Jika Allah Sedang Memberi Ujian Bertubi Tanpa Jeda

Entah mengapa, mungkin ini postingan paling lebay yang pernah kutulis di sini. Kagok edan, sekalian deh.

Akhir-akhir ini aku bahkan tak bisa menangis. Hanya bisa menahan sesak di dada karena membaca dan melihat kenyataan yang sedang terjadi di Indonesia. Aku lagi gak bicara soal partai mana pun. Aku bicara tentang agamaku: Islam. Dan aku tidak sedang ingin menyitir ayat mana pun karena ilmuku belum sampai sana. (Lebih tepatnya, aku akan mengutip dari apa yang kubaca saja ya) Meski ada kewajiban untuk menyampaikan walau satu ayat…

Linimasa Twitter berubah dari riuhnya pasar sayur menjadi angkernya tempat jagal. Ajang pemilu pilpres kali ini benar-benar memperlihatkan perangai para pendukung kedua calon yang terpilih. Aku sendiri nyaris tak sanggup membaca caci maki, hinaan, pelecehan, dan sumpah serapah terhadap Islam. Kalau bullying terhadap Jokowi atau Prabowo atau para partai pendukungnya, aku gak akan ambil pusing dan gak mau peduli. Biarin aja. Tapi kalau sudah agamaku yang jadi sasaran, ya maaf kalau aku marah.

Janganlah mau diadu domba. Jangan mudah percaya dengan apa yang diucapkan orang fasik dan munafik. Dengarlah apa kata ulama karena mereka adalah penerus Rasulullah. Bukankah demikian? Koreksi bila aku salah.

Ulama, seperti yang dijelaskan dalam Quran berikut ini:

Para ulama adalah pewaris Nabi dan penerus tugas-tugasnya di dunia, yakni membawa kabar gembira, memberi peringatan, mengajak kepada Allah dan memberi cahaya.

“Wahai Nabi! Sungguh Kami mengutus engkau sebagai saksi, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan sebagai orang yang mengajak kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita pemberi cahaya. Dan sampaikanlah berita gembira kepada  orang-orang beriman, bahwa mereka akan memperoleh karunia yang besar dari Allah.” 
(Al-Ahzab [33]: 45-47)

Para ulama adalah penjaga gawang moralitas dalam segala aspek kehidupan umat, termasuk moralitas para penguasa. “Allah telah membeli dari orang beriman jiwa raga dan harta mereka, supaya mereka beroleh taman surga. Mereka berperang di jalan Allah; mereka membunuh atau dibunuh. Itulah janji sebenarnya yang mengharuskan-Nya, dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapa yang lebih menepati janji daripada Allah? Bergembiralah dengan   janjimu yang telah kamu berikan. Dan itulah kemenangan yang besar. Mereka yang bertobat kepada Allah, mereka yang mengabdi, mereka yang  memanjatkan puji, mereka yang mengembara di jalan Allah; mereka yang rukuk, mereka sujud; mereka yang menganjurkan kebaikan dan mencegah kejahatan dan menjaga diri terhadap ketentuan-ketentuan Allah; sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman.” (At-Taubah [9]: 111-112)

Sementara umara adalah pemimpin.

Di antara kewajiban umara adalah menerapkan pemerintahan yang berkeadilan. Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili di antara manusia, bertindaklah dengan adil. Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik- baiknya. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (An-Nisaa‘ [4]: 58)

Ayat di atas turun berkenaan dengan Usman bin Thalhah sebagi juru kunci Ka’bah. Ketika itu Rasulullah saw mengambil kunci Ka’bah untuk  memasukinya. Setelah keluar, beliau membaca ayat di atas dan menyerahkan kembali kunci Ka’bah kepada Usman.

“Inna ahabbannaasi ilallaahi yaumal qiyaamati wa adnaahum minhu majlisan imaamun ‘aadilun wa abghadhunnaasi ilallaahi wa ab’aduhum minhu majlisan imaamun jaa`ir – Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat dengan-Nya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, dan orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh tempatnya dari- Nya adalah pemimpin yang dlalim”. (HR Tirmidzi).

Tugas umara adalah menyelenggarakan pemerintahan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat. Menurut al- Mawardi, kewajiban pemimpin meliputi 10 poin:

(1) menjaga penerapan agama yang benar;

(2) menerapkan hukum dalam setiap permasalahan yang terjadi dengan cara yang adil;

(3) melindungi keamanan negara sehingga rakyat dapat beraktivitas dengan bebas dan tidak dihantui ketakutan;

(4) menegakkan hukum pidana sehingga hak-hak warga terlindungi;

(5) menjaga perbatasan negara dengan sistem keamanan yang baik sehingga dapat menangkal serangan musuh;

(6) jihad untuk memerangi musuh;

(7) mengambil pajak dan zakat dari warga sesuai dengan ketentuan syariat;

(8) mendistribusikan dana baitul mal dengan baik dan tepat pada waktunya;

(9) mempekerjakan orang-orang yang amanah dan mampu dalam bidangnya;

(10) memantau langsung perkembangan yang terjadi pada warganya dan tidak hanya memercayakannya kepada wakilnya agar dapat memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati dunia atau untuk beribadah.

disunting seperlunya dari sumber: Muhammadiyah Kabupaten Malang

Jadi, kalau mau berkaca dari penjabaran tadi, sebaiknya, menurutku yang dhoif ini, plus sependek pengetahuanku, patuhlah pada ulama. Tetapi, bila dirasa menyimpang dari apa yang diajarkan Rasulullah, tegurlah dengan cara yang hanif. Well, banyak yang berpikiran pendek dan sempit bila ada pihak yang patuh apa yang diucapkan ulama. “Woooo, taqlid buta tuh!” “Mau aja sih kayak kerbau dicucuk hidung?”

Dear, ulama lebih berpengetahuan daripada muridnya atau bahkan orang awam. Kalau sudah sadar diri bahwa ilmu kita kurang, ya bergurulah pada yang lebih berilmu dan bijaksana. Banyak di luar sana yang secara akademis tidak pintar, tapi pengalaman hidupnya banyak, maka orang bijaksana itu pun bisa dijadikan guru. Dengan catatan digaris bawahi: Ulama yang benar-benar taat kepada ajaran Rasulullah, tanpa berani menafsirkan sendiri atau sok-sokan mengatasnamakan modernisasi. Karena kita harus tetap waspada bagi pihak-pihak yang mengaku ulama. Tanyalah pada hati kecilmu dan minta petunjuk Allah. Niscaya Dia akan menuntunmu pada ulama yang dicintai-Nya😉

Umara. Di ajang pilpres 2014 ini, sedang bersaing dua kandidat: Prabowo dan Jokowi. Keduanya punya dukungan yang kuat. Punya massa yang fanatik. Punya argumen yang sama kokohnya untuk dilempar ke publik apabila ada yang harus diluruskan atau disanggah atau diklarifikasi. Bagus. Siapa yang akan menang? Tentunya yang Allah ridhoi. Rahasia-Nya terjaga aman hingga tanggal 9 Juli nanti🙂 Allah punya skenario terbaik. Siapa pun yang menang, Allah sudah menyiapkan rangkaian tugas untuk umat Islam di Indonesia. Perjuangan belum selesai.

Dan ini bagian subyektifku: aku tak akan pernah mendukung calon presiden yang jelas-jelas diusung oleh kelompok liberal, pluralis, dan sekuler. Agenda mereka yang disodorkan pada calon presiden yang didukungnya pun jelas. Isu (mudah-mudahan benar hanya isu) untuk menghadirkan kembali komunis di Indonesia itu jelas bagiku mengerikan. Lihat bagaimana komunis di RRC menghalangi umat Islam dari suku Uighur untuk berpuasa. Apa iya Ramadan tahun ini bakalan jadi Ramadan terakhir secara terang-terangan di Indonesia? Na’udzubillah!

Sila intip pernyataan berikut (yang katanya sih sudah dibantah):

Jakarta- Capres dan Cawapres nomer urut dua, Jokowi-JK, siap cabut TAP MRPS No XXV/1966, tentang larangan paham komunisme, demi membangun Indonesia tanpa diskriminasi. Hal tersebut di ungkapkan langsung oleh Tim Sukses kemenangan Jokowi-JK, Musdah Mulia, yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Megawati Insitute, di Menteng, Jakarta, Rabu (18/6/2014).

“Ya pastilah (mencabut TAP MPRS No XXV/1966 tentang larangan komunisme) akan kita lakukan, demi ngejamin perlindungan Hak Azasi Manusia (HAM) kepada semua warga negara,” ucap Musdah kepada kabar7 di Menteng, Jakarta Pusat.

Musdah yang juga sebagai guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan, ini bukanlah persoalan paham yang dilarang oleh negara, tetapi ini soal melindungi warga negara secara merata. “Jadi kita tidak akan tebang pilih dan mendiskriminisasi kepada seluruh warga negara dalam hal perlindungan HAM,” lanjutnya kembali.

Namun Musdah juga meyakini kalau nantinya keputusan ini akan banyak pertentangan dan juga perdebatan yang terjadi. “Tapi ini memang harus dilakukan demi menghapus diskriminasi di negara ini, jadi tidak boleh ada diskriminasi nantinya, dan disini juga akan terlihat seorang pemimpin dimana berani mengambil keputusan yang berani,” tutupnya. (hdi/dno)

Dikutip dari http://kabar7.com/kabar7-musdah-mulia-demi-ham-jokowi–jk-siap-legalkan-paham-komunis-.html yang ternyata sudah berganti link entah karena apa. Monggo silakan dibantah. Membaca dari link Dakwatuna memang ada sanggahan dari pihak PDIP.

Anggota Fraksi PDIP Adang Ruchiatna membantah pernyataan Musdah yang ingin mencabut Tap MPR No XXV/1966 adalah program Jokowi-JK. Menurutnya wacana pencabutan Tap tersebut tidak pernah dibahas oleh Jokowi maupun Jusuf Kalla.

“Kita sudah tegur Musdah karena asal bicara. Kita tidak pernah ingin menghidupkan komunisme di Indonesia,” kata Adang.

Tetapi apa yang telanjur diwacanakan, harus diwaspadai. CMIIW.

Allah menguji umat Islam tanpa jeda. Perjuangan tak pernah mudah. Tetapi balasannya nyata. Cinta Allah.

Ini bukan seberapa tebal / tipis iman kita. Ini tentang apakah kamu ikhlas dan ridho Islam sebagai agamamu?

Apakah kamu mencintai Islam sepenuh hati? Memeluk kasihnya dengan jiwa ragamu? Apakah kamu rela diatur oleh Islam?

Kadang benci, kadang marah, kadang protes mengetahui ada aturan Islam yang dirasa berat untuk dipatuhi. Tetapi bila cinta, kamu rela tunduk.

Iman kadang naik penuh ghirah, kadang turun membuat kamu futur. Tetapi selama kamu pasrah ikhlas, semua akan dilewati dengan baik.

Bentuk perjuangan dalam Islam bisa dilakukan dengan berbagai cara. Tetapi dengan doa, itu yang disukai.

Abu Hurairah radiyallahu ’anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, ”Saat seorang hamba  paling dekat dengan Rabb-Nya adalah ketika ia bersujud. Oleh karena itu perbanyaklah do’a (di saat sujud)” (HR. Muslim)

Ada yang ditugaskan Allah berjihad dengan senjata langsung berhadapan dengan musuh Allah, misal seperti yang dilakukan di Palestina.

Ada yang ditugaskan Allah melalui lisan, misal ulama dan umara.

Ada yang ditugaskan Allah melalui tulisan, misal para penulis buku inspiratif.

Ada yang ditugaskan Allah melalui harta, misal pada hartawan yang dermawan.

Ada yang ditugaskan Allah melalui doa, misal ya kayak aku ini. Tak punya kekuatan apapun kecuali doa yang inshaa Allah tak terputus demi tegaknya agama Allah. (semoga Allah melindungiku dari bahaya riya’ dan ‘ujub.)

Ketika Islam menjadi asing, bahkan di kalangan umat yang mengaku beragama Islam itu sendiri. Allah, lindungi kami dari segala tipu daya syaithan yang sangat halus dan melenakan.

Eh, aku udah ngoceh kepanjangan yaks? Hihihi… Maafkeun. Ini hanya bentuk kegelisahan seorang warga negara yang tak ingin ada perpecahan di antara umat Islam itu sendiri. Bukakan pintu hati kami untuk menerima cahaya-Mu, satu-satunya penerang menuju Jannah-Mu.

Maafkan bila ada kata yang salah.

random menjelang pemilu—-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s