Aku, Penyebab Tumpahnya Air Mata Mama

Oh, tentu saja! Itu berulang kali kulakukan tanpa peduli. Aku jahat. Iya.

Entah, berapa kali aku membuatnya khawatir. Sejak belum bisa membaca, sepertinya. Betapa aku ingat, membuatnya marah dan menangis dalam satu waktu hanya karena aku memberontak, teriak, melawan, dan berkata lantang, “Mama gak sayang!”

Sejak adikku lahir, Mama sudah menegaskan bahwa aku harus menjadi penjaga adikku dan selalu mengalah padanya. Adikku adalah kesayangan Mama. Wajar. Dia penurut, pendiam, cerdas, tak banyak tingkah. Beda denganku yang benar-benar bangor.

Ketika aku berusia 5 tahun, nekat mencoba pulang dari sekolah sendirian sampai ke rumah. Selamat. Tapi itu membuat Mama meledak marah dan aku menerima makan siang berupa sebatan rotan di kakiku. Aku tidak menangis tetapi sakit hati. Aku menyalahkan Mama yang terlalu lama ngerumpi dengan Bu Guru.

Usia 9 tahun, tulang kering kaki kananku harus dibiopsi karena kenakalanku. Tepatnya, karena kenekatanku menantang teman sekelasku. :mrgreen: Entah berapa juta keluar dari rekening Mama (dan Bapak) untukku. Mama merelakan waktu kerjanya terpotong demi bolak balik Cirebon – Jakarta selama tiga bulan. Mengeluh? Tidak. Aku yang kurang ajar. Minta kamar kelas 1, makan enak, dan kemanjaan lainnya.

Usia berapa aku lupa, Mama mengamanahkanku memberi sesuatu pada Mami, sahabat Mama yang pernah memberi tumpangan hidup di Cirebon selama 2 tahun. Aku malah memberikannya pada penjaga rumah. Mama murka lagi. Tapi Mama tak bisa berbuat apapun. Mama sedang dirawat di RS Pertamina Cirebon. Aku? Lagi-lagi merasa sudah melaksanakan kewajiban. Cuek.

Usia 16 tahun, kabur dari sekolah bersama teman-teman. Satu-satunya perempuan dan berjilbab pula. 😆 Mama sempat marah, tetapi aku tetap cuek. Mama mulai menyadari, senakal apapun aku, nilai pelajaran tak pernah mengecewakan. Yaaaa, kalau Fisika dapat nilai 5 sih wajar, belajar aja gak pernah. Buka bukunya juga gak. Guru menerangkan di kelas pun aku malah pasang earphone 😆 (DON’T DO THIS AT HOME! 😛 ) Saat kelulusan SMA, kubuktikan semuanya pada Mama. Aku, si anak nakal ini bisa menjadi lulusan terbaik. Maaf ya, Mama…

Aku ingin masuk UI bukan karena mau, lebih karena hendak membuktikan bahwa aku bisa. Tetapi bagaimana caranya menghindari jalur lulus dengan skripsi ya? Tapi Mama mau aku ikutan UMPTN kala itu. Ya sudahlah ya, aku ikutan UMPTN tapi ogah-ogahan. Sebelumnya sih sudah ikutan ujian masuk jalur Diploma. Lulus. Hihihihi… Mau cepat lulus :mrgreen: Karena memang aku gak mau jadi sarjana. Gak tau kenapa. Gak usah dibahas, napa sik!

Usia 18… Awal dan akhir segalanya.

Si manja keras kepala ini kehilangan pijakan utamanya. Semua bermula dari obrolan kami di kamar rumah sakit. Berdua. Sore hari. “Jangan pernah meminta,” nasihat pertamanya. “Jaga adikmu. Kalian hanya hidup berdua. Saling dukung dan saling sayang. Tak ada yang akan membantu menguatkan kalian kecuali kalian sendiri,” lanjutnya dengan intonasi penuh tekanan. Itu perintah.

Ada sesuatu yang hendak Mama sampaikan padaku. Matanya menatapku tak biasa sore itu. Hatiku, bisa merasakannya. Mama pasti mau bicara tentang jodoh. Yakin banget. Mama akhirnya hanya berucap pelan, “Cari yang sayang kamu, Teh.” Tetapi tatapannya sangat berat. Seperti ada yang ditakutkan dan mengkhawatirkannya. Entah apa.

Aku memeluk Mama. Itu terakhir. Sebelum beliau koma hingga Allah memanggilnya pulang. Aku bahkan sempat tak mau Mama pulang. Aku ngotot bahwa Mama bisa sembuh. Pukul 10 malam, aku baru bisa merelakannya. Kubisikkan, “Mama boleh pulang.  Teteh gak papa kok.” Pukul 2 dini hari, Mama baru bisa lega meninggalkanku…

Ternyata adikkulah penjagaku. Adikkulah yang banyak mengalah padaku. Adikkulah yang kurenggut bahagianya. Hingga detik ini. Kakak macam apa aku ini?

Tentang jodoh yang memberatkan Mama itu benar adanya… Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar untukku sadar bahwa hidupku sendiri terancam…

Maaf ya, Mama… Bahkan hingga akhir hidupmu pun, aku tetap saja membuatmu menangis.

Mama di Tokyo tahun 1974. miss you, Mam!
Mama di Tokyo tahun 1974. miss you, Mam!

Terima kasih, Mama, untuk segala yang sudah kauberi untukku. ♥

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s