Ketika Harus Belajar Pada yang Lebih Rendah

Lebih rendah itu apa?

Umur, jabatan, strata sosial, atau apalah itu semua. Sebut saja! Ada. Akan selalu ada masa ketika kita harus menunduk, menurunkan ego, merendahkan suara, melapangkan dada, dan melihat dari sudut pandang berbeda.

kamu yang mana?
kamu yang mana?

Sudah merupakan hal yang lumrah dan sangat wajar, apabila merasa diri lebih tua, senior, berpengalaman, maka akan merasa pula wajib dihormati dan didengar segala titahnya. Contoh sederhana adalah yang kerap terjadi di rumah. “Papa kan sudah bilang!” “Ibu lebih tahu dari kamu!” “Nurut aja deh sama Kakak!” Nah, kan?

Terima begitu saja? Bisa jadi. Kalau memang kita benar-benar tidak tahu.  Kita memang kurang pengalaman. Baiklah menurut saja.  Seperti ketika masuk ke sekolah pertama kali, tentunya belajar tentang segala hal. Mulai dari datang tepat waktu, mengerjakan PR, hingga ke mana harus menemui guru olahraga, misalnya.

Namun, ada saat kita belajar dari yang lebih rendah dari kita. Ada kalanya kita tak seperti yang kita pikirkan. Ternyata, kita tak tahu tentang sesuatu hal. Contoh lagi, saat kita masih bersekolah, kita ada yang memakai sistem kalender catur wulan, maka saat ini sekolah bersistem semester. Kemudian, anak kita, dengan bantuan teknologi masa kini, lebih mudah menyerap informasi apapun, terkadang akan bertanya dengan nada kesal, “Masa sih Mama gak tau?” “Yah, gimana nih Papa kok kuper?” Nah lo!:mrgreen: *pengalaman* Hihihihi…

Kita tak pernah mengetahui, bahwa selalu ada kelebihan pada diri yang kita anggap rendah. Anak kecil bicara, kita ‘tuduh’ sok tahu. Pemuda culun menjelaskan tentang politik, kita ‘tuding’ cari muka. Apa siiiihhhh kelebihan kita sampai segitunya menunjuk dengan pongah bahwa, “Elu tuh gak tau apapun, diem aja! Biar gue yang kasih tau. Lu kerjain aja!”

Tapiiiiiii… Kalau kita lebih suka berperan one man show, berarti kita masih bermental “boss” ya? Hobinya main tunjuk dan semua ingin dikerjakan sesempurna mungkin. Ketika terjadi sebuah kesalahan, semua anggota kena getahnya. Beda dengan seorang “leader” yang bertanggung jawab bila ada sebuah kendala, mencari solusi bersama.

Dalam bisnis jaringan yang kujalani saat ini pun sama. Aku, gak segan dan malu bertanya pada downline sekaligus soulmate aku yang klik banget itu : Erika Mirna. Kerjanya runut, laporannya rapi, dan teliti. Khas melankolis. Beda denganku yang berantakan blas. Maklum, sanguin. Hihihihi… *bela diri*

Aku juga banyak belajar dari orang-orang yang lebih muda dengan wawasan dan kemampuan melebihiku, bahkan untuk hal yang baru sekalipun. Misal saja pada Rizki Darmawan (RD), aku belajar membuat web berbayar. Pada Jaka dan Mumu, aku belajar bercerita dengan berbagai genre. Pada Judas, aku belajar tentang Injil dan Jesus. Pada Al, aku belajar tentang politik. Pada beberapa teman perempuan yang baru berusia di awal dua puluh tahun, aku belajar ilmu dandan plus menu praktis harian😉 Aku bahkan belajar masak dari asisten rumah tanggaku yang jauh lebih muda dariku lho!😆

Rasulullah pun belajar dari seorang anak kecil. Rasul, manusia mulia itu pun meminta maaf pada budaknya jika memang beliau yang salah. Lah kita ini siapa dibandingkan beliau? Hm? Seorang pemimpin sejati tuuuuhh…. Mau belajar dari siapa pun. Mau mengakui kesalahan ketika memang terbukti bersalah, bukannya berlindung dan bertahan dengan pendapatnya. Sulit banget lho mencoba untuk menjadi “leader”. Mendengarkan apa kata anak buah? Ehm, buang dulu gengsinya. Gak usah malu. Kalau malu ya ditutup saja dengan daun pisang.😛 Jangan malu kalau ternyata ilmu kita masih lebih sedikit dibanding mereka yang lebih muda dari kita. Aku pun, sampai saat ini, masih terus belajar mengasah ilmu dan mengikis ego. Berat ya, bo!🙂 Tapi kan tidak mustahil. Respek itu berlaku untuk mereka yang open minded😉

Oh ya, ini juga berarti tentang masalah pembagian tugas / delegasi. Aku ingat pelajaran dari hasil kuliah di Oriflame Manager Diploma. Tipe pemimpin itu ada empat: autokratik, birokratik, demokratik, dan laissez-faire. Mana yang lebih baik? Semua sama baiknya. Disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Dan aku termasuk tipe demokratik: membagi kekuasaan, berperan sebagai mentor, membuat rencana & target, plus selalu merekognisi dan mendukung semua anggota jaringan (bisnis / perkumpulan / keluarga). Jangan pernah malu atau merasa tersaingi ketika anggota jaringan mengemukakan pendapatnya. Kita tak akan pernah tahu, jika ternyata buah pikirannya lah yang bisa membuat maju jaringan. Iya toh?

kamu mau jadi pemimpin atau boss?

Belajar menjadi leader artinya belajar untuk menjadi bijaksana dan cakap dalam berperilaku. Menjadi tua itu suatu kepastian. Menjadi dewasa? Itu pilihanmu. Kalau kata saudaraku, “Behave woy, behave!”😀

Gitu aja sih😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s