“Kapan Kamu Jadi Perempuan?”

Itu pertanyaan yang membuatku nyengir polos, semakin acuh, dan tak mau mendengar pertanyaan berikutnya.

“Kamu gak pernah pake rok ya, An?”

“Maskara favorit lu apaan sih, An?”

“Eh, eye shadow ungu itu lucu. Suka gak?”

Foundation buat mukamu yang ini aja, An.”

“Gamisnya cantik nih. Coba deh.”

STOP IT, PLEASE?šŸ˜¦ Aku bukannya gak mau. Aku hanya merasa… Useless. Well, begitulah. Call me naive, tapi kalau aku dandan, untuk siapa? Am not please anyone. Baru aja mulai pakai lipstik warna pink, rame aja jagat raya. Karena biasanya aku pakai warna nude atau cokelat. Bukan gak pede. Aku mau banget pake merah. Tapi untuk siapa? Itu aku mikir dari zaman dahulu kala deh.

Puluhan foto gamis, jilbab, aksesoris, perlengkapan lenong apalah itu setiap hari seliweran di Facebook atau Twitter atau Pinterest. Aku hanya bisa menelan ludah. Males beli. Menguntungkan buat siapa? Si penjualnya saja. Ā Aku? Terjebak dalam situasi tidak mengenakkan. Satu yang paling kuingat adalah ketika pertama kali membeli Lip Crayon Impact Striking Pink dari Oriflame, warnanya begitu terangĀ dan membuat rasa percaya diriku lumayan naik dikit. Dikit aja sih. Pertama aku keluar rumah dengan lipstik itu, semua mata tetangga melihatku seolah sedang menelanjangiku dengan aneka tuduhan. Well ya, I already knew it. Beberapa hari kemudian, kulihat satu tetanggaku memakai lipstik warna merah manyala dan seketika itu pula aku merasa tertampar dan tersinggung. Unspoken words say anything and untold stories couldn’t be understood by the other. It hurts me. Being a normal woman just makes me weaker.

Come on, am not a bitch. Can you, people, stop judging me like reading a cheap gossip? Tapi, bagaimana pun aku membela diri, tetap dianggap salah. Apapun yang kulakukan tak akan membuat mereka mengerti. Bisakah dipahami mengapa aku tak pernah bisa tersenyum untuk orang-orang yang menganggap statusku adalah hina? Rasanya lebih baik dianggap tidak ramah, sombong, intoleran, judes, atau apalah.

not everyone

Aku bisa mengetahui. Ya, the unspoken words those said by their eyes. Sepandai apapun mereka menyembunyikan, aku mendengarnya. Aku tak bisa marah meski ingin. Itu hak mereka untuk menggunjing dan berkata hal tidak benar tentangku. Apa peduliku? Toh aku juga tak peduli dengan mereka. Tak pernah mau ikut campur dengan urusan mereka. Tentu, dengan harapan mereka tak akan berani mendekat area pribadiku. Salah. Aku salah. Tetapi aku tak peduli.

Justru karena aku penyendiri, bersikap dan bertingkah beda dengan yang lainnya, maka aku dianggap alien. Apa peduliku? Tak ada. Ā Semakin hari, rasanya semakin lelah memikirkan hal yang membuat energiku terbuang percuma. Maka, semua ini terasa lucu karena aku menjadi konsultan kecantikan sebuah perusahaan kosmetik dunia. “An, kamu kerjanya promosiin kosmetik, tapi kamu sendiri gak dandan.” Aku cukup tersenyum tanpa menjawab. Take a look at my eyes. It will say, “It will be more dangerous than you think if am trying (even only try the tester one) using them all.” Hihihihi….

Jadi, kalau ada yang bertanya kapan aku berubah menjadi perempuan, lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. “Tak ada yang berani bertanya seperti itu padaku. You know what I mean. Habis perkara.” Lagipula, celana gunungku lebih nyaman tinimbang long maxi skirt yang menghalangiku untuk berlari lebih cepat. *eh*šŸ˜†

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s