Catatan Akhir Menjelang Pilpres 2014

Entah aku harus menulis dengan judul apa. Hari ini tanggal 8 Juli. Menjelang pemilu untuk memilih presiden Indonesia selanjutnya besok tanggal 9 Juli. Banyak catatan menarik yang tersimpan rapi di hati, pikiran, media sosial, dan catatan pribadi dalam bentuk files di laptop.

Baru pada pemilu presiden kali ini, di tahun 2014, hampir seluruh rakyat Indonesia bersemangat. Menyenangkan melihat kenyataan ini. Perubahan yang condong lebih baik, inshaa Allah ๐Ÿ™‚ Karena yang aku tahu, banyak dari golongan putih (golputers, begitu istilahnya?) akhirnya memutuskan untuk memilih. Banyak pernyataan sikap di media sosial yang dengan lantang disuarakan, “Saya tidak jadi golput tahun ini! Saya sudah memilih!” “Gue kagak bakalan golput lagi! Nasib bangsa dipertaruhkan.” Atau apalah. Semangat yang patut diapresiasi ๐Ÿ˜‰ pilpres sunda Prabowo dan Jokowi membuat Indonesia bergairah, semangat, dan optimis. Tetapi sekaligus mencuatkan rasa takut, pesimis, apatis, dan curiga secara bersamaan. Tak ada yang salah. Semua adalah reaksi wajar. Apakah yang dialami Indonesia sejak pengumuman pasangan capres-cawapres berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari? Kalau dari kacamataku, sangat. Pengaruh itu begitu kentara. Kawan jadi lawan dan sebaliknya. Berkaitan dengan ini, aku mengutip status FB sahabatku, Vei:

“Selain berefek unfriend/unfollow, bahasan copras-capres juga merekatkan jalinan pertemanan mereka yang sekubu pilihannya. Jadi lebih sering like/comment. Moga langgeng sampai kakek-nenek, yaaa…”

Benar adanya. Mungkin terlihat sepele. Ya bagi yang tak mengalaminya. Tetapi aku ternyata termasuk salah satu yang berimbas dari perbedaan pilihan itu. Bagiku sih gak lucu aja hanya gegara pilpres yang hanya berusia 5 tahun (10 tahun kalau menang di tahun pilihan berikutnya) bisa merusak pertemanan yang sudah lebih lama terjalin. Tetapi itulah hidup. Dan inilah pemilu paling ramai di Indonesia (oh thank to digital technology) yang riuhnya melebihi pasar malam. Aku perhatikan, dalam dunia nyata, pemilu presiden kali ini sebenarnya tidaklah seramai di dunia maya.

Sensitivitas ternyata lebih berpengaruh pada dunia maya.Kecepatan informasi yang diterima oleh penikmat dan pegiat media sosial membuat mereka (dan terkadang aku juga) menjadi nyaris tak sempat memilih dan memilah mana berita yang asli dan mana yang sudah direkayasa. Tetapi begitu sebuah berita dinyatakan palsu / rekayasa, ramai-ramai membuat pernyataan tudingan, balasan, atau apalah namanya. Klarifikasi seolah tak cukup hanya dari satu sumber. Bermunculan lah banyak pendapat yang disertai kutipan, sumber berita di tahun jebot, bahkan akhirnya yang ditambahkan dengan ayat suci (entah Quran, Injil, atau lainnya).

Aku termasuk yang sudah terbiasa dengan aneka berita rekayasa dan semakin mudah membedakannya. Tetapi, bagi seorang tipe perusuh seperti aku, meramaikan kedua pihak sangatlah menyenangkan. Mendapat tanggapan bahwa aku berisik atau menjijikkan itu sering ๐Ÿ˜› Aku berhenti? Gak akan ๐Ÿ˜† Aku sebenarnya mengajak mereka yang cenderung apatis itu untuk berpendapat. HEY! Janganlah tidak peduli pada kehidupan di luar diri kalian. Wake up! Roda hidup berputar. Jika ada suatu berita yang positif, berdoalah agar kita terciprat bahagianya. Misal indeks saham menguat atau batik diakui dunia sebagai warisan budaya asli Indonesia. Nah, jika ada yang negatif seperti kasus Freeport atau reklamasi Benoa, ya jangan diam saja. Berbuatlah sesuatu. MINIMAL: Berdoa! “Emangnya berdoa bisa mengubah keadaan, An?” Itu pertanyaan yang tak memerlukan jawaban, darling!

Ketika kita memilih untuk mendukung salah satu capres, tentu disertai doa dan harapan, ya? Berharap lebih baik. Berharap hal-hal buruk tak terulang di negara ini. Terselip ketakutan? Wajar. Tetapi ketakutan sebenarnya hanya ada dalam pikiran kita. Semakin kuat ketakutan itu, maka konspirasi alam untuk mewujudkannya pun semakin besar. Well, ini analisa sotoy, jangan dipercaya. Kamu hanya wajib percaya pada Allah ๐Ÿ˜‰

Satu yang menarik bagiku pada pemilu kali ini adalah dua kubu yang secara kasat mata didukung oleh dua elemen berbeda (ini laporan pandangan mataku, jangan dipercaya juga ๐Ÿ˜€ ): kubu yang didukung oleh para kyai + ulama dan kubu yang didukung oleh para kaum intelek. Sila abaikan bagian ini ๐Ÿ™‚

Untuk teman-teman yang berada di pihak pasif, terima kasih untuk tidak menilai kami yang ramai berkampanye ini sebagai orang yang kurang kerjaan. Karena kita menjalani bagian masing-masing. “Gue gak mau ikut-ikutan ngotorin timeline dengan teriak dukung #1 atau #2.” Mohon maaf apabila selama lebih dari tiga bulan ini, beranda kalian tampak kotor berlumpur. Bila tak suka, cukup sembunyikan atau mute untuk sementara waktu ๐Ÿ˜‰ Banyak alasan dari kami mengapa merasa ‘harus’ (iya sih ini mah bagian sotoynya) bersuara dan menyuarakan. “Ya kan semua orang punya hak memilih satu atau dua. Ngapain lu mesti reseh menggiring opini sih, An?” Maaf, kalau bagian menggiring opini sih bukan aku. Itu tim sukses kedua capres saja ๐Ÿ˜€ Bagianku adalah meramaikan. Kalau ada yang merasa semakin bingung, ini saat yang tepat untuk mengikuti kata hati dan nalar. Di antara serbuan foto dan berita bohong dan rekayasa, Allah menyelipkan sebuah fakta. Masalahnya, kalian mau gak menerima kenyataan itu? Sederhana. ย Kalau sudah cinta, (maaph) tai kambing juga bisa dibilang cokelat. Betul kan? Itu humor jadul yang selalu relevan di setiap peristiwa.

Banyak sekali black campaign yang terjadi selama masa pemilu presiden kali ini. Ramadan adalah saat yang tepat untuk berjuang meredam emosi. Bagi mereka yang bertaqwa tentu akan dengan tenang menyikapi setiap hal yang belum jelas kebenarannya. Apalagi jika langsung bersinggungan dengan agama. Skenario Allah maha sempurna. Tak ada satu makhluk pun bisa mengubahnya, meski mengerahkan seluruh kemampuan alam raya.

Jika tak sanggup melawan kebathilan dengan tenaga, suara, dan pikiranmu, mari berdoa. Karena kita punya Allah ๐Ÿ™‚ Jika tak ada bahu untuk bersandar, masih ada lantai untuk bersujud. Minta pada Allah, tunjukkan mana yang haq dan mana yang bathil. IQRA. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Mendekatlah pada Tuhan. Semua orang yang mendadak shalih saja diperhatikan-Nya, masa kamu yang setiap saat berserah diri pada-Nya tak diberi petunjuk? Iya kan? Iya aja deh biar cepet yes? ๐Ÿ˜›

“Wa makaruu wa makaraLlah, waLlahu khairul maakiriin.”

Mereka memiliki rekayasa, dan Allah-pun memiliki rekayasa, sesungguhnya rekayasa Allah-lah yang lebih hebat…

Mari perbanyak doa Nabi Ibrahim, “Robbij’al hadza baladan aaminan.” Ya Allah, jadikanlah negeri ini yang aman.

Mari berdoa untuk Indonesia yang lebih baik. Siapa pun yang dipilih rakyat, sudah menjadi kehendak Allah jauh sebelum hasilnya diketahui.

Eratkan kembali tali silaturrahim yang terputus gegara perbedaan pilihan capres kali ini. Bagi sesiapa yang tak suka dengan pilihan saudaranya, pastilah ada sisi lain dari mereka yang kausukai. Rezeki Allah ada pada silaturrahim yang senantiasa terjaga ๐Ÿ˜‰ inshaa Allah ๐Ÿ™‚

Just do your best and let Allah does the rest.

 

——————————–

Sekadar pesan sponsor sebelum menentukan pilihan ๐Ÿ˜‰

By Piprim Basarah Yanuarso
Bahan pertimbangan lain:

Di sini Prabowo di sana Jokowi, bandingkan mana yang lebih bermanfaat dunia akhirat:

Di sini Aa Gym, di sana Jalaludin Rahmat dedengkot Syiah.

Di sini Arifin Ilham, di sana Musdah Mulia pengkritik Alquran, penganjur nikah sejenis.

Di sini Yusuf Mansur, di sana Zuhairi Misrawi: salat 5 waktu tidak wajib,

Di sini Amien Rais, di sana Quraisy Shihab: jilbab tidak wajib.

Di sini Prof. Arif Rahman, di sana Prof. Syafii Maarif tokoh liberal.

Di sini K.H. Maimun Zubair, di sana Alwi Shihab: semua agama benar.

Di sini Ridwan Kamil, di sana Rieke Dyah Pitaloka yang akan menghapus TAP MPRS no XXV th 1966 ttg larangan thd PKI.

“Al Arwaahu Junuudun Mujannadah,โ€
(Sesungguhnya jiwa-jiwa itu akan berkomunitas dengan orang yang setipe dengannya)

Mana yang lebih kecil mafsadatnya?

Semoga Allaah ๏ทป memberikan petunjuk kepada kita semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s