Sepotong Episode Masa Lalu yang Terbuka Kembali

Sebuah fragmen yang menurutku sayang untuk dilewatkan. Lumayan untuk melatih menulis fiksi lagi.😀

—————–

almost-holding-hands

Tanggal 5 Juni hampir tengah malam jelang tanggal 6. Tak bisa tidur. Sesuatu mengusikku.

Berbalas pesan dengan seorang gadis manis. Aku menyukainya. Sayangnya, dia sudah memiliki kekasih selama dua tahun terakhir ini. Aku menelan ludah ketika mengetahuinya. Aku mengenalnya di suatu malam ketika aku menemui sahabatku. “Hendra, kenalin ini Alya. Dia manajer toko gue. Kepercayaan bini gue. Lu ntar anterin dia pulang ya. Rumahnya di Cibubur. Deket lah dari rumah lu,” ujar Nara sambil sibuk menyalakan mesin mobil Pajeronya.

“Rumah kakak gue kali. Rumah gue di Pluit,” ralatku sebal.

Empat bulan lalu berlalu. Aku dan Alya semakin sering berbalas pesan melalui BBM, Whatsapp, Line, dan SMS. Sesekali via Skype. Kami berceloteh tentang pekerjaanya, keluarganya, dan anak-anakku. Oh ya, intermezzo saja, aku duda dengan tiga anak perempuan. Ibu mereka wafat ketika melahirkan si bungsu. Sudah lima tahun dan aku masih betah sendirian. Tak pernah berkencan. Entah, tak ada peduliku. Fokus membesarkan ketiga bidadari mungil menyita waktu.

Kini, seorang Alya mengalihkan perhatianku. Padahal aku sadar, dia sudah punya kekasih dan aku pun tak pernah berkata apapun. Menahan rasa sendiri. Pria macam apa aku ini? Toh Alya bukan istri orang. Nara pun sepertinya curiga dengan tingkal tengilku saat celingukan mencari Alya di toko. Ah, sial! Tetapi siapalah aku ini?

Empat bulan berteman, baru tiga kali bertemu dan itu pun selalu dengan ketiga anakku. Alya nampaknya menyukai saat bersama Zahra, Hana, dan Fitri. Terkadang ada harapan betapa ingin Alya menjadi ib… Ah, sudahlah!

“Ayah, kapan aku ketemu Tante Alya lagi?” tanya Hana sambil menggambar pada suatu sore. Padahal baru dua hari sebelumnya bertemu. Ternyata Alya sudah merampok hati anak-anakku juga. Aku hanya mengangkat bahu dan memainkan mata. Hana cemberut.

Aku menghubungi Alya di tengah malam, saat dia baru pulang kuliah malam. “Lagi sibuk?” tanyaku basa basi. Aku membiasakan diri bertanya sesopan mungkin. Kikuk. sudah lama rasanya tak sekaku ini.

“Nggak kok, Mas. Biasa, baru beresin diktat. Apa kabar Charlie’s Angels?” Alya balik bertanya dengan emoticon kedipan. Aku tersenyum.

“Baik, Alya sayang,” jawabku. Aku terbiasa memanggil semua teman perempuanku dengan kata ‘sayang’ atau ‘cinta’ tanpa ada perasaan apapun. Salah ya? Makanya Nara selalu protes karena aku dianggap memberi harapan palsu pada para wanita itu. Ah, kurasa tidak. Sungguh. Rasanya tak ada yang salah. Yah, ini egois lelakiku.

“Mas, maaf ya besok aku nggak bisa ke Pluit karena ada perlu di tempat lain.”

“Iya, nggak masalah. Sudah ada Nara yang mau bantu aku. Dia sekalian mau ngenalin aku ke wanita lain lagi. Parah tuh bos kamu!”

“Hehehe, nggak apa-apa dong, Mas? Kalau jodoh nggak akan ke mana-mana, kan?”

“Ah, rasanya nggak ada wanita yang mau denganku, Al. Mungkin karena aku duda dengan tiga anak. Mereka maunya terima aku tanpa anak. Beberapa kali aku melihat sinyal seperti itu dari mereka.”

“Gitu ya? Oke deh.”

“Lho, kok tanggapannya begitu? Ngambek?”

“Nggak ada alasan buatku ngambek, Mas. Semoga yang terbaik buat kamu, Mas. Tetap ikhtiar. Semangat dong, ah!”

“Aku sudah berhenti berikhtiar, Al. Capek. Usiaku sudah mendekati empat puluh dua bulan lagi. Malas bermain-main. Semoga kamu dan Toni cepat menikah. Aku gak suka Toni sebenarnya. Posesif seperti itu. Tapi kan dia pilihanmu. Jangan kelamaan pacaran deh. Nggak bagus.”

“Aaamiinn… Terima kasih, Mas. Nggak ada yang mustahil lho.”

Aku membaca tulisan Alya dengan nanar. Dia masih berhubungan dengan Toni. Kupikir sudah putus. (yeh, maunya!)

Ini yang membuatku tak ingin membuka hati pada wanita mana pun. Mengapa Tuhan selalu mempertemukan aku dengan wanita yang salah? Istri orang, tunangan orang, atau gebetan orang. Kalau pun jomblo, saat berkenalan dengan anak-anak, sikapnya tak menyenangkan. Lagi pun, bila bertemu wanita yang baru (lagi), aku harus melihat reaksi anak-anak. Hana lah yang paling vokal untuk urusan ini. Biasanya, setelah makan malam, dia paling bawel. “Tante A judes ya?” “Tante B banyak ketawa.” “Tante C nggak bisa lepas dari rokok tuh?”

Aku enggan meneruskan chit chat dengan Alya. Selain aku lelah luar biasa karena running meeting sebanyak lima kali, pagi nanti aku harus ke Tangerang. Sepertinya Alya pun kelelahan.

Aku mengaktifkan ponsel dalam posisi diam. Sepertinya aku harus meredam lagi sesuatu yang awalnya hendak kucoba buka.

Lagu Azalia dari EdCoustic mengalun lembut mengentak perasaanku.

Meski saja ada rintang

Benang-benang yang memisahkan

Hatiku tak pernah goyah

Karena kaulah orang yang kucinta

Lagu yang sejatinya ingin kupersembahkan pada Alya dalam lamunanku. Persis sesuai namanya: Alya Rahma Azalia. Cantik. Sesuai orangnya. Putih berkaca mata dengan jilbab yang selalu berwarna hijau bila bertemu. Apakah aku harus nekat menemui papanya? Sudah gilakah aku? Beginikah rasanya jatuh cinta lagi? Aku meraba dadaku sendiri. Bergemuruh.

Kutatap wajah Zahra, Hana, dan Fitri bergantian. Fitri tak pernah merasakan kasih seorang ibu, meski Flora adikku selalu hadir untuknya. Dulu aku menikahi Sofia dengan impian akan bisa melihat anak-anak kami tumbuh besar dan menikmati masa tua berdua. Tuhan tak mengizinkan. Aku meradang. Sofia cinta terakhirku setelah aku berkelana dengan banyak wanita di masa mudaku. Aku memutuskan untuk menutup hati selamanya.

Hingga Alya muncul.

Aku keluar dari kamar anak-anak dan menyesap kopi hingga tandas. Kumatikan laptop. Beranjak ke balkon dan baru kusadar ternyata gerimis. Aku menghela napas dan menyisir pandangan ke halaman hingga jalan. Sekelebat bayangan Alya hadir dan aku merasa harus mematikan semua benih rasa yang mulai telanjur tumbuh. Aku tak mau merusak hubungan Alya dan Toni. Aku tak mau mengecewakan anak-anak terutama Hana.

Kurebahkan tubuh letihku dengan balkon terbuka. Membiarkan dinginnya udara menusuk tulangku dan membekukan semua ruang hati. Aku mulai terlelap. Menutup pintu hati dengan rapat. Kali ini, selamanya.

I only wanna be the man
to give you everything I can
every day and every night
love you for all my life.
I don’t wanna change the world
as long as you’re my girl
it’s more than enough,
just to be the man you love.

(The Man You Love – Il Divo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s