Aku (Menjadi) Pemalas

Tinggal di Bandung, sudah menjadi cita-cita dari sejak aku masih jadi murid sekolah dasar ๐Ÿ˜€ Gak tau yah kenapa, jangan tanya. Karena gak akan nemu jawabannya. Bukankah cinta itu tak perlu alasan? *tsaaaahhh* *dikepruk*

Ketika kesempatan itu datang di tahun 2012, benar-benar memiliki KTP Kota Bandung, ada sesuatu yang menyejukkan hati. Ya, sedikit lebay sih. Karena aku menyadari, akan ada tantangan tersendiri tinggal di kota besar bernama Bandung.

life is

Aku yang terbiasa dinamis di Jakarta, the sleepless city of Indonesia, pertama pulang “agak malam” di Bandung cukup jiper juga. Baru pukul delapan malam, tapi rasanya seperti pukul 1 pagi di Jakarta. Entah mengapa, pukul 1 pagi di Kampung Rambutan lumayan sering aku lakukan (kalau pulang dari Bandung naik bus) dan aku merasa aman, tinimbang menyusuri jalan sekitar Braga pukul 8 malam. Itu mungkin aku aja kali yah? Apalagi pernah beberapa kali ada berita pembunuhan di Bandung itu rasanya… *glek*

Ketika aku berpikir ketenangan di Bandung karena merasa lelah dengan hiruk pikuknya Jakarta, pertama kupilih daerah Manggahang sebagai alternatif pertama dan itu ternyata salah besar. Untung, adikku langsung sadar dengan segala kemungkinan. Lagian, bagi adikku, gak mungkin banget aku ini sanggup tinggal di tempat yang akses ke kotanya lebih bikin semaput tinimbang di Depok. *nyengir* ๐Ÿ˜†

Ketika pilihan kedua jatuh di Cibiru, adikku masih lumayan sangsi tetapi berhubung pemilik rumah baru di Depok sudah “mengusir” kami, ya sudahlah kami memutuskan untuk mengambilnya. Toh, suasana Cibiru lumayan untukku dan krucil menenangkan hati dan recovery dari semua trauma. Bukan hal mudah. Oke, aku sudah sering membahasnya. Pun, adikku sudah berkata dari awal pindah, “Kita dua tahun aja di sini. Setelah itu cari lokasi lain yang lebih baik.”

Tetapi, ternyata ada yang salah. Setelah setahun berlalu di Cibiru, aku mulai gelisah. Rasanya bukan lokasi ini yang tepat untukku. Jujur, ternyata aku dan krucil sudah sembuh. Kami siap untuk menemukan tantangan baru dalam hidup. Kami ingin dinamis seperti saat di Depok. Berisik, bising, riuh, mudah ke mana-mana, dan bertemu banyak orang.

Di Cibiru, suasananya terlalu tenang. Kami bertiga sudah cukup dengan ketenangannya. Kami butuh sesuatu yang meledak-ledak. Cibiru lebih cocok untuk pasangan lansia atau yang memang benar-benar tidak suka dengan kebisingan. Sementara kami bertiga, dari lahir sudah berisik ๐Ÿ˜†

Umar bete. Dia selalu berkata, “Bun, kita tinggal di sini sepi banget ya?” Dia biasa melihat ratusan mobil setiap hari sejak lahirnya ๐Ÿ˜› Rumah hanya sepuluh meter dari jalan raya itu sesuatu banget. Bahkan ke pasar atau ke ATM tinggal menyeberang. Di Cibiru, berjalan tiga kilometer baru bisa ke jalan raya. Jelas krucilku jengkel. Hahaha, tak terbiasa. Apalagi, jalan pulang ke rumah cukup menanjak ๐Ÿ˜€

Oke, jadi permasalahan kami adalah: sewaktu di Depok rumah dan lingkungannya gak ada masalah. Nyaman. Tetapi ada sesuatu dan seseorang yang membuat kami harus mengalah pergi. Pertama.

Kedua, di tempat tinggal sekarang, kami sudah menemukan tempat pulang. Bandung. Tetapi lokasinya belum tepat. Masih harus mencari lagi. Dekat pasar, dengan sarana transportasi, dan dekat ATM *nyengir* Ya kalau bisa kan begitu, kan kan kan? ๐Ÿ˜›

Aku jadi ingat almarhumah mama, lima kali berpindah tempat tinggal (termasuk menumpang hidup di rumah temannya beberapa waktu sebelum menemukan rumah di Cirebon) dan akhirnya menetap di Kusnan hingga akhir hayatnya. Di rumah terakhir itulah, mama menemukan damai. Berkali-kali direnovasi hingga mendapatkan bentuk yang diinginkan. Mama terlihat nyaman. Aku dan adikku menjadi susah move on dari sana hingga kini. Hihihihi…

Merujuk pada mama, mungkinkah aku juga akan seperti itu? Berpindah terus hingga menemukan damai di tempat terakhir, entah di mana. Meski jauh dari pasar dan ATM, tetapi melihat aura mama begitu tenang, tak heran hatiku juga masih tertinggal di sana hingga sekarang punya dua anak ๐Ÿ™‚

Eniwei, di Cibiru aku menjadi sangat pemalas. Iya. Malasnya mau ke arah kota itu harus mikir berkali-kali sampai akhirnya bilang, “Maaf gak bisa” kalau ada undangan ketemuan oleh teman-teman. Suasana sepinya juga membuatku semakin ogah untuk berisik. Teman-teman jarang ada yang ke rumah karena alasan jauh. Lagipula, lingkungan di sini homogen. Menjemukan. Bukan aku banget. Aku terbiasa bergaul dengan suku mana pun, agama apapun, dan dari golongan apapun. Di sini, semuanya orang Sunda, semuanya Islam, semuanya nyaris seragam dalam hal pekerjaan dan pergaulan. Aku yang pendatang, tetap dianggap pendatang hingga detik aku menulis postingan ini. *nyengir lagi*

Ada sesuatu yang memintaku menjauh dari rumah Cibiru. Ada sesuatu, entah di mana, memanggilku untuk mendekat. Semoga tak lama lagi. Semoga krucilku bisa semakin semangat di tempat baru. Aku pun, lebih bergairah menghadapi masa depan tanpa rasa takut dan malas yang senantiasa menyerangku. Rumah ini mendistraksiku sedemikian kuatnya. Fokusku selalu berhamburan entah ke mana.

Okay, let’s find out what will happen next!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s