Aku Ada Untukmu, #MyM

Dilarang cuwit-cuwit, siul-siul, ciyeh-ciyeh, atau apalah itu! *timpuk*

Selalu seperti ini. Gak akan pernah terpikirkan. Kenapa setiap aku memohon pada Allah untuk menghentikan semua “kegilaan” ini, Dia justru memberiku skenario drama yang baru? Untuk apa? Agar aku menikmatinya atau melakoninya? Tetapi Allah maha tahu bahwa aku tak akan suka sekadar menikmatinya. Maka aku langsung terjun sebagai pelakunya.

Pun saat ini. Setelah berbulan-bulan…. Nyaris setahun. Euh, ini agak lucu sebenarnya. Ketika aku mencari tahu yang mana sih orangnya yang sering mengirimkan e-mail kepadaku itu? Aku sempat salah menebak. “Yang mana sih orangnya?” Celingukan tapi justru menemukan orang lain. Dia itu tipe invisible man. Nyaris gak akan keliatan ada di mana pun. Susah ditemui. Saat aku keceletukan mencari dia pertama kali, ya gak kepikiran macam-macam. Hanya saja, “Suatu saat aku akan berurusan dengan dia lebih dari sekadar mencari namanya.” Muehehehehe…

Lupa banget bagaimana awalnya aku bisa dekat dengannya. Modus, tentu saja. Euh, sekitar Mei 2013 lalu sepertinya. Hihihihi… Aku melihatnya nampak begitu sibuk wara wiri. Oh, begini toh kerjanya?😛 Bahkan tanpa sadar pun ekor mataku selalu memerhatikannya. Syukurlah dia gak sadar ada pemuja rahasia😆 Lupa juga bagaimana awalnya bisa semakin dekat. BBM dengan modus kerjaan kayaknya. *ah elah An, semua dijadiin modus* Etapi beneran aku gak nyadar kalo begitu. Ini sih karena saat ini kepikiran aja. Bisa ya aku deket sama dia dengan cara seperti itu?

Berhubung aku mikir kalau dia sudah punya pasangan, ya aku berusaha jaga jarak dong. Dia juga sepertinya sama.😛 Tapi ketika ngobrol panjang dan dia menyadari bahwa aku single fighter, tetiba aja tuh dia bilang, “Aku juga pernah, kali!” Oh…. Oh… Oh… *keselek kulit duren* Itu semacam #kode yah? Yah? Yah?

Inget banget, dia bertanya padaku di suatu hari bulan September 2013, “Kamu kalau nulis biasanya di mana sih? Bagus bahasanya. Penulis berbakat.” Entah ini memuji tulus atau berbalik modus😀 Ngobrol lama, lantas dia memintaku mengajarinya membuat blog dan menulis. Modus yaaaaa???😆 Berlanjut di BBM dan dia memang memintaku untuk secara pribadi untuk latihan. Walah, aku jadi bingung. Tapi ya sudahlah ya, aku menyanggupi. Tapi ketika kutanya kapan, sebenarnya itu retorik. Dia sangat sibuk. Kapan? Ya entah.

Dia sudah sering bertemu dengan kedua anakku. Mereka saling ledek kalau ketemu. Ketika aku sendiri menemuinya, dia pasti akan mencari kedua anakku. “Sendiri aja?” Seolah seperti kehilangan. Hingga suatu hari, bungsuku ingin makan dan berbisik padaku, “Bun, laper ih.” Ah, padahal baru makan. Mungkin karena hujan dan dingin. Tetiba dia nyeletuk, “Sini makan sama Papa.” Aku dan Salman saling berpandangan kaget. Salman salah tingkah dan malu-malu menggeleng.  Hatinya seperti tersengat. Aku paham… Sudah lama tak ada yang bisa dia panggil Ayah, Bapak, Papi, Abi, atau Papa…😦 Aku mencoba menggeleng padanya untuk tidak memaksa Salman makan berdua dengannya. Perasaan si kecil tetiba sensitif.

Tanggal 8 Desember, pukul dua, dia BBM padaku hendak datang ke rumah. Egila! Tapi karena aku yakin dia tak akan datang, dan sepertinya dia juga hanya menguji, ya memang tak datang lah😆 Iseng amat! Daaaaaaannn… Sepuluh hari kemudian, dia benar datang ke rumahku tanpa pemberitahuan. Dia hanya bilang sudah ada di Bundaran Cibiru. Aku lagi-lagi berpikir dia bohong tapi tetap memberitahu rutenya. Ketika dia mengatakan ada di depan masjid, aku masih mlungker di kasur. Ah, paling becanda. Tapi hatiku berkata dia memang ada di sana. Maka aku bergegas ke masjid dan menemukan dia sedang tersenyum dari dalam mobilnya. Alamak! Serius! *iyaaa, gue norak! puas?*

Kami seperti mengulang perkenalan. Bertanya tentang keluarga dan… masa lalu. Dia sebenarnya enggan berbicara tentang itu tapi toh tetap dijawab. Aku mencoba mulai memasuki hatinya. Perlahan. Dari awal Desember, kami pernah berbicara dan dia mengatakan menutup pintu hati untuk semua perempuan dengan alasan yang tidak bisa diberitahu. Ketika dia ke rumah, aku mencoba berbicara dengannya melalui matanya. Mata adalah jendela jiwa, kan? Akhirnya dia mengatakan alasannya. Anehnya, itu sesuatu yang sudah pernah kuduga sebelumnya. Maka aku hanya terdiam dan otak mulai berpikir…

Aku memeluk duka dan lukanya. Dia berkata dengan defensif bahwa dia sama sekali tidak tersiksa, tapi bicaranya getir dan matanya merah. Aku mengerti sekali… Aku mencoba meraih bagian hatinya yang luka. Oh, betapa pedih melihatnya. Saat kumintai izin menyembuhkan luka, dia berkata lirih, “Terima kasih.”

Tanggal 23 Desember lalu dia datang lagi. Dia kembali mengeluarkan semua unek-uneknya dengan desahan napas yang sangat berat. Duhai… Betapa beratnya… Betapa ingin aku memeluk dan menguatkanmu…

Dia tak berkata apapun dari mulut, tapi matanya memohon pertolongan. Allah, bantu aku untuk menolongnya. Engkau maha mengetahui segalanya… Bantu kami… Ridhoi kami… Dengan segala kuasa dan kasih-Mu, beri kami kekuatan dan keberanian untuk menghadapi semuanya…

Kita hadapi semuanya berdua ya, #MyM? ♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s