Hanya Butuh Sedikit Keberanian

Sambil mendengarkan “Bitter Sweet Symphony” dari The Verve, sejenak aku mengembalikan ingatan ke tanggal 11 Agustus.

Perbincangan selama kurang lebih tiga jam dalam lima jam kebersamaan itu meninggalkan rasa kehilangan yang teramat sangat. Rasanya sama seperti ketika aku melepas Ken. Hampa tanpa ada sedikit pun kenangan yang layak untuk disimpan lebih lama. 

Perlahan, ketika kami berbicara, sesekali tertawa, aku mencabut serpihan kenangan yang selama ini kusimpan dalam hati dengan baik dan sekuat tenaga kupertahankan demi mendapat sebuah kenyataan yang baik.

Dirinya masih terjebak dengan dunianya sendiri. Seorang lelaki yang belajar dewasa namun tak bisa berbuat banyak karena seorang perempuan yang saat ini menjadi tambatan hatinya terlalu menguasai pikiran dan tindak tanduknya. Sehingga, aku berpikir, mungkin memang dia harus menelan sebuah kenyataan pahit terlebih dahulu sebelum akhirnya menyadari bahwa apa yang pernah kuperingatkan padanya adalah benar.

Selama dua tahun kebersamaan mereka, si perempuan lah yang mendominasi hubungan mereka. Dia hanya diam, menurut, dan tak punya pendapat apapun. Aku, saat bertemu dengannya dan mencoba membuka karakternya, cukup sukses untuk terpana. Dia sebenarnya bisa menentukan sikap. Namun karena posisinya sebagai anak bungsu yang sering dimanja membuatnya hanya bisa menerima yang menurutnya benar dan pasti membelanya. Padahal, sudah terlalu sering si perempuan menyakitinya. Ah, cinta memang selalu membutakan ya?

two people

Kemudian aku mendengar lagu “Sweetheart (Qing Ai Bao Bei) 親爱宝贝” dari Aaron Kuo Fu Cheng (郭富城) yang melemparku ke masa tahun 1990an. Aku pernah sama naifnya dengan dia tentang cinta. Tetapi itu ketika aku masih SMP. Jika selepas SMA dan di usia kuliah masih juga naif kok rasanya aneh. Atau aku yang terlalu kolot?

Aku tertawa kecil ketika tak sengaja melihat isi SMS yang dia kirimkan kepada si perempuan. “Bunda, sedang apa? Sudah makan?” Oh, oh, oh… Jika masa sebelum menikah saling menyebut Bunda dan Ayah, bagaimana bila sudah menikah? Lantas, jika akhirnya tak jadi menikah, masihkah selembut itu panggilannya?😀

Tak berhasil menjadi kakak yang baik untuknya, aku memutuskan untuk menjauh dan hanya memerhatikannya dari kejauhan. Suatu saat, dia akan mengadu kepadaku dan menangis. Saat itulah, kedewasaan yang sesungguhnya akan membentuknya menjadi lebih baik.

Aku menunggu saat itu. Ketika waktu menyadarkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s