Dunia yang Berubah Terlalu Cepat

Aku gak tau harus menulis bagaimana untuk menggambarkan kondisi saat aku hidup sekarang. Ini tentang dinamika kehidupan yang sudah diracuni oleh teknologi level paling mematikan. Menurutku. Iya, terserah kalau dianggap lebay.

Tak perlu berpindah ke masa 50 tahun lalu deh. Cukup 20 tahun lalu ketika Mama dan Bapakku masih ada di depanku dan kami berbincang seru. Pukul enam pagi, aku dan Mama masih sempat tertawa dan membahas PR sekolahku atau mengomentari berita di koran Republika atau Kompas. Lihat pukul enam saat ini? Terjebak macet, memaki lampu merah, sibuk membalas surat elektronik dan semua dilakukan di atas kendaraan. Bahkan mungkin tak sempat lagi menyapa anak-anak karena orangtua keburu melesat keluar rumah agar tidak terlambat ke kantor. Oh ya, aku pernah berada di posisi itu. Pukul lima subuh aku sudah ada di atas bus patas AC 102 jurusan Depok – Tanah Abang. Anakku masih tertidur lelap. Gila? Emang.

Mama pulang ke rumah pukul empat atau lima sore, dan lagi-lagi kami masih bisa tertawa, ngobrol, dan membahas apa saja. Bahkan, masih kuat untuk jalan-jalan sore naik becak di Cirebon. Pukul sembilan malam, semuanya istirahat. Atau, jika acara televisi ada yang bagus, bisa lanjut sampai tengah malam. Semuanya berjalan dengan alur yang menurutku lambat dan menyenangkan. Jarang sekali kami melihat ke arah jam tangan. Tak perlu buru-buru menghubungi seseorang lewat telepon atau merasa harus tahu bagaimana gosip artis A selanjutnya. Surga dunia.

Lihat kondisi masyarakat saat ini. Rasanya penting banget sampai harus PING orang lain jika ada berita heboh di dunia maya. Urusan benar atau tidak itu belakangan. Yang penting rusuhnya dulu. Setiap menit, cek jam tangan atau ponsel atau jam dinding. Semua media sosial dan instant messenger dinyalakan. Twitter, Facebook, Instagram, Path, Line, Whatsapp, KakaoTalk, Hangout, Pinterest, dan entah apa lagi. Rasanya dunia ini berisik sekali.

Kemudian aku membandingkan realita yang digambarkan dalam film. Semua yang berlatar belakang masa sebelum 1960 terasa sangat lambat, tenang, dan aku menikmati alurnya dengan damai. Oh, tentu abaikan film tentang perang zaman 1700an yah😀 (meski perang di abad lampau itu juga masih terlihat lebih seksi dengan penggunaan pedang, tombak, meriam, dan panah. bandingkan dengan masa kini dengan komputerisasi yang bikin juling). Latar belakang 1980 – 2000 mulai terasa agak terburu-buru. Mobil yang dikendarai dengan kecepatan tinggi, orang-orang yang berbicara sambil berjalan cepat, dan rapat yang dilakukan sambil makan siang di sebuah restoran. Ya, inilah era ketika kantor pindah ke kedai kopi. Tetapi jika ada tema film futuristik, aku lebih pusing lagi. Masa depan begitu terasa menakutkan. Semua serba robot, serba mekanis, serba cepat, serba instan, dan penuh orang-orang dengan emosi tinggi. Capek banget lihat film seperti itu apalagi membayangkan usiaku sampai ke masa itu. (Mungkin contohnya adalah “Elysium” –barcode, anyone? – atau “The Colony” – ini gak serba cepat, tapi tingkat ketegangannya lumayan untukku- )

Jujur, aku memang old fashioned. Aku produk masa lalu *halah*😆 Meski aku juga tak berarti suka dengan gaya vintage masa 1920-1940an itu (bunga, renda, payung, topi dan lainnya), tapi kehidupan masa itu (di luar masa depresi yang dialami AS dan perang yang masih berkecamuk di sana sini) setidaknya masih kunilai wajar. Yang paling ditakuti mungkin bom yang tetiba meledak. Selebihnya, ngopi di teras rumah sambil membaca koran atau mendengarkan radio. Aku malah lebih suka kehidupan ala pedesaan atau pinggir kota yang tenang.

Hm, mungkin ini karena aku sekarang hidup di masa orang bangun tidur langsung mengecek ponselnya dan terburu-buru ketika sarapan. Tidur dalam keadaan super lelah tetapi bangun pun masih dengan kelelahan yang sama atau bahkan lebih buruk.

Aku merindukan masa menulis secarik kartu pos dan seksinya membaca balasan surat dari sahabat pena berlembar-lembar dengan kertas wangi. Hihihihi… Aku lebih suka menelepon di telepon umum, melihat antrian yang mengomel karena ada yang memakai telepon untuk berpacaran *huahahahahaha*😆 Aku lebih suka makan bakso di warung langganan tanpa harus terganggu dengan dering ponsel. Bercakap benar-benar saling bertatapan, bukan menatap layar tablet.

Terakhir kali aku ke wartel sekitar tahun 2010, tersisa satu wartel di dekat rumah. Itu pun akhirnya tutup karena bangkrut. Ke wartel, duduk di bilik, ngerumpi sambil lihat layar yang mengubah angka-angka sampai, “Udah dulu ya, gue bawa uang cuman goceng. Di wartel nih.” *ngakak*

Aku masih ingin menikmati waktu naik becak tanpa harus buru-buru sampai ke tujuan meski memang sudah janjian karena tak ada yang dikit-dikit PING dan ngomel, “Buruan dong!” Trus sampai di lokasi masih juga diomelin. Mending dibantainya pas ketemuan sekalian, kan?😛

Dulu, konsumsi listrik hanya seputar televisi, radio, kulkas, dan lampu. Sekarang ada gelombang mikro, kompor listrik, laptop, dan tentu saja tablet plus ponsel. Makin boros. Gak heran makin banyak orang sumpah serapah ke PLN karena terputus alirannya. Manusianya semakin banyak, daya listrik harus seimbang juga? Yah, sayangnya pertambahan daya listrik gak semasif pertumbuhan manusia. Menurut aku yang sotoy.🙂

Ini efek aku menonton beberapa film. Tapi satu film yang cukup menggambarkan perbedaan “kecil” itu adalah  film Julie & Julia🙂 Tentang seorang Julie Powell di tahun 2002 dan Julia Child tahun 1950. Aku justru memerhatikan detilnya. Kehidupan Julia yang “santai” dengan mesin tik dan kertas dan karbonnya atau belajar masak dengan emosi yang cukup terkendali. Beda dengan Julie yang serba terburu-buru, senewen, dan pekerjaannya yang menurutnya cukup menguras emosi. Lihat bagaimana santainya Julia berbincang sambil ngopi cantik dan bandingkan saat Julie bertemu temannya yang sibuk dengan ponsel masing-masing.🙂

Jujur (lagi), aku merasakan lelahnya hidup di zaman semua serba cepat. Perubahan sudah bukan per hari atau per minggu, kini per detik saja ada berita baru dan itu cukup membuatku resah. Meski aku menyukai suasana riuh, dinamis, rusuh, dan aktif, bukan berarti semua harus diselesaikan secepat itu juga, kan? Manusia bukan robot. Meski robot juga perlu istirahat atau seluruh kabelnya akan korslet. Nah, bagaimana dengan manusia?

Makanya aku lebih suka kehidupan dalam bentuk gambar bergerak di masa silam. Film serial “Little House On The Prairie” salah satu contohnya.🙂

Akan tiba masa ketika semua kembali ke awal. Kembali pada kuda dan bukan motor. Kembali pada telegram dan bukan faksimili. Kembali pada tombak dan bukan nuklir. Kembali pada kompor bahan bakar kayu dan bukan gas. Kembali mencuci baju di kali dan bukan di laundry. Well, kita lihat saja nanti🙂 Ini kan sekadar berimajinasi😉

PS: aku baca tulisan Alit di SINI dan cukup mewakili sebagai tambahan kan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s