Apa yang Hendak Kautunjukkan?

let me hold your hand ...
let me hold your hand …

Selamat pagi, kamu.

Tibatiba terngiang ucapanmu di sebuah pagi buta. Aku ingat, waktu pada jam dinding menunjukkan 02.15 WIB. Lelah yang terpancar di wajahmu membuatku sedih. Matamu begitu berat dan menahan beban emosi yang sulit dibendung. “Ngomong aja, aku dengerin kok,” ujarku dengan nada yang juga sama tak meyakinkannya. Aku hanya ingin memelukmu dan mengambil semua perihmu.

Mengalirlah semua cerita itu. Aku tak yakin dengan apa yang kudengar dari mulutmu itu. Kaubiarkan dirimu sendiri menderita dan sengsara demi bakti seorang anak. “Aku gak papa kok. Enak begini. Gak ada beban apapun.” Kalimat defensif itu kauucapkan dengan mata nanar. Benarkah kau tak ada beban? Tapi sejurus kemudian kau pun sadar bahwa kau tak bisa berbohong padaku. “Aku gak tau. Aku gak tau.”

Memelukmu erat adalah cara terbaikku agar kau merasa aman dan nyaman. Ketika kau membalas memelukku erat, terasa bahwa kaulah yang butuh perlindungan itu. Alih-alih aku perempuan lemah yang butuh penguatan dan perlindungan seorang lelaki, saat itu justru aku merasa kau bagai seorang anak kecil yang sangat ketakutan menghadapi segala kemungkinan buruk.

“Izinkan aku menyembuhkan perihmu,” bisikku pelan. Kamu masih ingat kan? Kamu masih mengizinkan aku, kan? Oh, bukan. bukan aku memaksamu. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Aku gak mau melihatmu lebih menderita lagi. Kumohon, jangan sampai waktu yang kutakutkan itu tiba sebelum kamu siap. Waktu yang kukatakan sebagai saat perpisahan terberatmu dengan perempuan yang selama ini kaubela mati-matian. Ibumu.

Aku sangat mengerti dan tak ingin turut melukaimu. Makanya, aku sangat berhati-hati menyentuh bagian hatimu yang lukanya terlalu dalam dan bagi orang lain mungkin akan sulit untuk menyembuhkannya. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang ada di dekatmu untuk merawat luka hingga sembuh. Aku tak ingin melihat senyum terpaksamu lagi pada dunia.

“Sulit untukku, An,” kamu mengerang nyeri berusaha mengelak untukku mendekat mengobati lukamu. Terkadang, aku harus memaksamu beristirahat untuk tidak memikirkan apapun. Biarlah tanganku yang bekerja membalut luka yang belum kering itu. Luka yang kaubiarkan terbuka, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa kau sakit. Tetapi perempuanmu tak menyadari. Terlalu dalam cintanya padamu, sehingga dia berpikir bahwa dengan memilikimu utuh, maka kebahagiaan itu nyata bagi kalian.

Bangun pagi ini, aku menemukan satu perempuan lain hadir. Kaupamerkan tanpa penjelasan apapun. Ya, awalnya aku kaget. Tetapi kemudian aku menyadari satu hal. Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dan perempuan itu hanya boneka untuk menutupi hal yang sedang kauperjuangkan di tengah sakitmu. Gadis yang cantik namun membosankan. Ketika kamu berkata sulit, maka aku sangat yakin bukan gadis itu yang kaumaksud. Terlalu rapuh dan tak akan kuat menghadapi rintangan terbesar. Ya, kau pasti paham maksudku, kan?

With your mood swing like that, I doubt that you can handle your own heart. Is there anyone  who can cure that part? Dia hanya menjadi pelarianmu sesaat. Kamu mencandainya dengan sebutan ‘rahasiaku’. And yes, am so sure that this part can’t be your best and long lasting escape. Aku sangat memahami dirimu, yang tak bisa kaulihat sendiri.

Kamu boleh, sangat boleh, berbahagia. Tetapi jika kali ini, tawa dan bahagiamu kembali terpaksa, aku gak akan tinggal diam. Kalau ada gadis mana pun tak bisa menyembuhkan luka itu, semua kecantikan fisiknya menjadi sia-sia. Kamu (sekali lagi) tentu sangat paham apa maksudku, kan?

Kamu tahu harus mencariku ke mana, seandainya kamu terluka lagi. Segeralah pulang, agar aku kembali bisa merawat hatimu dengan segala yang kupunya.

Jangan mengulang kesalahan yang sama, ya…

always...
always…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s