Haters Will Always Hate, No Matter What

Temanku membagi profil seorang penulis di media sosialnya dan aku tersenyum saja. Kemudian, ada yang ikut berkomentar seperti ini:

“Tulisannya pasti oke lah, wong penulis profesional. Apalagi kalau udah menulis tentang kejelekan orang lain, jago banget. Yang baca jadi terbuai dan mengiyakan tanpa sadar.”

Aku malas membalasnya, karena dia tak mungkin mau menerima argumen orang lain🙂 Jadi, mendingan nulisnya di sini sekalian😛

Kebanyakan dari kita, pasti ada sisi negatif untuk tidak menyukai seseorang. Entah sifatnya, karakternya, ucapannya, tindakannya, wajahnya, fisiknya, pemikirannya, atau apa saja. Selalu ada celah untuk mencari kesalahan orang lain. Benar? Hayo ngaku! *nunduk*

Sebenarnya, kita bisa kalau kita mau, untuk meminimalkan kebencian kita dengan mengedepankan kesukaan terhadap kelebihannya. Misalnya saja, kita gak suka dengan sikap seorang ibu pemilik warteg yang judes, tapi masakannya endang bambang. Pilihan kita adalah: membicarakan kejudesan si ibu dan mengajak orang lain untuk gak makan di sana, menutupi kejudesan si ibu dengan bicara, “Ibu mungkin lelah karena memasak dan melayani pembeli, jadi kalo dijutekin, senyum aja ya?”, atau mempromosikan masakannya yang enak dan sesekali deh bantuin si ibu untuk cuci piring. Berpahala kan? Hehehehe…

Kita, terkadang mengetahui tentang seseorang hanya selintas kata orang lain yang kita juga tak mengenalnya😀 Kalau kita mendengar gosip tentang si A dari teman kita, kredibilitasnya bisa dipastikan 50% akurat, sisanya sebisa mungkin dibuktikan sendiri. Tetapi kalau ada gosip dan kita mendengarnya dari orang lain yang berkata, “Gue juga kata si B”. Sementara kita gak kenal B itu siapa. Lah?😛

Untuk gosip atau ghibah seputar artis sih aku cenderung gak peduli. Kenal juga gak dan itu malah membuat amalan kita menguap satu per satu. Tahan, An, tahaaaaaannn…

not everyone
begitulah yang sebenarnya. kita gak sadar kan?

Media, berperan sangat besar untuk memutarbalikkan fakta, seperti yang pernah kutulis juga (lupa di mana) jika banyak pelacur media yang menghalalkan segala cara untuk menaikkan rating, terlepas berita itu benar atau hoax.

Nah, kalau misal kita sering membaca twit atau status seseorang di media sosial, secara langsung pun kita akan menilainya sesuai apa yang kita baca. Sadar atau tidak. Betul kan?😀

Ketika kita membenci seseorang, apapun yang dilakukannya akan bernilai minus di mata kita. Sebaliknya ketika kita menyukai seseorang, segala tindakannya adalah benar dan tak ada cela. Benar? Terkadang, akal sehat kita mati suri karena perasaan yang meluap membuncah saking cintanya atau saking bencinya. Benar? Iyain aja biar cepetan😛

Seperti komen yang ada di awal tulisan ini, aku yakin dia gak kenal dengan si penulis dan pendapatnya murni sebatas karena dia dan si penulis berbeda cara pandang dan pemikiran. Betul? Dan dengan sok tahunya, dia berpendapat bahwa orang lain yang sedang digosipkan itu salah. Sehingga aku membayangkan ketika dia menuliskan tentang seseorang yang dipujanya, siapapun dia, pasti penuh dengan kalimat sanjungan yang over lebay😛 *tuduhan keji lu, An!*😆

Yaudah, inti postingan ini bukan isi komentar di atas sih, tapi bagaimana kita menyikapi perbedaan yang terjadi tepat di depan mata, dilakukan oleh seseorang atau sekelompok yang -menurut kita- salah. Manusia memang tempatnya salah, kan?

Selamat menikmati indahnya perbedaan. Jangan terlalu membenci. Pun, sewajarnyalah dalam mencinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s