Kamu Harus Berhenti Sekarang, John

Dear John,

Aku harus menyampaikan hal ini padamu segera. Seharusnya sejak dua tahun lalu, tetapi aku harus meyakinkan diriku sendiri untuk berani mengungkapkannya. Ini tentang curhatan beberapa wanita yang pernah dekat denganmu. Mereka tak saling kenal, but is so amazing for me that they are your girls. In the other hand, they are my friends. Mbulet sih, tapi sudahlah.

Aku mengenalmu dari temanku. Pria yang menyenangkan. Bagiku, kamu enak diajak ngobrol meski sedikit menyebalkan. Rasanya aku tahu mengapa kamu banyak dikelilingi wanita. Uangmu. Pemikatmu adalah uang yang kaupunya, melebihi teman-temanmu yang juga kukenal. Aku sih tak peduli karena bukan itu tujuanku berteman denganmu. Ada sesuatu yang membuatku penasaran. Kehidupan pribadimu di luar sana yang, seperti sudah menjadi rahasia umum, sangat liar. Aku lebih suka melihatnya dari kacamataku dan mengetahuinya langsung dari mulutmu. Bukan gosip atau praduga banyak pihak.

Kau salah mengartikan kedekatan kita. Kamu pikir aku jatuh cinta padamu? Nope, John. Aku gak mungkin jatuh cinta padamu. Terlalu berisiko. Kamu tentu tahu apa yang kumaksud. Seorang gadismu pernah curhat padaku bahwa kamu melarangnya untuk dekat dengan pria lain. Kamu bilang risikonya tinggi. Kamu bilang bahwa hanya denganmu dia akan aman. Kamu terlalu percaya diri, John.

Gadis itu kembali bicara padaku bahwa dia sakit. Organ intim dan mulutnya membuatnya tak nyaman. Aku hanya menelan ludah. Bahaya mengintai, tetapi untunglah gadis itu tak terjangkit sakit apapun. Ketika itu, aku langsung berpikir bahwa kamu pun sakit. Kamu yang nyaris menularkan sakit itu pada gadismu dan banyak wanita lain di sana. Aku tak banyak bicara. Kamu pasti tahu bahwa aku mengetahui sesuatu. Kamu yang selalu menganggap dirimu sehat dan aman, di detik itu pula aku yakin kamu gak sehat.

John, aku mohon berhenti. Jangan siksa lagi dirimu dengan kenikmatan semu sementara. Tegakah kamu berbuat itu pada semua wanita? Tak ingatkah pada ibumu? Maaf John, aku hanya peduli. Kita berteman kan? Kalau aku mau acuh, aku tak akan bicara padamu. Persetan dengan kesehatanmu yang mulai memburuk tapi masih sekuat tenaga kausembunyikan. Percuma, aku mengetahuinya tanpa perlu kauberitahu.

“Aku sehat, An.” Ya, dari luar yang terlihat memang demikian. Itu pun kalau kamu mau memaksakan kehendakmu untuk dianggap tetap sehat. Kulitmu yang kering, matamu yang tak segar, batukmu yang semakin menyiksa… Apa itu masih sehat? Terakhir kali kita bertemu, rasanya aku ingin menangis. Kamu sekuat tenaga terlihat ceria. Salut dengan usahamu. Aku hanya bisa diam walau kau berulang kali berusaha mengajakku tertawa. Aku tak bisa.

Sudah berapa liter Vodka? Jack Daniels? Chivas Regal? Entah mau sebut jenis yang mana lagi. Semuanya sudah pernah mampir ke ususmu. Uang tak masalah untukmu kan? Semahal apapun minuman keras itu, kamu menikmatinya. Tentu, bersama wanita yang entah mana lagi. Belum terlambat untuk berhenti dan mungkin rehabilitasi. Tapi sudah pasti kamu akan menolak. Kamu sehat. Kamu aman. Ya, halusinasimu. Bagaimana cara menghentikan kegilaanmu, sih?

John, please stop it!

-andi-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s