Mengapa Hanya Kamu yang Bisa?

Dear Sean,

Detik pertama kutulis surat ini, menderas sudah seluruh emosi yang tertahan seharian. Dan seperti yang sudah kuduga, kamu sama sekali tak meneleponku hari ini. Entah mengapa, aku sama sekali tak marah dan menuntut. Aku sedang ingin sendiri. Sepertinya, memang hanya kamu yang bisa mengerti bagaimana aku harus melewati hari yang berat…

Kamu hanya bertanya, “Kamu kenapa?” yang justru malah kujawab dengan pertanyaan lagi, “Kenapa apanya?” Namun, seolah menyadari kebodohanku, aku tertawa menahan air mata yang siap tumpah. Aku menjawab seperti orang kehilangan kesadaran. Kamu hanya menjawab, “Oh” kemudian tak ada chit chat lagi.

Mengapa hanya kamu yang bisa mengerti aku, Sean? Sesuatu yang harusnya diberikan orang lain, bukan kamu. Orang lain yang katanya mencintaiku, persetan apapun definisi cinta itu. Lantas mengapa aku hanya bisa mencarimu di setiap perih yang kurasa? Mengapa aku hanya membutuhkan pelukanmu sekarang tanpa peduli siapa kita sebenarnya…

Sudah terlalu sering aku menyusahkanmu dengan segala drama yang kubuat. Hasilnya selalu sama. Hanya kamu yang hadir untuk bertanya, memarahiku, memakiku, dan kemudian menutupnya dengan semua nasihatmu yang membuatku tenang. Kamu melakukan semuanya tidak di hadapanku. Itu yang tak bisa kupaksakan. Jika kemudian aku berandai-andai kamu ada di dekatku, hanya satu yang kuminta. Peluk aku hingga tertidur… Sungguh, mengeluarkan emosi seperti ini sangat melelahkan.

Entah sudah berapa nama yang keluar dari mulutku. Dari mula yang meletup-letup serupa bahagia anak kecil mendapat permen, hingga berakhir dengan air mata yang menderas dan tiada henti karena tercampakkan. Oh, segala drama itu sudah seperti menjadi kebiasaan burukku, bukan?

Sean, maafkan sikap kekanakanku. Jangan pedulikan sifat manjaku yang terlalu menyebalkan bagimu. Mungkinkah seharusnya kita tidak saling mengenal? Kebaikanmu… Justru ternyata membuatku semakin bergantung padamu. Aku tak pernah berani meminta (lagi) pada Tuhan, agar kamu… Yah, kamu…

Kalau malam ini aku menangis kembali, mungkin karena dua hal. Dirinya yang sedang mempermainkanku dan kamu yang tak meneleponku. Apakah lantas hidup akan lebih mudah jika kamu tak ada? Entah. Nyatanya Tuhan mengirimkanmu bukan tanpa alasan, kan? Aku sampai berpikir, kalau kamu tak ada, aku bagaimana? Tuhan tak mungkin membuatku terlunta sendiri di Bandung tanpa ada yang melindungiku. Tuhan maha tahu aku super manja. Bukan tanpa maksud, Tuhan menunjuk dirimu, meski di mata manusia mungkin sangat sangat sangat salah.

Sean, terkadang lucu bagiku, bila ada seseorang yang sangat peduli dan perhatian meski tanpa perasaan cinta sama sekali. Seperti kamu. Ya, aku juga bingung. Dari dulu, aku gak mau kegeeran mendapat perhatian darimu. Betapa kamu peduli atau bahkan hanya sekadar memanfaatkanku. Karena aku tahu, terlarang bagiku menerjemahkan perhatianmu lebih dari yang boleh kuterima…

Tetapi… Mengapa hanya kamu yang bisa mengembalikan tawaku? Mengapa hanya kamu yang menanyakan kabarku setiap hari (meski diawali dengan pertanyaan template “Ada gosip?”) Mengapa hanya kamu yang kucari pertama kali setiap kepanikan melanda?

Entah. Aku hanya ingin dipeluk kamu. Aku tak menuntut lebih kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s