? Kedua, aku merasa belum pas waktunya. Aku ingin penampilanku yang baru ketika suasana hatiku sudah benar-benar siap. Ketiga, ini alasan paling pribadi, jadi tidak ditulis yah🙂

Aku ingin jadi mualaf. Maksudnya, aku ingin benar-benar belajar lagi dari awal. Sangat awal. Apa itu syahadat. Apa itu rukun iman dan rukun islam. Siapa Allah dan siapa Rasulullah. Bagaimana tata cara shalat. Bagaimana berpuasa. Belajar mengaji dari pengenalan huruf hijaiyah lagi. Semuanya serba dari nol. Saat aku curhat tentang hal ini kepada Abang, dia hanya bereaksi dengan diam. Entah apa yang dipikirkannya. Aku konyol?

Aku ingin kembali pada-Nya dalam keadaan sama seperti ketika aku dilahirkan. Mengapa rasanya hampir mustahil ya? Entah.

4 thoughts on “Mengosongkan Isi Teko dan Membiarkannya Terisi Kembali”

  1. Mau sharing cerita saya ya. Awal saya berhijab (lumayan) lebar karena ada aturan kantor. Kepaksa banget di awal. Tapi, Alhamdulillah, karena support keluarga dan teman, saya malah doyan berhijab gede. Pakai gamis atau rok. Aturan Islam itu indah dan memudahkan ya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s