Kita Adalah Salinan Masa Lalu

Aku sedang tersenyum ketika membaca curhatan seorang sahabat di inbox Facebook. “Ya ampun, An! Gue ternyata bokap gue banget. Ngedidik anak udah kayak bokap dulu ngedidik gue, masa?” Dan dia juga berceloteh tentang gaya ngambek ibunya itu gak jauh beda dari dirinya kini.

Aku jadi berkaca pada diri sendiri. Sedikit banyak, gayaku mendidik krucil persis mama. Berhubung hidupku lebih banyak dihabiskan bersama mama, pola pikir dan pola didik bapak tak banyak kuterapkan pada krucil.

Kalau sekadar, “Muka lo tuh emak lo banget deh.” Atau “Ih, senyumnya kayak si Papa.” Atau, “Kamu tuh bodinya mirip Eyang Kakung.” Mungkin biasa ya? Bagiku sih gitu. Aku bahkan gak merasa mirip sama bapak atau mama. Tuh adekku yang plek mirip bapak😀

Biasanya, beda zaman, akan beda pola kehidupannya. Semakin maju zaman, semakin penuh informasi didapat, maka berpengaruhlah dalam pola perilaku dan pemikiran. Misal saja, sampai tahun 1980an, cewek ngomong duluan kalo dia suka gebetannya, bakalan ditelen sendiri dan nyeselnya gak ilang-ilang ketika tau si gebetan malah macarin sahabatnya atau nikahin tetangganya. Sekarang? Beberapa cewek sudah bisa berani maju dan ngomong duluan. Meski jawabannya adalah ditolak, setidaknya gak penasaran. Toh bisa cari lagi. *eh*😀

Melihat postingan foto teman-teman di Facebook bersama orangtua mereka, aku tersenyum. Mereka begitu mirip. Beberapa di antaranya, aku kenal dengan orangtuanya. Aku tahu bagaimana om dan tante mendidik temanku. Ternyata, temanku pun menerapkan hal yang 11-12 kepada anak-anak mereka. Bedanya dulu tak ada Twitter (dan bahkan pesawat telepon di rumah pun belum semua punya), kini setiap hari kegiatan teman kita bisa diketahui dengan mudah.

pernah ngayal bisa foto 3 generasi, gak kesampean...
pernah ngayal bisa foto 3 generasi, gak kesampean…

Si A mendidik anaknya dengan ketat. Harus sesuai peraturan. Si B, agak longgar dengan sedikit wejangan. Si C, membebaskan anak berkreasi dengan pengawasan. Si D, cueknya udah level galaksi. Aku memerhatikan semuanya. Aku hobi stalking, makanya tau bagaimana teman-teman berinteraksi dengan anaknya. Pengaruh pola didik masa kecil dan serbuan jutaan informasi di masa kini menjadikan si anak pribadi yang unik, khas sesuai dengan zamannya.

Anak zaman sekarang adalah anak digital. iPad, ponsel cerdas, tablet (mungkin nanti menyusul kaplet, puyer, sirup, dan kapsul), laptop, dan entah nanti akan ada apa lagi, menjadi sarana hiburan sekaligus pendidikan bagi mereka. Teknologi sudah merambah perkampungan yang bahkan mungkin baru dialiri listrik sepuluh tahun. Gagap teknologi dan gegar budaya. Sebenarnya ini agak menakutkanku. Tetapi di beberapa daerah, hal ini tak begitu. Ada sekelompok anak yang asyik  main di sungai, main congklak, main senjata dari kayu, bahkan anteng duduk manis sambil mengaji di surau. Mereka tak tahu atau tak peduli dengan anak seusia mereka yang berada di kota juga asyik bermain. Bedanya, di kampung bermain berkelompok, di kota bermain individual.

Di kota, seolah tak bisa lepas dari tanggung jawab sebagai masyarakat modern yang tak boleh gaptek, “keharusan” memiliki gajet canggih terbaru memaksa mereka akhirnya menjadi penyendiri. Nah, ini berpengaruh pada pola didik. Anak melihat ortunya sibuk dengan gajet masing-masing, maka si anak pun meninggalkan mainannya yang berserak di lantai. Merengek untuk ikut bermain di gajet. Tak mau diganggu, maka ortu membelikan gajet yang sama untuk si anak. Oke, anak jadi pintar bermain famville atau hayday, tetapi tak paham bagaimana cara bermain congklak dengan perangkat aslinya. Pernah kejadian dengan seorang anak. *muka datar*

Untuk pola didik, aku termasuk yang mix and match untuk krucil. Apa yang pernah kudapat di masa kecil, kucoba untuk kuterapkan pada mereka. Makan sambil duduk dan diam, tentu saja. Main di luar hanya sampai pukul lima sore. Untuk kondisi masa kini, aku sudah mengajarkan Umar mencuci baju dari usia lima tahun. Memasak telur dan membuat teh dari usia enam tahun. Meninggalkan mereka berdua di rumah sejak Umar 7 tahun dan Salman 4 tahun. Belajar, waktunya suka-suka mereka yang penting nyaman dan memahami pelajarannya. Dulu, aku ke dapur masak telur sendiri usia 10 tahun. Mama yang melarang. Lagipula ada pembantu. Nah sekarang, aku mau krucil gak manja dan bisa mandiri, seandainya aku kerja di luar rumah.

Pernah ada seorang ibu suka meninggalkan anaknya yang masih kecil (5 tahun) seorang diri di rumah. Aku yang dulu belum punya anak berpikir bahwa si ibu ini kejam banget. Tetapi sekarang baru merasa, terkadang memang “harus tega” demi anak-anak. Well, ibu itu single parent. Aku juga. Makanya, aku paham banget posisinya waktu itu.

Dulu mama sangat menjagaku dan adik. Pola disiplinnya menurutku ya aturan raja tega. Rotan udah siap menyabetku kalau dinilai bandel. Tetapi, aku gak mau begitu pada krucil. Karena krucil sudah cukup memendam trauma, masa iya mau kutambahkan? Aku tak boleh masuk dapur tanpa pengawasan. Tak boleh melewati pukul sembilan malam untuk tidur. Sekarang, Salman tidur kadang pukul sebelas, sambil membaca buku😀

Seorang teman memanjakan anaknya dan menurutku di tahap agak kebangetan. Iya, dia memang punya uang banyak. Tajir. Gajet anaknya juga keren banget. Uang sakunya diberikan tanpa pernah dikontrol untuk apa. “Aduh, emangnya dia mau beli apaan, An? Paling es krim Haagen Dazs aja. Atau nonton ke XXI.” We never know, dear. We never know… Dan ketakutanku itu terbukti pada kenalannya temanku. Anak SD ketauan membeli DVD bokep itu apa? Disuruh ortunya? Gak kalik!

Tetapi… Kita memang salinan dari sekeping masa lalu orangtua. Taruhan, dulu juga ketika ortu mendidik kita, kakek dan nenek akan ikut campur dan protes, “Ndak begitu caranya ngajarin cucuku.” Hihihihi…. Ehm, aku gak pernah melihat kakek nenekku baik dari pihak mama atau bapak. Jadi gak pernah ngerasain dibelain sama mereka berempat😀

Nah, bagaimana kita mendidik dan mengasuh anak-anak zaman sekarang? Mereka akan berada di zaman yang jauh lebih sulit dari kita nanti. 20 tahun lagi, 30 tahun lagi… Entah. Didiklah mereka agar siap menghadapi persaingan yang lebih ketat di masa depan, begitu nasihat yang pernah kubaca.

Ingat kutipan dari Kahlil Gibran? Yowes, aku gak akan nulis di sini. Udah pada tau kan?😛

One thought on “Kita Adalah Salinan Masa Lalu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s