I Find Me Nowhere

Aku menulis ini karena bingung.  Benarkah aku sudah menemukan apa yang aku mau? Yang kubutuhkan? Yang kuinginkan? Benarkah aku sudah bahagia? Apa itu bahagia?

Aku tahu. Allah selalu memberikan apa yang kubutuhkan, setiap kuminta ataupun tidak.

Aku ingin kuliah di UI, Allah beri.

Aku ingin suami beserta syarat yang kucatat dengan enggan, Allah beri.

Aku ingin anak laki, Allah beri.

Aku ingin tinggal di Bandung, Allah beri.

Lantas apa lagi? Ada yang salah?

Ada.

Semua di atas itu keinginanku, bukan kebutuhanku. Aku baru menyadarinya betapa aku egois. Lihatlah bagaimana skenario Allah berjalan atas keinginanku… Be-ran-tak-an. Tapi kenapa Allah masih mengabulkannya? Untuk menghukumku. Allah memberi ujian atas kengototan dan kebengalanku. Tentu saja, yang paling menguras emosi adalah pernikahan delapan tahun itu. Penebusannya sangatlah mahal… Sakit hatinya almarhum bapak…

I always get what I want, but I never have what I need. That’s my biggest weakness… Itulah mengapa aku tetap merasa kosong. I always come back to my house, but never find my way home. Sekali lagi aku merasa tak menemukan diriku sendiri.

Satu per satu menghilang dariku. Apa yang pernah ingin kumiliki semua. Ketamakanku berbuah hampa sekarang. Aku kini tanpa kedua orangtuaku. Aku melarikan diri ke Bandung dengan dalih mencari ketenangan. Aku tak lagi bisa bersandar pada para sahabatku. Aku benar-benar kehilangan arah dan tempat berpijak.

Aku kehilangan satu per satu. John, #senja, #Lelakiku, Ken, Danny, Zoe, Bob, dan kini Sean. Tak ada yang tersisa. Aku semakin jauh dengan diriku sendiri. Terkadang, bangun tidur pun aku bertanya, “Aku ini siapa? Ini di mana?” Kosong. Semakin aku mencari, semakin tak tentu arah.

Beberapa mengatakan agar aku tak memaksakan diri mencari solusi, apapun itu. Biarkan tangan Allah yang bekerja untukku. “Kamu sudah berjalan sejauh ini, An. Kamu pasti bisa melewatinya lagi. Kamu pernah menghadapi yang lebih buruk. Kamu akan bisa bertahan sekali lagi. Meski sendiri.”

Aku ingin berjalan jauh. Sendirian. Melepas ikatan yang menyiksaku selama ini.

Belum, aku belum menemukan yang kubutuhkan untuk diriku sendiri. Tempat tinggal luas dengan minim perabotan (yang selalu terbayang adalah apartemen tipe studio). Backpack keliling Indonesia dan dunia untuk menulis. Kalau untuk anak-anakku sudah ada Allah yang akan mengatur. Biarkan semuanya mengalir.

Kalau yang “Satu” itu bagaimana?🙂 Sepertinya memang sudah tak lagi kubutuhkan. Allah menginginkanku sendiri. Selamanya.🙂 Aku bisa bilang apa kalau sudah begitu?

Ternyata aku memang belum pulang. Aku sedang tersesat. Entah di mana. Entah bagaimana.

Aku ini kenapa. Kok takut sendirian. Toh nanti mati juga sendiri. Well, setidaknya aku masih makhluk sosial yang lemah.

Aku akan pulang. Suatu saat nanti. MY REAL HOME, for sure. Not only a house. Surrounding with my beloved ones…

Someday.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s