Pria Bali Itu Bernama @commaditya

Dear Adit,

Apa kabarmu di sudut Denpasar? Semoga Sang Hyang Widhi senantiasa memberkatimu dan keluarga.

Aku bukan orang yang pandai menulis indah seperti dirimu, apalagi sampai bisa meninggalkan jejak yang mengharu biru dalam hati. Ajari aku bagaimana caranya. Semakin kutelusuri aneka tulisanmu, semakin aku merasa kau diberkati dengan bakat menulismu.

Oh, ini baru tentang tulis menulis. Bagaimana dengan bakat bermusikmu? Justru ini yang menjadikanku mengenalmu pertama kali. Melalui komunitas Fiksimini pertama kali di Twitter, aku penasaran siapa sebenarnya @commaditya ini? Sekeren apa kemahirannya bermusik? Ingin rasanya mendengar secara langsung suaramu yang selalu dibanggakan para fiksiminier .

Kesempatan itu datang. Aku mendengarmu bernyanyi di atas panggung. Aku menggeleng. Rasanya waktu itu kamu tak maksimal, atau aku yang tak terlalu menyimak? Entahlah. Karena ada fokus lain: Aku belum bertemu denganmu secara langsung. Bukan, bukan seorang Putu Aditya Nugraha yang ada di atas panggung yang ingin kutemui, tapi Adit. Bedanya? Iya, bukan @commaditya yang banyak disanjung itu. (Hm, dulu tuh ya, follower-mu baru sekitar 500 orang. Sekarang? 🙂 ) Aku ingin melihat sosok Adit yang ‘bukan siapa-siapa’.

Di luar gedung aku baru bertemu denganmu secara pribadi. Kamulah yang menyadari kehadiranku pertama kali. “Mbak Di!” Dan kita tertawa seperti sudah akrab, dekat, dan lama tak bertemu. Padahal, sejauh yang kuingat, itu pertemuan pertama ya? *uh, maafkan ingatan jangka pendekku ini* 😦

Sejak saat itu, hingga detik aku menulis surat ini, kita belum pernah bertemu lagi. Kamu, semakin sibuk dengan pekerjaanmu (kemudian resign), kuliah, dan kegiatanmu yang lain seperti menulis (terutama puisi) dan bermusik. Sepertinya Tuhan memberkatimu benar ya? Aku memperhatikan pertambahan follower di Twitter yang melesat itu bisa menobatkanmu sebagai salah satu selebtwit baru dong? Benar? *melipir sebelum ditimpuk*

Aku pun baru menyadari gaya menulismu meski sudah lama menjadi salah satu temanmu, ya karena faktor aku mengenalmu sebagai pemusik itulah, hingga aku tidak terlalu menyimak apapun tentang tulisanmu. Ah, aku bukan teman yang baik.

Sebagai salah satu teman orang Bali yang kukenal secara dekat, tentu saja kamu istimewa. Benar kata temanku, pria Bali selalu ngangenin. Entah dilihat dari sudut mana, tetap menarik untuk dirindukan. Ahahaha, ternyata memang benar, aku kangen sama kamu, Dit! Ini yang gak jelas, aku kangen kamu bagian apanya? Musiknya? Puisinya? Orangnya? 😛

Ngomong-ngomong soal kangen, sepertinya aku kembali membongkar ingatan. Puisimu yang ditulis tahun 2012 adalah satu-satunya favoritku:

Puisi Terpendek dan Terindah di Dunia

Kamu.

Itu saja. Itu pun sudah mewakili berjuta makna yang bermunculan di kepala dan hari sejak pertama kali membacanya. Kemudian aku berandai-andai… Betapa hangatnya dunia. *iya, mulai lebay geje*

Sudahlah ya. Aku memang tak pandai berkata-kata. Aku hanya bisa menikmati setiap kata yang bermunculan di linimasamu sesekali. Itu sudah cukup. Sampai nanti saat kita bertemu lagi ya, Dit. Entah aku yang ke Denpasar atau kamu yang ke Bandung. Semoga ketika saat itu tiba, kamu sudah menyiapkan satu buah puisi untukku. *maunya* :mrgreen:

Terima kasih untuk segala yang kauberi melalui semua tulisan dan musikmu, Adit. 🙂

~andiana~

(temanmu. itu saja.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s