Aku Menulis Untuk Mempertahankan Hidup

Hidup yang berkehidupan atau keterpaksaan?

Mau dijawab dari sisi mana pun, terserah. Jika aku menulis dalam sebuah kertas, kemungkinan pertama adalah kamu meremas dan melemparnya ke tong sampah. Apa guna aku mengirimnya untukmu?

Mempertahankan hidup? Apanya? Itu tanyamu?

Kehidupan sebuah kata cinta. Bullshit banget jika aku tak membutuhkannya. Ya, masalahnya adalah hanya kamu yang bisa mengerti. Sialnya, itu yang terjadi. Berulang kalli aku berharap bahwa semuanya salah. Tapi nyatanya, aku membutuhkanmu agar tetap waras. Persis ketika aku membaca tentang Cinta Platonik, aku hanya bisa tertawa kecil. Ya Tuhan, ternyata selama ini, beginilah yang kurasa.

Setelah selama ini pula aku berpikir bahwa cinta yang tulus itu tidak nyata, aku menemukannya dalam segala perhatianmu. Sebagai sahabat? Mana aku peduli? Bagiku yang penting kamu hadir. Ketika napsuku berkata dengan emosi bahwa aku tak bisa memiliki tubuhmu, setidaknya nalar dan logikaku masih sadar karena beruntung memiliki sesuatu yang lebih berharga tinimbang sekadar one night stand whatsoever. Tapi aku masih ingat ketika kamu seolah bisa membaca pikiranku dan sialnya, itu benar. “Kamu pasti mau ngomong, ‘Kenapa kita gak kenal dari awal?’ gitu kan?” *ngilang* Ah sudahlah! Kamu ada untukmu. Cukup.

Terlalu pasrah ya?šŸ˜€ Aku tak lagi peduli. Ternyata aku bisa mendapatkannya. Aku merasa berkecukupan. Aku gak sendirian. Meski, yah… Jujur, ada saat ketika keegoisanku memaksa mengalahkan logika. Itu, lebih karena aku merasa sepi. Sosokmu tidaklah utuh hadir untukku. Ada masanya aku sedih tapi berusaha untuk segera menyadari kekonyolanku.

Aku menulis dan akan terus menulis apa yang kurasa. Sepertinya, blog ini akan semakin penuh dengan pikiran dan perasaan tentangmu. Apa aku peduli kalau kamu tak peduli? Gak. Meski ya, pasti aku akan merasa kesal dan tersinggung kalau kamu tak peduli. Lah?:mrgreen:

Setidaknya, aku masih punya alasan untuk menulis. Kamu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s