Tips Bertengkar yang Islami

Nah lo! Bagaimana itu caranya? Cek penjelasannya di bawah ini, yuk! disadur dari berbagai sumber


Untuk yang sudah nikah, mau nikah, punya niat untuk nikah. Sebarkan kepada orang-orang yang kalian kenal. Dan mudah-mudahan bermanfaat.

Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata :”Saya tidak pernah bertengkar dengan istri saya!” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristri, atau ia tengah berdusta.

Yang jelas kita perlu menikmati saat saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi.

Kalau tahu etikanya, dalam bertengkar pun kita bisa mereguk hikmah. Betapa tidak, justru dalam bertengkar, setiap kata yang terucap, mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuap dengan desakan energi yang tinggi, pesan-pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa-basi tanpa emosi.

Bacalah dengan sabar, lalu renungi dengan baik, setelah itu terapkan dalam keseharian kita.

Suatu ketika seseorang berbincang dengan orang yang akan menjadi teman hidupnya, dan salah satunya bertanya; apakah ia bersedia berbagi masa depan dengannya, dan jawabannya tepat seperti yang diharap.

Mereka mulai membicarakan : seperti apa suasana rumah tangga ke depan, salah satunya tentang apa yang harus dilakukan kala mereka bertengkar. Dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah mereka pada sebuah Memorandum Of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar, maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah

Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorang pun sudah cukup membuat rumah jadi meriah.

Ketika ia marah dan anda mau menyela, segera berkata “STOP” ini giliran saya! Dan sebelum anda memulai pembicaraan, berdiamlah dahulu sambil istighfar, kemudian berkata dalam hati, “Kamu makin cantik kalau marah, makin energik …” Dan dengan diam itu pun anda telah beramal soleh, Barulah anda berkata, “Duh kekasih hati… Bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka aku akan sabar menunggu mu sampai reda…”

Demikian juga kalau pas kena giliran anda “yang olah raga otot muka”, maka cepat segera berhenti dan berpikirlah bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera di buang agar tak menebar kuman. Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah.

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit masa lalu.

Siapa pun kalau diungkit kesalahan pada masa lalunya dan pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapa pun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya.

Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay. Sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, dapat menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangun. Misalnya anda terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rasa yang sangat rindu.”

Kemudian apabila anda telah melakukan kesalahan yang sama berulang kali, kemudian ia mengaitkan dengan seluruh keterlambatan anda, minggu lalu, awal bulan kemarin,dan dua bulan lalu, sehingga membuat anda terpojok, sepedas apapun perkataannya, janganlah anda marah, sebab kemarahannya adalah “ungkapan ingin disayangi lebih tinggi.”

Apalagi bila ia melontarkan tuduhan, “Sayang, apa kamu sudah benci sama aku?” maka itu berarti anda telah melukai perasaannya dan membunuhnya, yaitu membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, anda juga yang susah.

Sebenarnya mudah triknya agar sinyal emosinya tidak semakin tinggi, yaitu dengan cara bicaralah dengan penuh kelembutan, perkataan yang indah, dan intonasi suara yang bersahabat. Anda pasti akan di peluknya. Sang istri akan meminta maaf dengan tulus iklas. Anda akan semakin disayang olehnya. Apabila sedang marah, luapkan untuk kesalahan sebentar karena anda tidak hidup di minggu yang lalu.

3. Kalau marah jangan membawa keluarga 

Anda dengan istri terikat pernikahan baru beberapa masa, tapi anda dengan Ibu dan Bapak anda hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga dia dan kakak serta pamannya.

Dalam konsep Qur’an, seseorang itu tidak menanggung kesalahan pihak lain (QS.53:38-40)

Anda pasti tidak akan terpancing marah, bila cuma anda seorang yang dimarahi, tapi kalau ibu anda diajak serta, hmmm… dunia bisa runtuh. Begitupun dia. Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak, jadi tidak usah ditambah dengan memusuhi mertua.

4. Kalau marah jangan di depan anak-anak .

Anak adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran. Oleh karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah anda. Anak yang melihat orangtuanya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibu nya. Membela ibu, tapi itu juga bapaknya.

Anda harus berani berkata, “Hentikan Pertengkaran!” ketika anak datang. Coba lihatlah di pancaran sorot mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kalian berdua yang romantis. Haruskah ia mendengar kata bahasa hati kalian berdua?

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu sholat 

Pada setiap tahiyyat kita berkata, “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa’ibaadilahissholiihiin,” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba-hamba-Mu yang soleh. Nah, andai setelah salam anda cemberut lagi, setelah salam anda menatap istri dengan amarah, maka anda telah mendustai-Nya, padahal nyawa anda di tangan-Nya.

Ok, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus berbaikan kembali. Atau marahlah habis subuh, tapi jangan sampai lewat waktu dzuhur. Atau maghrib sebatas isya. Atau habis isya sebatas…? Nnngg… Ah kayaknya kita sepakat sahabat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar …

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling memaafkan 

Selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens.”


Semoga kita semua dikaruniai pendamping hidup yang Setia, Shaleh atau Shalehah dan semoga yang sudah berkeluarga jadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warahmah. Aamiin


Semoga bermanfaat😉

2 thoughts on “Tips Bertengkar yang Islami”

  1. aakkkkkkk….. bertengkar itu memang bisa jadi bagian dari proses belajar dalam suatu pernikahan..🙂
    rasanya kalo ga bertengkar itu ga belajar.. *kaya iklan.. :p
    kalo semuanya datar-datar aja.. emmm.. betapa hambar nya sebuah rumah tangga tanpa polesan.. hihiii

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s