Perubahan Sepanjang Ajang Pilpres RI 2014

Aku gak akan mengambil data, statistik, grafik atau apalah namanya seputar postingan kali ini. Subyektif. Ini blog santai, jadi nikmati saja tulisannya😉

gambar: depoknews
gambar: depoknews

Sejak tahun 1998, perubahan iklim politik Indonesia mengalami badai, pasang surut, dan guncangan berkali-kali. Tetapi seluruh rakyatnya tetap bertahan. Sesakit apapun hidup dengan berganti-ganti presiden, dijalani dengan kondisi masing-masing.

Secara tidak sadar, rakyat Indonesia itu sebenarnya kuat lahir batin lho. Ini sih pengamatanku sendiri sejak tahun 1998. Hidupku tak lagi sama. Berakhirnya pemandangan di dinding (yang tadinya hanya Soeharto sejak aku lahir) yang membosankan, hingga berganti foto yang dipajang di setiap instansi pemerintah, sekolah, atau mana pun. Itu baru soal foto.

Aku nyaris tak peduli berapa rupiah satu dolarnya setiap hari. Bergerak menguat atau melemah, aku hampir tak ambil pusing. Sulit membeli beras? Aku merasakannya. Berutang untuk sembako? Sering. Tetapi hidup terus berlanjut. Drama di luar sana silih berganti terungkap: ibu tega membunuh anak, ayah menjual anak, nenek membuang cucu, atau anak membunuh orangtua. Perampokan dan pencurian pun tak sunyi dari pemberitaan. Meski sebenarnya ini masalah yang klasik bahkan sejak bertahun ke belakang. Ekonomi. Terbelit utang. Terdesak kebutuhan darurat. Entah apa lagi. Sebenarnya, kalau mau bertahan dan mencari solusinya serta tentu saja berserah diri pada Allah, gak ada yang namanya pencurian dan pembunuhan. Tetapi itulah iman. Kadang naik dan kadang turun. Nah, apes deh kalau sampai pas turun, pas tak ada yang menguatkan di dekat kita. Dunia serasa memusuhi kita. Hancur? Mungkin. Dan itu bahaya.

Oke, bahas yang lain deh. Misal tentang berkembangnya teknologi yang masuk ke Indonesia dan membuat aku merasa gagap. Kelabakan. Kaget. Jujur, meski aku sempat mengenyam pendidikan kuliahan, tetapi masifnya perubahan serba komputerisasi tak urung membuatku terpana. Apakah benar Indonesia sudah siap untuk hal ini? Oh, sebagian memang siap. Lantas bagaimana yang ada di pelosok negeri?  Yang bahkan listrik pun tak sampai? Air bersih susah. Akses ke fasilitas umum seperti kesehatan dan pendidikan amatlah sulit. Aku ada di tengah. Tak terlalu paham soal teknologi, tetap hidup di tengah lingkungan yang sangat akrab dengan dunia digital.

Maka inilah yang terjadi akibat serbuan teknologi itu: hidup semakin mudah untuk sebagian orang, tetapi justru semakin menyebalkan untuk orang lain. Media sosial sebenarnya memudahkan kita bertukar informasi dalam hitungan detik (apalagi melalui Twitter) karena orang yang membutuhkannya akan sangat berterima kasih untuk itu. “Thanks to Google” adalah hal yang umum saat ini. Tetapi… Justru di sisi lain membuat orang semakin malas. “Buat apa antri kalau bisa selesai dari ponsel Anda?” Ini salah satunya.

Berkat teknologi, apa yang dilakukan oleh pemerintah kita semakin bisa diikuti dengan baik. Bahkan yang buruk sekali pun akan mudah ditelusuri. Nyaris, dengan teknologi, tak ada yang bisa disembunyikan oleh kita. Akun Twitter digembok? Status FB dibatasi? Nomer ponsel hanya 100 orang yang tahu? Tiba saat ketika kita menemukan rahasia sudah terbongkar secepat kilat dan terlambat untuk dihapus. Sekali kita meletakkannya di ranah digital, selamanya terekam dengan baik.

Tetapi… Bagaimana dengan kebebasan pers? Dulu, media cetak, radio, dan televisi sangat dibatasi, diawasi, tak sedikit yang dicekal, dan berbagai aturan lainnya. Meski demikian, kesopanan dalam lingkup pers, sependek pengetahuanku, tetap terjaga. Jika ada masalah tentang seorang terpidana kriminal, namanya pasti diubah jadi inisial ABC atau XYZ (eh ini sih kodenya City Hunter ya?😆 ) Beda dengan sekarang. Baru tersangka saja sudah nama lengkap yang ditulis. Fotonya tidak dikaburkan melainkan dipajang terang-terangan. Tak ada lagi ruang pribadi.

Pers harusnya netral. Tetapi ketika sang pemilik media memiliki kepentingan lebih besar dari sekadar berita yang naik cetak atau dipublikasikan, maka berlomba semua menjadi pelacur. Menjajakan diri, bersolek agar diminati, dan akhirnya dipuja karena beritanya sesuai dengan keinginan (meski jauh dari kenyataan).

Apa jadinya jika Twitter dan Facebook sudah ada sejak Soeharto berkuasa? Ibu Tien bermain Instagram juga kah? Bagaimana media memberitakan kebijakan pemerintah? Akankah setiap katanya diedit sedemikian rupa? Entah, kita hanya bisa berandai-andai. Saat ini, presiden (seperti Obama dan SBY) pun punya akun Twitter demi mendekatkan diri pada rakyat. Whatever. Satu usaha yang baik. Meski mungkin aku bukanlah warga negara yang baik selama SBY menjabat dan memiliki Twitter, aku gak follow. *digaplok* Memantau sih iya. *halah*

Siapa pun yang dekat dengan pemerintah, mempunyai akses untuk berbincang dan berinteraksi dengan legislatif, yudikatif, dan eksekutif, pun memiliki peluang membagikan “rahasianya” ke media sosial. Tak ingin disebut hoax, maka foto selfie pun bertebaran. Yah, itu salah satu bentuk pengumuman di masa sekarang. Kalau dulu, hanya ada dua pilihan: percaya atau sangsi. Dulu, foto diedit mungkin masih akan terlihat jejaknya. Sekarang, penyuntingan dengan photoshop sangatlah mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Hasilnya, foto hoax pun terasa nyata.

Sejak pergantian presiden dari Soeharto kepada Habibie, kepada Mega, dan lanjut kepada SBY, aku hanya tak memilih pada masa Mega. Aku merasa apatis ketika pemilu itu berlangsung. Kekecewaanku dengan pemerintahan Mega tak bisa diaspirasikan. Hanya bisa menelan ludah. Di lima tahun pertama SBY, aku memilih beliau karena faktor militernya. Di lima tahun kedua, aku justru memilih JK karena faktor bosan *ditimpuk* meski berat dengan sosok Wiranto. Syukurlah JK kalah. Terbayang jika Wiranto ikut andil dalam pemerintahan. Aku kecut sekali. Sebenarnya pemerintahan SBY gak jelek-jelek amat… Yeah, di beberapa celah sih emang kacrut.😛

Sejak tahun 1998 hingga 2009, setiap kali pemilihan presiden, keriuhan itu hanya ada di warung kopi, teras rumah, atau media cetak / televisi / radio dengan persepsi dan harapan yang bisa dikatakan terbatas. Setelah era media sosial meluas, ternyata berpengaruh pada pola perilaku pengguna media tersebut.

Pengaruhnya ternyata bisa membuat perangai seseorang berubah drastis. Entah mengapa. Ini kurasakan sejak aku menggunakan Friendster di era 2005. Membicarakah capres hanya sebatas, “Lu dukung siapa?” Selesai. Tetap tertawa cekikikan, tetap asyik membincangkan para kandidat tanpa adu debat apalagi adu jotos. Tahun 2009, saat SBY kembali dicalonkan, di media sosial hanya meributkan kemungkinan terpilihnya kembali dia dan mengalahkan wakilnya sendiri. Selesai. Twitter masih sangat sepi. Facebook hanya menampilkan foto keluarga dan resep masakan. Path, Instagram, Pinterest, LinkedIn atau apalah masih di awang-awang.

Semuanya terbuka sampai bablas di mulai di tahun 2014. Ketika pemilu seharusnya (eh, masih harus?) mengusung LANGSUNG, UMUM, BEBAS, dan RAHASIA kini berubah. Tak ada rahasia di antara kita. *tsaaaahhhh* “Oh, elu dukung Jokowi?” “Eh, ternyata lu timses Prabowo?” Hihihihi…

Yaaa, kalau sekadar pertanyaan sampai di situ, semua selesai. Tetapi ternyata tidak. Emosi, yang entah siapa pertama kali menyulutkannya, mendadak naik ke level maksimal ketika nama Prabowo mengemuka. “Ya Tuhan! Dia kan pembunuh! Dia otak tragedi 1998!” #dhuar! Di kubu tetangga lain lagi. Mengetahui Jokowi akan menjadi salah satu kandidat, maka… “Haduh, Jokowi katanya mau beresin Jakarta sampe tuntas. Kok nyapres?” Rame kan? Rame kan?

Tak ada yang salah. Sebenarnya sih, sama saja dengan pemilu terdahulu. Ada calon presiden dan calon wakil presiden. Ada kampanye. Ada pendukung. Ada timses. Ada program, visi, misi, dan tujuan. Lantas?

Yang salah itu pendukungnya. Ya di kubu Prabowo maupun Jokowi. Dengan keyakinan masing-masing, mengemukakan alasan mengapa harus nomer 1 dan mengapa harus nomer 2. Saling lempar data. Fakta atau hoax, mari buktikan bersama. Semua sama takutnya. Semua sama besar harapannya. Semua sama mimpinya. Tetapi, ternyata tak semuanya sama.

Tetiba saja wacana unfollow, unshare, unfriend, blocking, dan mute mengemuka dan kalimat yang keluar sama saja, “Ada tombol unfollow. Gunakan itu!” Awalnya kupikir itu candaan semata. Ketika aku menjadi korban unfriend, barulah aku mengerti bahwa pertemanan terkadang sebatas kalau-pendapat-kita-sama-maka-kamu-adalah-temanku😦

Awalnya aku diam tak menyuarakan siapa pilihanku karena aku sendiri butuh keyakinan dari Allah. Sungguh, sampai harus istikharah untuk hal yang hanya lima tahun ini. Setelah hati merasa mantap, aku mencari tahu kekuatan capres pilihanku dan mengapa aku tidak sreg dengan capres yang satunya? Aku bongkar link yang diberikan teman-teman di media sosial. Aku cari kelemahan capres pilihanku dan lawan politiknya. Semua aku bandingkan dan cukup untuk membuatku semakin yakin dan tak asal ikutan latah. Terlebih, aku yang merasa dhoif ini harus berpegangan pada ulama dan umara.

Di kedua kubu ada kelebihan dan kekurangan. Tapi betapa segala kengerian itu kubaca dengan mataku sendiri. Ancaman, kata-kata kasar, tuduhan, hujatan, caci maki bertebaran kuterima. Aku diam dan membalas dengan tulisan yang bisa membuat orang-orang itu diam. Boro-boro diam, yang ada sewot dan makin marah. Ya, aku bisa apa? Perbedaan itu biasa. Tetapi ternyata ada yang tak bisa terima dengan perbedaan yang kubawa. Ya… Gimana dong?

Perubahan ini membuatku sedih… Jujur, pemilu presiden ini membuka perangai semua orang yang kukenal. Secara tidak sadar, mereka menampakkan dirinya yang asli. Aku terperangah. Iya. Bagi orang yang mengenalku sih pasti paham kalau aku memang begini apa adanya sejak dulu kala *ngok*😀 Aku gak bisa diam. Aku memang perusuh di mana pun. Hanya yang mengerti aku yang langsung secara pribadi menegurku bila salah atau terlalu keras. Ya maaph.

Beberapa orang yang kukenal santun, menyenangkan, dan lembut, tetiba menulis kata yang tak layak baca. Asli sedih. Ada di kedua kubu capres. Aku hanya bisa diam. Sudahlah, kesehatanmu itu lhooo…

Begini, Lebaran kemungkinan hadir tanggal 28 Juli. So, bisakah kita kembali fitri? Bisakah melupakan segala kesal dan sakit hati akibat perbedaan capres pilihan? Pertemanan kita lebih lama dari masa kampanye. Presiden pilihan hanya bertahan 5 tahun atau 10 tahun bila terpilih kembali. Tetapi aku dan kamu berteman sudah lama. Begitu mudahnya merusak yang sudah terjalin? Begitu rapuhnya hubungan silaturrahim? Semoga, apa yang retak dapat direkatkan kembali setelah pilpres berlalu.

Aku menghormati kalian semua, apapun pilihan partai politiknya, apapun pilihan capresnya. Asal jangan pilih patjarku.

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s