Musik Pengantar Rindu

Mei 2013. Siapa yang menyalakan musik dalam hatiku saat ini? Sudah setahun sejak sebuah nada mengusik malam sepi dan siang lengang di jiwaku. Aku merutuk karena tak jelas siapa yang membunyikannya. Sejak suara pertama itu, aku tak bisa tenang. Namun aku pun tak mau terlalu pusing dengannya. Maka aku meneruskan hidup.

Menjelang lebaran yang tinggal dua minggu. Aku menatapnya dari kejauhan. Begini rasanya jatuh cinta pada orang yang tak pernah terpikirkan sama sekali. Tidak dikenal, bukan teman, dan entah siapa dia itu. Sesekali pandangan kita bertemu. Ah ya, juga senyum efektif yang penuh basa-basi. Tapi aku penasaran, sialan! Kamu itu siapa?

Musik itu semakin jelas nadanya setiap kali aku bertemu denganmu. Ah, kurasa itu hanya bentuk penghiburan semata karena aku baru saja berpisah dengan pria yang kuanggap malaikat selama tiga tahun terakhir. Aku tak ingin peduli dengan berisiknya musik yang menuntut perhatianku itu. Tak mungkin terjadi. Yah, aku tahu itu. Mustahil.

Awal Oktober, aku bertemu dengan rekan kerjamu di sebuah restoran dan entah mengapa aku menanyakan dirimu. “Apa kabar Wisnu? Nampaknya menjelang akhir tahun dia sibuk ya?”

“Selalu, Mbak Allia. Bahkan dalam dua bulan ini dia akan bolak-balik ke pusat untuk presentasi materi,” jawab Seno. “Kapan ke kantor lagi, Mbak? Malah yang sibuk sepertinya justru Mbak Allia nih?”

Aku tergelak. “Ya, benar. Aku sibuk juga harus ke beberapa kota sebulan ini. Tapi justru Desember aku akan sering ke kantor Mas Seno, nih.”

“Jangan lupa kabarin kalau mau datang, Mbak. Kita lunch bareng Wisnu dan Maria juga.”

“Pastinya, Mas.”

Dan… Inilah yang terjadi. Musik itu pun semakin mengganggu dan mulai menggoyahkan pertahananku. Sejak aku semakin sering ke kantormu untuk urusan dengan bagian digital campaign, kita selalu bersinggungan meski aku tak ada urusan dengan divisimu. “Hai Allia! Bayu sedang rapat dengan bagian Humas. Maksi yuk?” Kamu menyapaku saat aku melewati ruanganmu.

“Wah, masih rapat? Hm, baiklah. Yuk!” Dan kita menghabiskan waktu berdua. Makan siang itu berlanjut sampai waktunya coffee break. Tiga jam tertawa bersamamu. Rapat dengan divisi Bayu bergeser ke waktu makan malam. Sesaat, musik yang mengganggu itu berhenti. Entah mengapa. Ada rasa sepi namun tergantikan oleh celotehmu. Aku terbius dengan tatapan teduhmu dan terlena dengan senyum menawanmu. Ah, aku kaubuat gila!

Suatu malam di akhir bulan November, kauutarakan keinginan untuk lebih mengenalku. Lebih dekat. Lebih intim. Musiknya kembali berbunyi dan kali ini menggelitik hingga aku penasaran dengan syairnya. Selama setahun aku hanya bisa menebak bebunyian di setiap nadanya. Kali ini, perlahan aku mendengar ada kata-kata yang bermunculan.

Di akhir Desember, kamu menjelma utuh di hadapanku.

And in the morning when you go
Wake me gently so I’ll know
That loving you was not a dream

(“Every Time I Look At You” / Il Divo)

Sekarang aku sudah mendengar semuanya. Kamulah syair dan musikku utuh. Rinduku sempurna. Selamat tahun baru untuk kita, kamu.

——————————————————————–

Flash Fiction / Pipet Magazine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s