1st Cibiru Culinary Night

Standarnya sih judulnya begitu. Tetapi ternyata ketika aku melihat ke arah sisi kanan panggung ada display tulisan “Cibiru Culinary Fun Night”. FUN? Not really, for me. Hapunten nya!😀

Awalnya sih gak sengaja melihat twit dari @relawan_bdg tentang akan adanya kegiatan Culinary Night lagi dan kali  ini ada di tiga tempat: Braga, Panyileukan, dan Cibiru. JRENG! CIBIRU??? Whoah! Akoh baru tahu! Langsung follow akun @CibiruCulinary dong dong dong🙂

Selesai shalat Maghrib, aku bersiap ke Manglayang. Berhubung pas temennya krucil menginap di rumah, makanya mereka gak ikutan. Nonton dan main di laptop. Baiklah. Lagipula aku tak menjamin mereka akan nyaman. Entah, rasanya yang terbayang itu akan sangat ramai… Dan terbukti!

Pukul 06.30 PM aku keluar rumah, menunggu ojek. Sampai di lokasi SMPN 46 sekitar pukul 06.45 PM. Bengong melihat kepadatan jalan raya. Motor, mobil, dan bahkan kulihat ada satu bus melintas. Halah! Setelah tepat pukul 07.00 PM, aku berjalan ke arah lokasi acara Cibiru Culinary Night. Hastagah, jauh ya? Iya, aku norak. Soalnya gak pernah ke sini. Sementara tadi siang waktu aku bilang ke krucil bahwa malam ini akan ke atas, Umar bertanya, “Bunda mau ke opat genep?” Aku bengong. “Kok kamu tahu, Bang?” Umar menyipitkan matanya yang sudah segaris itu. “Bunda, aku sering ke sana. Dulu waktu ada Teh Ririn juga sering kok.” Aku hanya ‘oh’ sambil bingung. Emangnya dekat ya? Tetapi ketika tadi aku mengukur jalan… HAH??? BOCAH MAIN SEJAUH INI? :O *shock* Etapi emang darah nekatnya nular dari emaknya sih. Boakakakaka😆

Berjalan menanjak sejauh sekitar 300 meter itu bikin nyengir yah? Gelap pulak! Sejak meja pertama, aku sudah menelan ludah. Luntur sudah keteguhan iman untuk TIDAK JAJAN. Kampret! Udah menjauh dari dompet inih! Oke, pasang kacamata kuda dulu. Kita susuri sepanjang jalan hingga ke pusat acara. Memasuki lapangan, aku berdecak kagum. Lumayan, untuk sebuah acara pertama di kaki gunung alias jauh dari peradaban (eh), rame lho.

Pak, bade ka mana?” Istrinya nanya. “Makan. Ini kan acara kuliner,” sahut suaminya cuek. Gue ngakak.   <—- twit pertama yang gak tahan untuk ditulis😀

Salah satu stand paling benderang di MAHIWAL=macam2 hidangan waluh.  

Pintu masuk utama  

Panggung utama pusat kegiatan    

Aku keliling sana sini. Bersyukur gak membawa krucil. Padatnya sadis. Gak sanggup deh. Mereka pasti rewel karena bukan tipe yang betah di tempat ramai. Emaknya banget😛 Aku tak tahan melihat cireng yang tepat berada di seberang jalan di tempat aku ngaso. Ah, sial! Mata ini gak bisa apa ya cari yang lain aja? Baiklah, aku menuju meja penjual cireng dan lima ribu pertama melayang untuk empat buah cireng pedas. Minus minum. Mulai kehausan.

Sejenak turun ke bawah. Ngaso di tenda Waroeng Apay yang jual tutug oncom. Sebelahnya jualan crepes  Aku memesan segelas Pop Ice rasa durian dan duduk sambil ngobrol dengan penjual crepes.

“Mudah2an rame terus. Mudah2an tiap minggu. Biar kayak Punclut gitu,” ujar seorang peserta   <— ini kata si penjual crepes.

Gak ketemu kang di karena banyaknya manusia tumpah ruah. Lieur. <—- aku ngetwit ini pukul delapan malam ketika menikmati crepes.

RT @ridwankamil: da memang belum kesana. nanti jam 22.00 RT @andiana: Gak ketemu kang @ridwankamil di #CibiruCulinaryNight krn byk manusia tumpah ruah. Lieur

Dibales dong sama kang Emil. Wataaaawwww…..😛 Langsung tab mensyen ramai >_<

Minatina linampuna!!!! Minceeeeee… atuh ieu kumaha acara kuliner poek kieu?   *kaget beberapa detik* <—– aku ngetwit langsung di detik pertama. Pas lagi mau ngetwit yang lain sebenarnya :D 

dari sisi kiri panggung. Ramenya kebangetan.  

“Pulang ah. Pak walinya gak ada,” gerutu seorang ibu sambil gandeng anaknya.   :)) atuda kumaha… tabuh 10.00 <— aku mendengarnya ketika hendak kembali ke lapangan sementara si ibu berlawanan arah turun.

Aku kembali ke lapangan dan merapat ke stand milik panitia dari RW 15. Mengobrol dengan salah satu ibu yang akrab dipanggil Bunda. Beliau bercerita tentang herbal buatannya yang sudah ekspor. Katanya pernah jadi anggota Oriflame juga tapi gak diterusin karena gak cocok. Aku menyimak. Beliau malah mempromosikan produknya padaku. “Kalau kamu pakai herbal saya, mukamu bisa lebih bersih deh. Sebulan aja.” Aku nyengir. 

“Kamu kuliah di UIN?” tanya Bunda. Aku gelagapan. “Eh, gak kok. Bukan. Saya kerja, Bun. Di rumah aja. Dari internet.” Melihat aku bolak balik membuka gadget, Bunda malah menyangka aku wartawan. “Dulu iya saya sempat jadi wartawan, Bun,” jawabku pelan. “Suami saya dulu kerja di majalah. Jadi wartawan, sampai sebelum gempa di Padang.” Aku menyimaknya.

“Sudah menikah?” tanya Bunda lagi. “Pernah, Bun.” Bunda mengangguk mengerti. “Belum sempat punya anak?” tanyanya santai. “Sudah dua, Bun.” Beliau terperangah. Ketika kujawab yang sulung berusia delapan tahun, Bunda kehilangan kata-kata. Bengong. Akunya salah tingkah. Kenapa ya? Ada yang salah. Tampang mahasiswaku kali yaaaaa…😆

Ada beberapa catatan tambahan dariku untuk segi teknis *sok iye bener ya eikeeeehh*

Pertama: sebagai penganut mahzab colokan gratisan di mana pun, aku nyaris gak bisa menemukan stop kontak di semua stand bazaar yang terhubung dengan baik dan aman. Semua kabelnya tak menunjukkan disusun dengan baik. Bahkan panjangnya cenderung ngepas untuk setiap deretnya. Stand bazaar pun tak tersusun dengan rapi. Terkesan berantakan. Memang, ini pesta rakyat. Kegiatan rakyat. Untuk rakyat. Tapi ya bisa dong dibuat lebih rapi agar nyaman dilihat?😉

Ada satu meja tambahan yang membuatku tak bisa tenang hingga menulis ini. Si bapak tua itu menjual aneka camilan kering. Hanya memakai lampu darurat. Dagangannya nyaris tak bisa dilihat. Aku menelan ludah. Gobloknya aku, sekitar empat kali bolak balik melewati mejanya, kenapa juga gak beli? Hatiku terusik untuk menghampiri, tapi kebingunganku dengan padatnya jalan dan dorongan dari belakangku membuatku terseret terus. Agak nyesek dan nyesel.

keramaian: 100%.

tata letak stand: 50%

sound system: 60%

lightning: 40%

food and beverage: 80%

Aku ngetwit itu berdasarkan penilaian subjektif yah. Apalagi soal pencahayaan dan listrik yang mati sebanyak 3x (entah pas aku pulang nambah lagi gak?). Belum lagi ditambah kabel terbakar di stand panitia. Aku kaget. Di salah satu tiang penyanggah, banyak uliran kabel yang berantakan. Baru aku bergumam, “Susunan kabelnya bahaya nih.” Gak sampai lima menit langsung arus pendek. Aku menelan ludah. Aih +___+

Terakhir, aku ngobrol dengan teteh penjual Pop Ice yang kubeli pukul delapan tadi. Pukul sepuluh, tepat kang Emil walikota kebanggaan kota Bandung datang. Persis di depanku, iringannya berhenti. Langsung kufoto sepuasnya. *iye gue kampungan* Padahal Bunda (yang ada di stand panitia) sempat bilang nyaris sepuluh kali kalau beliau tak yakin Kang Emil akan datang. Aku nyengir. Ketika kubilang bahwa Kang Emil membalas twitku mengatakan akan datang pukul sepuluh, ada yang aneh dari tatapan Bunda. Yah, udah beda maksud kayaknya nih. Aku diam saja.

Interupsi, Bunda ternyata kader Partai Demokrat dan sangat bangga dengan partainya Esbeye tersebut. Beliau memperlihatkan foto SBY, Dede Yusuf, dan beberapa calegnya yang gagal melenggang ke Senayan. “Kamu gak ikut pembinaan kader?” tanya Bunda. Aku menggeleng cepat. “Politik bukan bagian saya.”

Lanjut. Setelah ngobrol dengan teteh penjual Pop Ice dan membeli aneka camilannya, aku pulang. Jalan kaki. Kenapa? Karena jalannya menurun dan aku mau kembali mengukur jalan😛 Hihihihi….

Sampai di rumah, baru sadar kaki kanan keseleo. Nyerinya lumayan… Meringis. Pagi nanti lanjut untuk acara pasar kagetnyah. Wokeh, gak janji juga sih. Tapi setidaknya malam ini aku jadi jomblo bahagia, tanpa ada yang harus mengatur dan melarang ini itu. Bebas seliweran tanpa harus bingung apa pun. Lagipun, gak ada satupun cowok ganteng di antara ribuan orang tadi. Yakin! Sumpah! *ditimpuk paus biru*😆

Yuhuuuu panitiaaa… Please dong, ini sekadar saran🙂 :

1. Stand ditata lebih rapi

2. Ketersediaan stop kontak yang cukup + pasokan listrik yang oke agar tidak byar pet😉

3. Stand minuman bisa diperbanyak? Stres juga kehausan😦

4. Dari gapura menuju lapangan kasihlah lampu penerang jalan, kan kasihan anak kecil dan lansia😦

5. Pemisahan stand berdasarkan jenis makanan kali ya? Misal makanan siap saji sebelah mana, makanan kering sebelah mana.🙂

6. Antisipasi tempat parkir🙂

 

Sekian dari kaki gunung Manglayang, laporan dibuat dua jam setelah pulang dari lokasi kejadian. *halah*

PS: Per dua minggu sekali itu cukup deh. Gak perlu setiap minggu. Bosen kalik. Pun, emangnya ada duit terus gitu? (iye, ini curcol😆 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s