Ketika Aku Hanya Punya Allah Untuk Pulang

Pulang. Mengadu. Menangis.

Dalam keadaan menggigil, gemetar, dan merasa sendirian.

Saat menyadari ada perubahan kecil nan mengganggu dari tubuhku, berharap semuanya bisa diatasi dengan baik.

Sudah seminggu ada rasa tak nyaman. Kuharap itu bukan masalah sampai ketika aku menangkap sebuah rasa nyeri. Semakin menjalar hingga mulai mencuri perhatianku. Ada yang salah. Kutanya seorang teman via BBM. Dokter umum. Dia tetap menyarankan aku untuk memeriksakan diri. Temui dokter umum yang biasanya akan merujuk ke dokter bedah.

Well, itu terdengar lebih mengerikan dari sekadar suntikan anastesi. “Siapa tahu hanya pembesaran kelenjar.” Enak banget ya temanku itu nyeletuknya? +_____+

Ketika googling tentang kemungkinan penyakit itu, aku hanya bisa menelan ludah. Jika dalam keluarga ada penderita kanker, potensi kita kena kanker pun meningkat. Mungkin kecemasan ini terlalu berlebihan. Akhirnya, aku mencoba untuk berdamai dengan ketakutan gak jelas ini.

Jika memang ini menjadi ketentuan-Mu sebagai peluruh dosaku, aku berserah diri pada-Mu. Izinkan aku menikmati segala prosesnya dan menjadikan-Mu sebagai satu-satunya tempatku pulang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s