That Unusual Thing: Bipolar Disorder

Udah lama banget aku gak menulis tentang bipolar. Sesuatu yang dianggap aneh dan gak biasa. Memang.

Lantas apakah ada hubungannya dengan tulisan saat ini. Ada banget. Semua bermula dari twit berantainya Uni Fioney Sofyan tanggal 30 Mei 2014.

Aku coba copas beberapa di sini yah:


  • Apa sih itu? Jawaban sederhananya : gangguan kepribadian, bukan gangguan jiwa loh.
  • Tapi sayangnya banyak yang tidak paham itu apa, sering menganggap kita gila dan memiliki gangguan jiwa
  • Dan sayangnya lagi, banyak keluarga sendiri yang ga ngerti kalau orang yang mereka cintai itu
  • Ngerti aja engga, gimana mau support dan membantu penyembuhan kita yang ?
  • Salah satu efek terburuk ketika saya mengalami episode , adalah perceraian.
  • Seberapa jauh kita bisa mencintai pasangan kita when he/she is sooo unloveable krn ? dan malah nyebutnya ‘sifat jelek’ >_<
  • When you say you love me, can you really and still love me, even when I’m so unloveable?
  • Ketika ‘kumat’ , saya pasti anxiety attack, jantung deg-degan ga karuan, halusinasi, depresi, suicidal.
  • Bahkan dalam beberapa episode , saya menyakiti orang-orang yang saya cintai
  • Dan hal terburuk yang saya lakukan adalah saya menyakiti anak saya sendiri, pdhl dari dia justru saya belajar cinta yg tulus
  • Jd kalau luka batinnya disembuhkan dan percaya saya tidak , saya bisa sembuh. Dasarnya Law of attaction. What we believe, we became
  • Salah satu efek buruk dari adalah self destruct relationship.
  • Seringkali saya dengan sengaja menyabotase semua relationship saya dgn lawan jenis cuma utk ngetes ketahanan mereka terhadap saya
  • Sampai saya berpikir,.. memang ada ya yang bisa mencintai seseorang dengan ?
  • Ternyata ada🙂 dan kesembuhan itu datang utk hanya dengan penuh cinta dan kasih sayang dari orang orang yg peduli. Sesederhana itu
  • membuat seseorang memiliki krisis pede yg kronis, sampai ga percaya kalau ada yg sayang sm mereka dan mereka ada artinya di dunia
  • bisa sembuh, hanya dengan cinta dari orang-orang disekeliling kita kok. Sesederhana itu. Dan memang cinta itu sebenarnya sederhana
  • Pertanyaannya, how much you CAN really love someone, when they are so unloveable?
  • Can you really love someone when they are so unloveable? kayaknya sederhana, tapi ternyata pasangan ga bipolarpun banyak yg ga bisa
  • Ga ada yang bilang mencintai seseorang dgn itu mudah. Keluarga saya malah ga ngerti kok.
  • Dan orang-orang dengan itu jenius jenius looohhh
  • We oftenly gave up too easy to the people that we used to love, hanya krn mereka jadi pertanyaannya: are we really capable to love?
  • Malah banyak yang memilih marah, menyalahkan, meninggalkan drpd belajar mengerti ttg dan tetap mencintai kita apa adanya🙂
  • Seberapa besar kita bisa mencintai seseorang beneran in sickness not only in health, for better or worst?
  • Behind every man, there is a woman. And behind every great women, there is one man who love them truly, unconditionally

Selebihnya sila merapat ke akun twitternya aja.

Ini hi-lite yang membuatku merenung panjang dan akhirnya nangis sejadi-jadinya. Aku membacanya tepat di saat aku sendirian, membutuhkan seseorang, dan kehilangan semuanya. Merasa hampa.

Dari kecil, aku dikenal trouble maker. Di sekolah dan di rumah. Sama saja. Dirotan sama Mama itu wes biyasah🙂

Aku, kalau sudah kumat, pasti melakukan dua di antara kelakuan yang-di-mata-semua-orang-dianggap sangat buruk” menangis atau mengamuk. Sampai harus gitu ya ditanya oleh pertanyaan retorik, “Lu kenapa, An?” Andai bisa melempar bom ke arah yang tanya…

“Nakal!” “Kasar!” “Bebal!” “Kurangajar!” Makin kudengar kata-kata itu, makin jadi kuserang orang yang bicara. Kalau aku kumat, rasanya ingin melakukan hal yang makin gak biasa. Panca, Vei, Al, dan Sean pernah tau hal ini. Bahkan, Pancalah satu-satunya orang yang nge-BBM aku dan ngajak ngobrol. Many thanks, Ca🙂 Ah, satu lagi yang juga tahan denganku adalah Sary. Dia yang paling tau bagaimana jungkir baliknya aku di masa-masa 2010-2011 itu.

Kalau Sean sedang menyadari tingkahku aneh, dia langsung menelepon. “Nape lu? Mau bunuh diri? Gih sono!” Tapi itu bukan kata-kata menjatuhkan. Aku tau banget itu maksudnya justru agar aku sadar. Caranya memang rada koplak.😛

Aku sangat gak suka kalau ada yang sok sok menasehati, “An, shalat aja.” “An, banyakin doa ya?” Itu sih aku juga tau! Please gimme another words. Apa kek gitu. Ajak ngobrol ngalor ngidul kek. Ya itulah, gak ada yang ngerti. Karena bipolar dianggap penyakit kejiwaan.🙂 Padahal kepribadian aku aja yang ajaib.

Dulu, aku tak bisa membedakan orang yang benar tulus mau berteman dan dekat denganku atau orang yang hanya ambil manfaat dari kelemahanku. Seiring usia, aku mulai memilah dan memilih. That’s why aku hanya punya sedikit saja teman dan sahabat. Aku sadar, bipolar ini bisa menyakiti siapa saja. Mungkin secara fisik aku bisa meninju seseorang. Atau kata-kata yang menusuk perih. Makanya, akulah yang menutup dan membatasi diri. Risiko dianggap sombong binti angkuh itu biasa🙂 Itu juga sebabnya mungkin… Aku tetap sendiri sampai saat ini🙂 Mana ada yang mau berdekatan dan kuat menghadapi temperamen ajaibku?😀

Orang yang melihatku dari lahir pun tak bisa mengenaliku dengan baik, bagaimana orang yang pertama kali bertemu muka denganku? Akan menganggapku alien? Pasti😛 Tapi aku semakin bisa berbesar hati dengan perlakuan beda dari orang lain. Bapakku lebih membanggakan adikku. Mama juga. Adikku adalah anak kesayangan mereka. Bahkan Bapak pernah dengan tegas mengusirku dari rumah, hanya karena satu permintaanku yang dianggap “menyalahi kodrat”. Padahal aku mengemukakan pendapat dan ingin Bapak menjawabnya, mengapa aku tak boleh begini dan begitu? Aku lantas dianggap anak durhaka. Mencelos rasanya.

Beberapa orang yang dekat denganku, pasti bisa menilai kapan aku “normal” dan kapan aku “kumat”. Hihihihi… Cukup dengan membaca kicauanku di Twitter😀 Jetrin, salah satu yang cukup bisa membaca hal itu. Dia memang pembaca tulisan yang baik. Dia bisa merasakan apa yang terjadi padaku tanpa harus bertanya macam-macam. Cukup bilang, “Bawa Tuhan dalam doamu.”

Reading on this blog: BIPOLAR CENTER INDONESIA  then found out this one:

3. Mencari dukungan
Sangat penting untuk memiliki orang yang dapat Anda berpaling untuk meminta bantuan dan dorongan. Cobalah bergabung dengan kelompok pendukung atau berbicara dengan teman yang dipercaya.

Aku ingat Vei berkata padaku, “Anak-anakmu super hebat, Bun. Mereka kuat setelah mengalami musibah dan justru menjadi penyelamatmu.” Ya, dari krucil aku belajar cinta tanpa syarat yang sesungguhnya. Sehancur-hancurnya kelakuanku, anak-anakku gak ada yang mau berpisah denganku. “Bunda, jangan nangis. Ada aku di sini,” begitu selalu kata Umar… Yaa Allah…

Aku cukup nekat untuk tidak pernah konsul kepada psikiater karena aku berjuang untuk menganggap diriku normal. Tetapi ketika ke psikolog, cap “anak yang perlu perhatian khusus” itu terdengan seperti vonis mengerikan di usia sepuluh tahun. Dua puluh tahun kemudian, pada psikolog yang berbeda, aku diberikan pertanyaan retorik, “Ibu cukup kuat menjalani semuanya sendirian, kan?”

Tahu apa yang membuatku kuat hingga saat ini? Doa anak, adik, dan sahabat-sahabatku. It’s such a special gift for me. Everyday.

But…

Kadang, sampai sekarang, aku masih percaya bahwa aku anak nakal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s