Melipat Jarak Sebisaku

Dear my lovely B,

Apa kabar kamu di… Entah kamu di mana saat aku menulis surat ini. Hanya mendengar suaramu dan melihat fotomu saja sudah cukup. Mungkin. Aku tak pernah yakin. Aku pernah mencintaimu dengan begitu banyak bumbu napsu yang sia-sia. Tapi entah, aku merasa tak akan pernah bisa jauh darimu.

Memangnya kamu begitu jauh dariku? Secara jarak fisik, ya. Kita sangat sulit bertemu. Bahkan sekarang pun. Ingin ketemu. Akunya. Tapi gak mungkin. Iya. Ngerti banget. Aku egois? Iya, biarin. Perlahan, seiring waktu berlalu, semua berubah. Pun perasaanku. Aku masih tetap tak mengerti harus bagaimana tapi aku memilih untuk melakoni semua yang sekarang kujalani.

Menjadi pendengar segala ceritamu. Menjadi orang yang kautelepon untuk semua kabar. Tentunya, menjadi yang kedua. Aku tahu itu. Aku masih sadar dengan semuanya. Aku pun masih ingat bagaimana wanitamu sangat panik, emosi, dan lepas kontrol memaki dengan segala bentuk bahasa yang…. Ah, sudahlah.

Aku tahu, aku salah. Aku tahu, aku harus mengalah. Aku tahu, aku tak akan pernah punya hak atas dirimu selamanya. Aku tahu, aku harus bersiap kapan pun kamu pergi meninggalkanku. Aku tahu, kini, aku tetap ada di pikiranmu. Entah dengan hatimu. Aku sudah tak peduli. Kamu ada untukku saja, itu sudah jauh lebih dari cukup.

Kamu mungkin gak pernah tahu. Mungkin juga tak akan pernah peduli bagaimana aku memikirkanmu. Kalau ternyata kamulah yang terlintas pertama kali untuk segala yang kubutuhkan, harus kusebut apa semua itu? Bukan siapa pun. Dengan pria mana pun aku dekat sekarang, kamulah yang kucari. Bukan mauku. Spontanitas itu bukan pula aku yang mengaturnya. Aku harus bagaimana?

Aku tahu, aku salah.

Tapi aku tak akan meminta maaf.

I need you. Someone who always be there when I feel so empty.

Hanya kamu yang langsung meneleponku dan bertanya ada apa. Hanya kamu yang berani memarahiku. Hanya kamu yang SETIAP HARI menemaniku… Sesibuk apapun kamu, menyempatkan diri mengabariku itu benar-benar sesuatu untukku…

Terima kasih untuk semuanya. Dari awal pertemuan kita hingga detik kamu membaca ini… Juga untuk masa-masa yang akan kita lalui bersama. Iya, bersama. Kamu di tempatmu dan aku di sini. Kita tetap bersama, kan?

Demi apapun, jangan pernah tinggalkan aku… Untuk yang satu ini, aku akan egois. Dan aku tak peduli…

Aku masih mencintaimu.

Dengan cara yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s