Terpaku di Persimpangan

Dear kamu yang ada di sudut angkringan,

Apa kabarmu setelah berhasil memporak-porandakan kembali hatiku? Sudah tenang dan senang di rumah? Tersenyum penuh kemenangan bahwa kamu tak bisa ditaklukkan. Bahwa kamu tak mungkin dikalahkan begitu saja. Demikian, aku menduga-duga isi pikiran dan hatimu saat ini.

Satu dasawarsa berlalu. Kamu, di satu sisi tak berubah. Di sisi lain… Sisi yang seharusnya tak boleh berubah, membuatku harus menyadari bahwa semua sudah selesai. Benar, kan?

Tak ada yang harus disesali. Justru aku bersyukur, bertemu denganmu untuk menyelesaikan semuanya.  Setelah aku menunggu tak menentu semua yang seharusnya tak kutunggu, kehadiranmu menjelaskan posisiku. Juga hati dan pikiranku yang sempat terpecah dan terkoyak.

Satu dasawarsa bukan waktu yang sebentar. Menunggumu dengan cara mencarimu tak tentu arah. Berulang kali tersungkur dengan penyesalan tanpa ujung. Kamu paham maksudku, kan? Kamu yang akhirnya menunjukkan kesiasiaan itu.

Aku masih ingat bagaimana kamu mendekat padaku dan memperkenalkan dirimu sebagai pria yang menyebalkan. Meski demikian, menyenangkan bersamamu saat itu walau pun sangat sebentar. Ketika kamu meninggalkanku dulu, seketika layu sekeping hati yang sempat mekar karena hadirmu. Akhirnya, saat kutemukan hadirmu lagi, segalanya tak lagi sama. Pupus sudah harapan. Seharusnya. Tetapi ternyata, aku masih bertahan dan mencari.

Akhirnya di sinilah aku. Menatap nanar kepergianmu yang kedua kali. Sekali lagi, aku terempas ke dasar jurang, terluka dan nyaris mati. Bersama semua harapan yang ada, kuberanikan diri mendekat padamu. Hanya sekadar untuk meyakinkan dan memastikan bahwa kamulah yang kutunggu.

Aku sempat yakin hal itu benar, sampai kamu kembali menjauh…

Tidak, aku tak akan mengemis memintamu kembali untuk ketiga kalinya. Mungkin memang aku tak akan pernah berhak untuk dirimu utuh, apapun alasannya.

Aku akan berjalan dari persimpangan. Meninggalkan jejak kenangan yang mulai tersapu hujan… Aku tak akan mengatakan selamat tinggal padamu. Aku hanya akan mendoakanmu dan kehidupanmu yang baru.

Terima kasih sudah pernah mewarnai hati dan hariku. Itu sangat berarti bagiku🙂

Aku, yang selalu akan merindukan tawa konyolmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s