Mbak Jamu yang Pemalu

Selamat pagi untukmu, Mbak…

Suara kenes nyaringmu membangunkanku (euh, lebih tepatnya mengejutkanku) di pagi hari pukul enam. Tak setiap hari kamu datang, tapi selalu dicari anak-anakku. “Teteh, jamuuuu…” dan aku hanya memicingkan mataku sebentar sebelum diguncang oleh si sulung. “Bunda! Itu jamu! Boleh ya?”

Aku berkata parau, “Iya, sana.” Dan aku sering kali tak minat untuk mengangkat tubuhku ke teras. Rasa lelah akibat begadang membuatku lebih memilih memeluk guling. Kasur yang posesif. :mrgreen:

Pertama mengenalmu tahun 2012 akhir ya, kalau gak salah ingat. Iyain aja deh, biar cepat. Saat itu aku memang sudah bangun dan sedang bersiap berangkat ke kantor. “Teh, jamunya?” tanyamu dari balik pagar. Aku menoleh dan melihatmu tersenyum malu-malu. Aku membalas senyummu dan menyilakan kamu masuk.

“Baru lewat sini ya, Mbak?” tanyaku padamu yang sedang menyiapkan beras kencur favoritku sejak zaman gadis. *halah, gadis!* Kamu menjawab pelan yang nyaris tak bisa kudengar.

Kamu bercerita bahwa jamu ini yang membuat adalah kakakmu. Kamu sedang belajar berjualan untuk bisa mandiri. Tak lagi bisa bersekolah. Aku hanya menelan ludah. “Beneran udah gak sekolah? Umur berapa?” Kamu hanya tersenyum. Malu. Aku minta maaf jika pertanyaanku mengganggumu ya.

Pernah, kakakmu pulang kampung ke Solo, sehingga kamulah yang harus meracik jamu. Kamu terlalu berani menggunakan bahan. Rasanya lebih kuat dan kental. Aku tertawa. “Lumayan, Mbak. Lebih terasa.”

“Tapi banyak yang protes juga, Teh. Lebih enak kakakku yang bikin ya?” kau tertawa kecil dan salah tingkah. Aih…

Berkat jamu racikan kamu atau kakakmu, anak-anakku nampak lebih sehat dan tahan banting di segala cuaca 🙂 Matur nuwun sanget yo, Mbak.

Ternyata selain menjajakan jamu di pagi hari, menjelang siang hingga sore hari, kamu bekerja di sebuah butik untuk menggunting bahan. Kamu benar-benar menikmati peranmu ya? Juga, sepertinya memang sudah keenakan mencari uang sendiri. Hehehehe…

Mbak, aku pernah bertanya padamu tapi tak kaujawab. “Panggil saja saya Mbak Jamu.” Lho? Mengapa aku tak boleh mengetahui namamu? Bukankah nama adalah doa orangtua padamu? Tapi aku tak memaksa. Aku hanya mengangguk dan membalas senyummu yang selalu kikuk dan tertunduk malu.

Terakhir kamu ke rumah pun, aku tak bisa bangun karena baru tidur pukul lima pagi. Anakku yang menemuimu dan menikmati jamu racikanmu. Maaf banget, gak bisa setiap kamu datang, kami membeli jamumu. Terkadang uang di dompetku tak cukup. Maklum, ATM jauh sekali dari rumah. *ya nasib rumah dekat bukit* 😆

Terima kasih, Mbak. Untuk jamumu adalah terutama setelah senyum manismu yang mencerahkan hari dan hatiku. Aku mengaku kalah semangat denganmu. Oh, atau karena aku mulai beranjak renta? *ah elah* 😛 Berjuanglah. Pada masamu nanti, semua akan lebih terasa sulit dan melelahkan. Tetapi jangan pernah berhenti berjuang.  Tabunglah sedikit dari keuntunganmu untuk bekal menimba ilmu. Apa saja. Kursus atau seminar. Bukan tak mungkin, aku melihatmu berhasil sepuluh tahun dari sekarang.

Semoga kelak, Tuhan mempertemukan kita di saat kamu sudah memetik hasil. Aku, pasti akan berguru padamu, bagaimana perjuanganmu hingga menjadi inspirasi untuk semua orang. Kudoakan selalu.

Salam hangat selalu,

Pelanggan jamu yang selalu menemuimu dengan mata panda.

Iklan

2 pemikiran pada “Mbak Jamu yang Pemalu”

    1. gadis muda, pakde. badannya mungil. makanya bawa jamu gendongnya juga gak banyak. bertugas paginya pukul 6-8. setelah itu dia ke butik untuk kerja utamanya.

      suka kadang ngerasa bersalah kalo gak beli jamunya. tapi kadang karena gak kedengeran juga, soalnya aku masih tidur 😆 maklum abis subuh baru tidur 😛

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s