Poligami, Polemik Tiada Akhir

Menulis beberapa twit tentang poligami pagi ini:

  • Poligami di temlenku saat ini… Salahkah? Berarti aku dan adikku adalah produk sebuah kesalahan terbesar? Ibu yang meminta Mama saat itu…
  • Dulu Bapak gak mau poligami, tapi Ibu yang meminta karena beliau sakit waktu itu. Salah siapa? Mamaku karena mau? Hinakah Mamaku?
  • Bapak gak mau nikah lagi. Tapi Ibu meminta karena menyadari dirinya tak sanggup mengurus Bapak dan kakak2….
  • Harusnya Mama menolak ya? Iya, mungkin. Aku dan adikku menyakiti hati Ibu dan kakak2 ya? Iya deh. Kesalahan seumur hidup.😥
  • Kalau poligami dianggap menyakiti hari istri pertama, tidakkah dipikir juga perasaan istri kedua? Menahan segala caci maki? Dicap merebut.
  • Bagaimana aku melihat Mama menangis… Seumur hidupnya. Niat baiknya dianggap salah… Begitulah. Life ends.😉 smile!🙂
  • Sampai detik ini, aku selalu saja ingat Ibu. Bagaimana beliau mempunyai keberanian meminta pada Mama… Luar biasa🙂
  • Mataku melihat Ibu terakhir kali. Pancaran kelegaan. “Ada yang ngurus Bapak sekarang.” Entah bagaimana perasaan anak kecil sepertiku dulu.
  • Aku sangat paham rasanya, kenapa gak ada wanita yang mau dimadu. Juga, sebagian yang menolak menjadi madu. Aku pernah ngetes itu.
  • Seorang pria beristri berminat menikahiku. Aku diam dulu tanpa reaksi. Ingin lihat reaksi istrinya. Mudah ditebak.🙂
  • “Kalau kamu nikah sama dia, anak kalian akan cacat!” *dhuar* aku diam tak berkomentar. Membiarkan wanita itu mengeluarkan emosinya.
  • Dalam hati, aku merasakan perihnya. Aku memeluk lukanya. Siapa yang mau cinta suaminya terbagi? Aku tersenyum dan berkata…
  • “Aku tak akan menikah dengan suamimu. Cinta pun tidak. Itu keinginan sepihak. Cobalah kembali ke diri sendiri, mengapa?”
  • Dari hati ke hati. Sesama perempuan. Akhirnya dia menyadari beberapa hal yang jadi kekurangannya. Kini, mereka semakin mesra🙂
  • Si perempuan dan suaminya introspeksi diri. Jika tak memiliki ilmu yang cukup, tahanlah untuk tak poligami. Kemudharatan menghadang.
  • Aku belajar banyak hal. Berbagai tingkah laku pria dan wanita. Poligami tetap satu topik paling sensitif. Bagi yang berilmu sekali pun.
  • If you don’t walk on my shoes, never say that the shoes are the worst one. Smile!😉🙂 let’s work! Uhm, am hungry…

————–

Pro dan kontra seputar poligami akan tetap ada. Maybe hingga akhir zaman. Tentu, ini tentang banyak hati dan banyak kepala tentang satu masalah: pernikahan. Kenapa aku bilang ini masalah? Karena ada satu statement sederhana yang lumayan mengusikku: “Satu ranjang terlalu sempit untuk ditiduri tiga orang.”🙂 Gak usah dijelaskan lah ya?😉

Aku menemukan sebuah akun menulis tentang poligami di linimasa pagi ini. Tapi, aku juga tidak tahu latar belakangnya, sudah menikah atau belum. Apakah dalam keluarganya ada contoh poligami atau tidak. Itu hak dia. Aku tak mau repot juga untuk capture semua tweet dia😉 Mencoba memahami pemikirannya. Akhirnya aku hanya bisa tersenyum miris. Selalu, pihak perempuan kedua yang salah… Apapun tujuan poligami itu, perempuan kedua tak pernah benar.

Aku pernah ngetwit tentang poligami. Kayaknya agak sering juga. Karena banyak yang komentar soal poligami tuh justru sebenarnya orang yang belum pernah menikah. Rada absurd ya?😀 Atau yang menikah tapi menilai poligami itu buruk. Eh, aku juga gak tau seburuk apa menurut mereka itu.

Entah pemikiran siapa yang salah, tetapi menurutku, pihak pria atau wanita sama aja salahnya jika egois yang bicara. Pria selalu dituding oleh pihak lain, sebagai pelegalan syahwat semata. “Emang gak bisa ya nahan syahwat?” <– sering mendengar nada sinis begini? Silakan dijawab sendiri, yes? Aku gak tau rasanya, karena bukan cowok😆

Tapi, kebanyakan para istri TIDAK MAU dipoligami dengan alasan kasih sayang dan cinta akan terbagi dan suami tidak akan adil. Maaf beribu maaf, Rasulullah pun lebih condong pada Sang Humayrah tinimbang istrinya yang lain. Selalu ada kecondongan, tapi bukan berarti tak adil. Ingat, adil bukan melulu 50-50 lho. Mamaku dulu memberi contoh, karena anak dari Ibu lebih banyak dari anak dari Mama, maka jatah Ibu tentu lebih besar. Kalau Mama meminta sama banyaknya, itu baru egois dan tidak adil.🙂

Tapi (lagi), fenomena yang terjadi saat ini adalah, karena si istri tak sudi suami kawin lagi, maka ketika ketahuan selingkuh pun reaksi pertamanya adalah marah binti sewot. Betul? Pada bagian ini, kembali pada diri masing-masing. Aku tak akan menjawab meski tahu jawabannya. Monggo… *sodorin kaca segede gaban*

Tahukah Anda, ada juga istri yang membiarkan suaminya jajan di luar? Alasannya apa? “Biarin aja, yang penting istri sah cuman satu dan selalu pulang ke rumah.” Sounds familiar? Cek aja sendiri:mrgreen: Kalau sudah begini, yang dosa siapa? Teteup, kembali ke diri sendiri😉

Udah ya, kalau dibahas akan saaaaaaangat panjang. Intinya, jangan memutuskan sesuatu ketika marah dan jangan berjanji ketika senang. Introspeksi dan bertanyalah pada ahlinya.

Salam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s