Apa Kabar (Mantan) Rumahku?

Dear mantan,

Apa kabarmu sekarang? Sudah 13 tahun kita berpisah. Entah bagaimana wujudmu saat ini. Terakhir kali aku melihatmu, sosokmu yang ringkih dan dingin membuatku sedih. 17 tahun bersamamu itu rasanya sudah seperti tak akan terpisahkan. Tetapi tak bisa selamanya aku bersamamu…

Bersamamu dalam duka, suka, sedih, tawa, marah, dan aneka emosi lainnya yang tertumpah sungguh melekat hingga sekarang. Aku naksir cowok pertama kali, kamu tahu. Aku bertengkar dengan kakak kelas, kamu juga yang pertama tahu.  Aku bolos dari sekolah, kausimpan rahasiaku rapat-rapat. Nilaiku tertinggi di kelas, kurasakan kamu ikut berbahagia. Aku dipukul Mama atau ditampar Papa, kamu turut menangis. Aku mendapatkan surat dari artis favoritku, kamu juga yang pertama kali tahu. Kamu segalanya untukku. Selalu ada ketika yang lain tiada.

Waktu terus berjalan dan tak memberi kita kesempatan untuk kembali mundur. Aku pun merasa sudah saatnya pergi karena melanjutkan kuliah. Sempat aku berpikir bagaimana aku meninggalkanmu dan Mama hanya berdua di sudut kota itu sendiri, sementara aku jauh di ibukota? Tetapi ada skenario Tuhan yang berkata lain. Mama yang meninggalkanku terlebih dahulu.

Sejak Mama pergi mendahului, tak ada yang tersisa. Kenangan pun seolah ikut terkubur. Aku pun sudah jarang menengokmu karena kesibukan kuliah. Daripada aku mengabaikanmu hingga membuatmu semakin tak terurus, aku langsung memutuskan untuk berpisah denganmu saja. Sakit dan sedih pastinya. Tapi aku harus.

Merelakanmu dimiliki orang lain itu rasanya berat. Apalagi ketika negosiasinya agak alot. Jengkel karena mereka terlalu afgan! Untunglah sudah didapati kata sepakat sehingga aku dan kamu pun siap untuk berpisah. Ketika langkah terakhirku terhenti, kutatap dirimu sekali lagi. Sudah berakhir. Aku tak akan kembali lagi padamu. Semoga pemilikmu yang baru tak menyusahkanmu dengan aneka operasi yang menyebalkan, ya?

Aku hanya sedang merindukanmu terlalu. Pasti, jika aku ada kesempatan menengokmu, wajahmu sudah berubah. Semoga kau lebih bahagia dengan kondisi sekarang ya. Terima kasih atas segala yang kauberi dahulu.

Sepenuh cinta yang tak akan pernah pudar,

-an-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s