Is This Another Chance?

Aku gak tau apakah ini sebuah kesempatan yang lain untuk mencoba atau tidak. Kupikir aku sudah “mati rasa” setelah kekecewaan yang terakhir. Aku sudah enggan untuk meminta kembali pada Allah. Aku mencoba untuk menghalau semua rasa, membentengi diri dari segala bentuk godaan untuk memberi kesempatan hati ini merasa…

i swear

Hari ini bermula dari rangkaian hari-hari sebelumnya… Tetap saja, aku bersiap untuk kecewa dan tak berharap apapun. Aku tahu dan aku tetap merasa ketakutan.

Pelukmu meragu. Ingin erat namun khawatir menyakitiku, pun enggan melepasku. Biarkan aku meyakinkanmu. #MyM

Sampai kapan aku begini? Entah. Aku takut untuk jujur.

Aroma tubuhmu erat mengikat sukmaku. Betapa rindu enggan melepaskan diri dan mulai membius melenakan. #MyM

Aku mulai kecanduan dirinya. Lagi-lagi, aku mulai merasa ketakutan. Tetapi aku melihat ada sesuatu di matanya yang ingin ditumpahkan. Aku membacanya.

Begitu dalam rindu yang ingin dipuaskan. Mungkin, ini awal yang baik untuk melangkah. Kita, dua sepi yang bertautan di sudut langit. #MyM

Entah, apakah dia merasakan hal yang sama. Aku hanya tak ingin melepaskan kesempatan untuk jujur pada diri sendiri.  Jika kemungkinan dia meninggalkanku setelah aku bicara adalah 90%, biarlah kunikmati 10% itu dengan hati yang tak akan kubagi dengan siapa pun.

Hari ini dia memintaku dengan sopan meski diawali dengan spontanitasku. Tipe penuh kode seperti diriku berhadapan dengan tipe lugas seperti dirinya? Beginilah jadinya. Kelihatan sekali jika aku ditantang olehnya untuk bisa menyatakan segala sesuatunya dengan langsung tanpa berbelit.

Nyatanya aku menemukan satu kunci darinya bahwa dia tak bisa membuka hatinya untuk siapa pun saat ini. Ketakutannya yang bisa kupahami jauh sebelum dia bercerita apapun. Lantas, menyerahkah aku? Aku belum mau menyerah. Belum saatnya untuk menyerah. Para sahabatku tahu, aku selalu penasaran hingga akhirnya aku menangis sesak. Saat itulah aku menyerah. Tapi untuk kasus ini, aku tak akan menyerah.

Sean bertanya, siapa M ini? Aku belum bisa mengatakan apapun. Aku hanya memintanya mendoakan yang terbaik. Ken juga bertanya dan aku hanya meminta doanya. Aku hanya butuh doa saat ini.

Aku sudah nyaris tak bisa berpikir… Ketika aku mengetahui apa alasannya menutup hati rapat-rapat… Aku teringat kedua anakku… Allah, kuserahkan semua pada-Mu…. Bantu aku menemukan solusi yang baik untuk semua pihak…

Laa haula wa laa quwwata illa biLlah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s