Berada di Seberang, Tetapi Ditemani. Aneh?

Ajang pemilu pilpres ini ternyata menyiratkan banyak hikmah bagiku pribadi. Seru juga. Awalnya aku gak sadar, tetapi ketika mengetahui ada dua calon pasangan yang akan berlaga di medan perang *halah*, aku mulai memetakan beberapa teman, sahabat, rekan bisnis, saudara, bahkan orang yang sudah kuanggap berseberangan denganku sejak dulu.

Oh ya, disclaimer: tulisan ini murni subyektif karena ini blog pribadi dan postingan ini sama sekali tidak mendapat bayaran. (ah elah lu, an! kayak yang iye aja jadi baser!😀 )

Lanjut. Aku menyadarinya pertama kali di Twitter. Akunku mengikuti 700an orang saat ini dan dalam prosentase, calon pemilih untuk capres nomer 2 (Jokowi) ada sekitar 60%. (bahkan di akun alterku, 100% calon pemilihnya Jokowi). Awalnya aku terpana, tetapi tidak sampai terenyak kaget sih. Mungkin aku juga akan memilih Jokowi seandainya partai pengusungnya dan komunitas pendukungnya bukan yang selama ini berseberangan denganku. Maksudku, dalam kacamata awamku, Jokowi didukung oleh dedengkot JIL (Jaringan Islam Liberal), syiah, pluralism, dan sekuler. Jelas ini bertentangan dengan nuraniku. Aku sempat condong pada Jusuf Kalla pada pemilu 2009. Efek gak mau dipimpin lagi oleh SBY😛 Ternyata aku salah. SBY 2 periode. Tapi aku legowo. Menerima suara terbanyak🙂

Awalnya aku sama sekali tak berniat condong pula ke Prabowo. Otakku masih tercuci dengan berita betapa jahatnya dia sebagai penanggungjawab tragedi 1998. Jujur, aku juga sempat mengatakan dia adalah pembunuh. Plus, pasangannya adalah Hatta Rajasa. Anaknya, disebut sebagai pembunuh tak bertanggung jawab dan melarikan diri ke luar negeri. Korban media. Iya, aku. Pun sebagian besar masyarakat. Pasangan ini disebut pasangan pembunuh. (sekalian lah, kagok edan cuman disebut penjahat HAM) Sampai postingan ini ditulis, ternyata beberapa petinggi TNI di masa 1998 mulai panik dan bersiap menyelamatkan diri sendiri. Tentu, dengan melempar wacana bahwa Prabowolah yang tetap bersalah. Jelas, noh ada Wiranto kan di kubu Jokowi toh?

Sudahlah, postingan ini gak bermaksud membahas Jokowi atau Prabowo. Ini tentang aku dan teman-teman yang tak sependapat. Kenapa banyak temanku yang memilih Jokowi? Karena gak suka Prabowo dan PKS. Karena ingin bebas seperti kaum liberal dan sekuler. I knew it. Kenapa ada temanku yang memilih Prabowo? Karena yakin bukan dia yang harus bertanggungjawab terhadap tragedi 1998. Karena Prabowo punya kesempatan membersihkan nama baiknya.

Oke, cukup alasan-alasan utama itu saja. Yang lain silakan bongkar Twitter dan Facebook lah ya. Itu yang kulihat dan kubaca. Kalau ada yang menyanggah sampai nyolot gak jelas, silakan tanya nurani masing-masing😛 Apa yang sebenarnya kalian cari? Aku ingin kembali membahas teman dan sahabatku.

Aku sempat ciut nyali melihat para pendukung Jokowi ini. Bukan dari sisi Jokowinya, tapi sisi pertemananku dengan mereka. Haruskah dipertaruhkan jika ternyata pilihan kami berbeda? Saking takutnya, aku lebay menangis. Pemilihan presiden ini hanya untuk 5 tahun. Haruskah pertemananku hancur untuk hal yang hanya 5 tahun? Lucunya, orang-orang yang belum kenal aku atau baru kenal sepintas saja, dengan santainya unfollow Twitter atau unfriend Facebook. Yah, sedih sih. Tapi gimana lagi? Pikirannya terlalu dangkal untuk mendamaikan hati😛

kehilangan capres

Untunglah, sahabat di alter akunku orang-orang terbaik yang kukenal. Dewasa, bijak, dan santai. Meski aku sering “menyerang” pemikiran Al, tapi kami tetap ketawa ketiwi seperti biasa. Meski aku tak selalu setuju dengan pendapat Vei, tapi kami tetap dekat dan saling dukung. Pun sahabat yang lain.

Di Facebook, beberapa orang yang kupikir akan mendukung Prabowo ternyata mendukung Jokowi. Pun sebaliknya. Ini kejutan! Selalu ada kemungkinan di setiap detiknya. Perubahan berita di zaman sekarang sedemikian masifnya. Brutal, kalau kubilang. Fakta dibalas “fakta”. Wacana dibalas tindakan. Dan yang pasti, kedua kubu sama saja: menyerang masa lalu. Bukannya fokus pada masa depan dengan visi misi kedua calon presiden, para pendukungnya sibuk dengan argumen yang jika boleh kubayangkan dengan… Saling melempar sampah… Aku gak suka. Dan aku memilih menjadi perusuh sekalian. Tak mendukung keduanya meski aku sudah menentukan pilihan. Terkadang, hal seperti ini menyakitkan. Politik itu busuk bagiku.

Saking ngerinya yang kubaca setiap hari di media sosial ini, aku sempat menangis berhari-hari hanya karena ketakutan jika teman-temanku meninggalkanku kalau aku ternyata berbeda dari mereka. Tetapi aku salah. *sekarang nangis lagi, boleh?* Terharu banget, mereka tetap ada untukku. Mendukungku. Menyemangatiku. Meski menggontokku di linimasa, tetapi sejatinya mereka tak membenciku. Sungguh, aku sangat berterima kasih.

Sayangnya, di luar sana, banyak yang terpaksa mendukung Jokowi atau Prabowo hanya karena takut ditinggal komunitas atau takut dianggap gak keren atau takut dimusuhi. Social climber wannabe? Dunno😛 Tetapi mereka ini potensial banget untuk jadi swing voter lho. Toh penentu pilihan tetap di bilik suara. Kalau di bilik asmara itu urusan lu, deh😆

Am so blessed because called as an alien🙂 Aneh dan asing, tetapi dirindukan dan ditemani selalu. “Kamu sehat?” “Kamu kenapa?” “Hey, ada gosip apa?” “Kangen kamu deh. Rumpi dong.”

Hikmahnya, seorang teman tetaplah teman meski kita di pihak yang tak sependapat dengannya. Tetapi, dia adalah orang pertama yang akan menegurmu bila salah dan menolongmu ketika kesulitan. Percaya deh😉 Mari menyambut Piala Dunia di Brazil! *lho*

MERDEKA!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s