Untuk Perempuan Berinisial “….”

Untuk kamu yang sedang tertawa manja,

Aku gak tahu harus menyebutmu apa. Entah aku harus kasihan, sedih, sinis, atau turut berbahagia untukmu. Sebelas Februari. Well, reaksi pertamaku justru sinis. Jujur aja sih. Kamu terlalu naif kalau bisa merasa bangga telah mencuri perhatiannya. Mau tahu satu hal? Dia tidak mencintaimu. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi nyatanya, kamu hanya dijadikan tameng sekaligus topeng untuk menutupi sebuah kenyataan yang jauh lebih kompleks.

Perempuan sepertimu tak akan tahan terus berhubungan dengan pria seperti dirinya. Kamu harus paham bahwa masa lalunya pun tak sanggup menghadapinya. Kamu? Terlalu naif dan polos. Pun rapuh. Kamu bisa apa nanti? Ya, mana kutahu? Tapi saat ini, dia membutuhkan tempat untuk melampiaskan sesuatu yang tak bisa ditahannya. Tunggu, kamu jangan bangga dulu. Hey! Dia tak bicara masa depan hanya dengan memilikimu saat ini. Dia memilihmu karena baginya, saat ini, kamu adalah perempuan termudah yang bisa digaetnya. Untuk alasan apa? Banyak. Sekali lagi, kamu terlalu naif untuk bisa memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Di luar sana, ada pria yang lebih bisa kamu mengerti dan kalian bisa hidup dengan tenang. Tapi itu nanti, setelah kamu dicampakkan. Ngeri ya? Ya, biarin aja. Toh yang penting bukan aku. Sudah kukatakan padanya, bahwa dia akan kualat kalau sampai terus berhubungan denganmu. Dia tak menggubris. Nah, gak perlu menunggu lama, dia sudah kualat. Aku tinggal menertawakan saja.

Dia memamerkan kemesraan itu bukan untukmu, Nduk. Dia begitu demi kepuasan pribadinya, merasa bisa menaklukkan kamu. Yah, segitu doang. Kamu kan memang lemah, tentu saja akan dengan mudah ditaklukkan pria mana pun. Kamu itu kelinci dan dia serigala. Paham gak nih perumpamaannya? Cukup ya? Baguslah.

Jangan menangis. Nikmati saja peranmu dan layani sampai dia merasa bosan. Ketika saatnya tiba, please not to cry over him. Sudah puas dong ya, ditraktir segala rupa demi memberikan apa yang dia mau. Dia itu royal lho kalau ada maunya. Tiati ya, Nduk. Aku sangat mengenal dirinya, jauh lebih baik dari dirinya sendiri. Gak percaya? Gak perlu.šŸ˜†

Aku tak akan banyak menulis untukmu. Percuma. Kamu membaca surat ini dalam keadaan sedang berbahagia, hanya akan dianggap sampah. Coba baca surat ini beberapa waktu lagi, ketika dia mulai berubah dan kamu merasa cemas. Kamu akan memahami dan tentu saja menyadari bahwa aku benar.

Dia hanya membutuhkan perempuan tangguh dan itu bukan kamu. Sekali lagi, jangan terburu napsu bangga ‘memilikinya’ saat ini. Nanti aku akan menulis surat lagi padamu. Ya, ketika kamu benar-benar menangis.

Selamat menikmati tawa semu di bibirmu. Semoga hatimu cukup tabah mendengar segala sesalmu nanti.

-aku-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s