Refleksi Diri Dari Sebuah Telaga

Saat menulis postingan ini, pikiranku kembali random dengan perasaan nyaris tanpa emosi. Datar. Ada sedikit serpihan nyeri dan kering, tetapi selebihnya tak terdeteksi. Tidak gamang, tidak galau, tidak gelisah. Hanya hampa dan tak ada kekuatan apapun untuk melawan atau menerimanya.

Mungkin Tuhan tak sedang mengajakmu becanda, tetapi kasih-Nya akan selalu membuatmu tersenyum dan tertawa.

Ada saat ketika Tuhan mengajakmu mendekat dengan cara-Nya yang paling kaubenci. Ujian kehilangan, misalnya. Mau marah, nangis, atau pasrah?

Tuhan hanya meminta untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu. Maka, bacalah dengan nama Tuhanmu. Ini pun belum tentu dipahami.

Ada kalanya, Tuhan mengulurkan tangan-Nya melalui orang yang tak kaukenal sama sekali, bukan yang selama ini kautemui di keseharian.

Aku menulis twit itu sudah tanpa emosi, tetapi pikiran melayang jauh entah ke mana. Aku baru menulis posting tentang Dunia yang Berubah Terlalu Cepat kemudian membaca postingan Alit tentang Bersosialisasi Itu Apa? sambil mesem karena merasa pas untuk melanjutkan menulis postingan ini.

Mungkin rada gak nyambung, tetapi biarlah. Aku bukan mekanik gerbong kereta api yang bisa menyambung gerbong eksekutif dan bisnis menjadi satu. Juga bukan presiden Indonesia yang (berusaha) bisa menyatukan puluhan ribu pulau dan akhirnya ada saja pulau yang lepas.

Jadi gini, beberapa hari lalu tetiba aku ingat bahwa aku suka membaca komen atau lebih tepatnya rutukan dan keluhan dari beberapa orang di media sosial yang jengkel karena…

“Tetiba aja ada inbox masuk dan ternyata temen lama gue. Taunya dia mau minjem duit. Dia pikir gue BPR apa ya?”

“Kemaren sodara gue nge-ping. Kirain ada penting apaan gitu. Cuman mau minjem duit. Mentang-mentang gue baru dapet honor.”

“Tadi malem pacarnya adek ipar gue SMS, minjem duit. Gak ada kerjaan lain apa?”

Bro, sis… Kalau emang gak mau meminjamkan, ya jangan diumbar juga kali ke status di beranda fesbuk. Atau pengumuman di Path. Atau ngedumel di Twitter. Can you imagine if that person is YOU? Hm? Aku gak akan menyalahkan karena bukan aku yang kalian tumpahkan kesalnya. Tetapi aku bisa merasakan bagaimana malu dan sedihnya orang yang dimaksud itu…

Sebelum menuduh macam-macam, cobalah sedikit aja membayangkan rasanya terjepit mendesak dan tetiba dia kepikiran kalian. Ya, tetiba aja kepikiran. Bukan karena sengaja mencari kontakmu. Ada kalanya, setelah kepikiran pun, dia tak langsung menghubungi atau bahkan urung karena terbayang bagaimana reaksimu. Tetapi baginya, dijawab dengan penolakan itu memastikan jawaban hingga dia bisa mencari solusi kepada yang lain. (ini berasa mau nembak gebetan gak sih?)

kepedulian era digital
kepedulian era digital

Kasus berbeda. Begini,

Para keluarga pra sejahtera di pelosok desa di pulau terpencil yang bahkan mungkin tak ada di peta Indonesia. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hariannya. Jauh dari perhatian pemerintah. Siapa yang sudi menolong? Para donatur di perkotaan, melalui lembaga-lembaga kemanusiaan, didistribusikan oleh para relawan.

Memangnya keluarga pra sejahtera, donatur, dan relawan itu saling kenal sebelumnya? Sudah bisa dipastikan, kemungkinan besar TIDAK. Tetapi sinergi itu menyatukan dan membuat mereka saling mengenal. Begitu pula dengan yang dilakukan relawan ke daerah konflik seperti Suriah dan Palestina, misalnya.

Ketika era kemajuan teknologi ini menyebabkan banyak orang menjadi sangat pemalas, akhirnya banyak lembaga yang menyediakan layanan “penjemputan bantuan / donasi”. Bantuan bisa disalurkan melalui transfer rekening tanpa harus antri ke ATM atau ke kantor cabang bank.

Atau yang satu ini, mungkin di satu sisi bermanfaat, di sisi lain nol besar.

Please RT, belum pulang sudah 3 hari, Nama XXX, alamat YYY, mohon hubungi ZZZ.” Ini jelas bisa kita sebarkan seluas-luasnya agar siapa pun yang melihat atau bertemu, bisa langsung menghubungi.

“Mohon bantuan sebar info, butuh golongan darah A di RS XX. Info lebih lanjut hubungi YY.” Hal semacam ini butuh kroscek dari kita kepada pihak PMI atau biasanya melalui akun @Blood4LifeID agar dibantu apakah permintaan bantuan ini benar atau hanya iseng.

satir yang menerjemahkan macam permintaan  'aneh' di FB
satir yang menerjemahkan macam permintaan ‘aneh’ di FB

Tetapi bagaimana bila kita melihat foto seseorang ada di rumah sakit dan seseorang membaginya di beranda fesbuk kita dengan kalimat akhir, “please share if you care.” Hanya dengan membaginya, lalu kita dianggap perhatian? Awalnya aku juga sering ikutan begitu. Tapi lama-lama mikir, apa iya aku udah bantu dan perhatian dengan cara seperti itu? Masa sih hanya dengan “like” sebuah gambar, kamu sudah dianggap membantu pasien itu? Logikanya ke mana?

Kemudian, kasus berbeda, berkaca dari pengalaman pribadi seseorang via japri, belum lama ini.

“An, bulan kemarin gue minta bantuan sama sodara, tapi gak dikasih. Alasannya panjang, bisa buat bikin paper kayaknya. Gue bingung. Trus, gue coba hubungi temen gue, jelasin masalahnya, tau-tau beneran dikirimin dana yang gue butuhin. Uniknya adalah gue belum pernah ketemuan sama temen gue itu. Selama ini bisnis gue ama dia hanya melalui e-mail, WhatsApp, atau DM Twitter. Segitu percayanya dia sama gue. Eh, kalo gue jahat trus nipu, gimana? Ahahaha… Sekarang sih udah lunas. Kemarenan itu mendesak banget karena tenggat. Gue kan kedodoran dan panik. Tuhan baek ya sama gue? Puji Tuhan.”

Aku chat dengan dia di BBM. Kebayang ekspresinya saat berbicara. Aku tersenyum. Dunia ini lucu. Ada benang merah tak terlihat antara kita dengan orang-orang baik di luar sana, yang sama sekali tak kita kenal. Tuhan menghubungkan kita semua, karena pada akhirnya, kita semua terhubung dalam lingkaran yang mudah-mudahan lebih sehat🙂

Ada beberapa sahabatku, dengan segala karakter mereka, begitu baik padaku. Kami belum pernah bertemu sama sekali. Dunia maya mempertemukan. Allah yang membuat skenarionya. Rapi. Indah. Sempurna. Belum waktunya bagiku untuk membalas semua kebaikan mereka. Waktunya akan tiba, sempurna dalam rencana-Nya yang entah kapan🙂

Aku melempar sebuah batu ke dalam telaga. Permukaannya yang tenang berubah menjadi beriak dan bergelombang. Kemudian, tak lama, aku melihatnya kembali tenang. Namun batunya tetap tinggal di dasar. Haruskah aku mengambil batu yang entah ada di sisi sebelah mana itu? Atau membiarkannya menjadi pelengkap di sana?

Entah. Sama membingungkannya dengan humor Tuhan yang kadang membuat kita emosi, tetapi akhirnya ikut tertawa bersama malaikat di sudut senja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s