Menikah Itu Apa?

Sederhana kan pertanyaanku? Ya, menikah itu apa? Ngapain? Dengan siapa? Untuk apa?

Aku tak pernah membayangkan akan benar-benar menikah. Sejak kecil, aku diracunin oleh aneka cerita dongeng bahwa pernikahan itu seharusnya langgeng, baik-baik saja, rukun, bahagia sampai kakek nenek, dan hanya dipisahkan oleh kematian. Apalagi melihat pernikahan kedua orangtuaku yang memang dipisahkan oleh kematian Mama, kupikir itu memang sudah yang ideal. Picik? Naif?

Entah. aku mencoba menalar tetapi gagal. Akhirnya, aku mencoba menikah. Hahahahaha… (((((MENCOBA)))))

Ini seperti kejahatan perang. Berjudi dengan masa depan. Aku memutuskan menikah dengan seseorang yang saat itu kupikir jauh dari bayanganku sebelumnya. Ketika memasuki tahun ketiga pernikahan, barulah aku sadar, bertahun lampau ke belakang, tepatnya sejak SD, aku meminta kepada Tuhan, kelak pasangan hidupku haruslah memiliki kriteria berikut: berbeda 12 tahun lebih tua dan berbintang Sagitarius (demi Tuhan, ini gegara Jonathan Rasleigh Knight!), keturunan Cina (or should I mention it: Tiongkok? meh!) (ini gegara Takeshi Kaneshiro dan Aaron Kwok). Moahahahaha😆 tetapi tentunya harus beragama Islam. He gave me him! Yeah, God gave me a man with all those criteria. Geeeezzzz… I even didn’t realize it until I remembered my pray so long time ago. My God!

Aku merasa terpukul. Tuhan mendengar pintaku yang kupikir hanya selintas lalu itu. Ada yang salah dengan doa itu sebenarnya. Aku kurang menyebutkan detailnya… Tetapi kemudian aku merasa bahwa Tuhan tak memberiku sebuah kejutan tanpa ada rahasia yang mengikuti di belakangnya. Aku menyerah. Aku memasrahkan semuanya. Tuhan memberiku delapan tahun itu untukku introspeksi bahwa Dia maha benar. Meminta itu harus lengkap, teliti, detail, hati-hati. Tidak sembarangan. Tuhan mendengar semuanya. SEMUANYA. Aku hanya bisa menelan ludah, beberapa bulan setelah menghentikan perjalanan delapan tahunku.

Sekarang, sepertinya aku harus memetakan ulang siapa yang sebenarnya kubutuhkan untuk berada di sampingku. Tetapi aku bertanya pada diriku sendiri… Menikah itu apa? Mengapa kita harus menikah seandainya hanya untuk melukai pasangan kita sendiri? Pernah aku mendengar, seseorang berkata dengan jahat dan nyinyirnya, “Menikah itu hanya sekadar pelegalan seks.” Aku menelan ludah. Aku memakinya dan membalasnya, “Serendah itu lu nilai pernikahan?” tetapi ketika kalimat itu menamparku pada sebuah kenyataan yang cukup menyesakkan dada, melukai harga diriku sebagai perempuan, dan terhina sebagai umat yang mengaku beragama Islam, aku terdiam lama. Pelegalan seks.

Memeluk lawan jenis. Menciumnya. Menyentuhnya. Menyetubuhinya. Hanya halal jika sudah menikah. See? Pelegalan seks? Kepalaku berdenyut. Aku meninju tembok merasa dibodohi. Pria yang kuanggap imam dalam keluarga, hanya melabeli dirinya sebagai kepala rumah tangga. Bukan imam. Ya, pria itu bahkan bertanya berulang kali, “Kalau kita berpisah, aku mau minta sama siapa?” Itu sebuah pertanyaan sarat penghinaan level galaksi. Selama delapan tahun aku dianggap apa? Karena lelah dengan pertanyaan penghinaan itu, aku memutuskan untuk memisahkan diri. Aku bukan budak napsu.

wedding ring

Maka aku kembali bertanya pada diriku, menikah itu apa? Mengapa aku tak menemukan cinta seperti Mama dan Bapak dan… Ibu? Hanya dipisahkan maut. Rumah tangga adem ayem, nyaris tanpa keributan yang berarti. Oia, Mama adalah istri kedua Bapak. Benar, orangtuaku berpoligami. Tetapi semuanya mengalir tanpa huru hara yang lebay. Ibu wafat saat aku masih kecil. Mama wafat ketika aku baru masuk kuliah. Bapak menyusul lima tahun kemudian.

Begitu saja. Pernikahan yang dipisahkan secara alami oleh Tuhan. Terlalu ideal bagiku ya? Iya. Maka ketika ada yang bertanya,  “Emangnya lu mau poligami, An?” Aku hanya tersenyum. Seandainya boleh memilih, tentunya tidak. Ilmuku belum sampai. Pun, aku tak sekuat Mama ketika harus menjadi orang baru diantara Ibu dan Bapak. Berkaca pada keberanian Bapak untuk berpoligami dengan segala risikonya, aku menatap sinis pada pria zaman sekarang yang terlalu lembek dan cenderung menjijikkan. Alih-alih tidak mau poligami, mereka lebih suka membuang spermanya sembarangan tanpa harus terbebani dengan biaya rutin setiap saatnya. Rutin itu biaya dapur, sekolah anak, bla bla bla… Lagipula, perempuan zaman sekarang pun sama saja. “Daripada laki gue nikah lagi, biarin deh main di luaran.” “Gak papa isinya luber ke mana-mana, yang penting botolnya balik ke rumah.” Asli aku ngakak miris.

Yasalam, yang begini dibilang waras? Pernikahan macam apa yang tak dilandasi rasa takut pada Tuhan seperti itu? Oh ya, aku bukan perempuan baik-baik. Aku anak nakal. Bengal. Gila. Jadi, aku menulis ini juga tanpa beban. Terserah kalau ada yang marah. Ngaca aja sana😆

Mungkin banyak yang lupa, pria tuh nyaris tak bisa membendung hasrat seksualnya. Jika perempuan bisa mengalihkan keinginannya dengan memasak, berbelanja, mengasuh anak, dan hal lainnya, tidak dengan pria. Semakin berusaha dialihkan ke hobinya seperti main sepak bola, balap mobil, atau apalah, semakin dia harus melepaskan beban sakit kepalanya. Mengeluarkan spermanya. Pilihannya adalah menemui istrinya, masturbasi, atau jajan.

Aku pernah berbincang ringan pada seorang pria. Dia berkata, “Semua pria punya kecenderungan untuk mendua. Aku juga.” Kutanyakan padanya, “Kamu menduanya selingkuh atau poligami?” Dia menjawab diplomatis, “Keduanya mungkin. Tetapi aku lebih condong pada yang positif.” Aku hanya tersenyum tanpa komentar lanjutan.

Kembali pada pertanyaan temanku tentang keputusanku apakah menerima tawaran poligami atau tidak, aku menjawab semua tergantung istri pertama si pria. Aku adalah perempuan angkuh dan tinggi hati. Kalau si pria mau menikahiku, maka istri pertamanya yang harus datang kepadaku. Memintaku yang berarti menyetujui dan mengikhlaskan aku menikah dengan suaminya. Bagiku, jika aku yang menemui si istri, artinya posisiku lemah. Aku mengemis. Aku tak akan pernah mau berada dalam posisi lemah. Karena aku keras kepala.🙂 Itu cukup jelas ya?

Menikah itu apa? Jangan tanya padaku karena aku telah gagal. Tetapi kegagalan itu membuatku cukup waspada untuk melangkah selanjutnya. Tetap sendiri atau kembali menghadap penghulu. Karena bagiku, menikah artinya tak hanya mengunci kembali semua kebebasanku. Pernikahan adalah perjanjian antara aku dan Tuhan. Terlalu sakral. Lebih dari sekadar aku berpuasa dan berzakat. Nilainya berada di bawah shalat.

Apakah aku mau menikah lagi? Tergantung, siapa yang berani menghadap adikku.😆

Salam!😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s