Hidayah Hanya Milik Allah

anyone

Mungkin, aku mulai dianggap berubah oleh sebagian orang. Terlebih, di mata mereka yang sangat dekat denganku secara hati, jiwa, pikiran, dan fisik. Ada yang mulai gelisah dengan perubahanku. Ada yang membicarakanku di belakang (yang sayangnya selalu ketahuan😆 ) dan ada yang menyumpahiku macam-macam.

Aku, dengan segala keterbatasan yang ada, membela agamaku insya Allah sampai titik darah penghabisan. Aku bukanlah sosok akhwat gemulai dengan intonasi suara yang nyaris tak terdengar (untuk yang menganggap suara wanita adalah aurat, demikianlah mereka bertutur. ini agak membuatku tak nyaman. telinga kiriku sudah diambil nikmatnya sekitar 60%, hingga pendengaran otomatis bergantung pada telinga kanan. jadi kalau berbicara dengan mereka yang bersuara pelan, akan dipastikan terjadi salah paham.), bergamis dan berjilbab lebar, bersarung tangan, atau bahkan bercadar. Maaf, aku belum bisa seperti itu.

Aku sih tak pernah ambil pusing dihina dan dicaci maki. Direndahkan? Sering. Apalagi dengan statusku saat ini, tentulah tak akan nyaman. Sekali lagi, aku tak peduli. TAPI… Jika sudah menyangkut agamaku, maaf. Rasanya aku harus keras. Aku terpaksa berseberangan bahkan dengan saudaraku sendiri. Terserah dibilang lebay. Rasulullah dihina, tak akan pernah bisa direlakan!

Berkaitan dengan saudara-saudara di Rohingya, Syria, Palestina, Mesir, dan belahan dunia lain yang tertindas oleh kezaliman, ini pun menjadi salah satu bahan debat yang tak berujung meski ada pangkalnya. Klasik —> “An, urus aja deh yang ada di Indonesia. Ngapain ngurusin negara lain yang jauh? Tuh tetanggamu ada yang kelaparan, sudah dikasih makan?” <— yang beginian dilontarkan bahkan oleh sahabatku sendiri.

Perlu ya aku woro-woro seperti ini, “Hei, aku sudah nyumbang loh buat daerah tertinggal.” “Eh, kemarin aku berinfak untuk Aceh lho.” “Sssst… Aku ngasih lauk loh ke tetangga di RT sebelah.” Zzzzzzzzzz…. Gak juga kaleeeeee…. Trus, ngebantu secara materi ke Rohingya dan Palestina juga harus disebut, gitu? Ih, ikhlas gak sih kamuh? Huh?

Terus, kenapa kamu sok-sokan ikutan teriak masalah Palestina dan Mesir? Kok diem soal Indonesia? <— Ini rada sulit dijelaskan. Ada perjuangan yang harus disuarakan dengan lantang dan ada yang harus dengan diamdiam. Di Palestina, berjuang melawan Zionis itu setiap hari. Berhadapan dengan senapan dan bom setiap hari. Sama seperti ketika tragedi Ambon dan Sampang. Ya sama, aku juga bersuara. Aku, hanya bersuara (maksudnya sih dengan ngoceh di media sosial) untuk segala tindakan darurat. Eh, sebenarnya semua juga darurat, sih… Di sinilah pentingnya pelajaran skala prioritas. Untuk yang-katanya-tetangga-kelaparan-itu apakah aku harus berkoar juga di internet? Lah ya gak! *kok nulisnya jadi kusut gini ya?*

Juga ketika aku mengenalkan apa yang terjadi dengan anak-anak Palestina dan Syria pada kedua krucilku, ada aja yang terusik. Menganggap caraku mendidik empati itu salah. Baginya, mungkin salah. Karena aku yakin, dia tak akan mendidik anaknya untuk mencintai saudaranya yang jauh di sana. Kenal juga gak. Ketemu juga gak. Ngapain diurusin yang jauh itu? Dia, bisa dipastikan hanya akan mendidik anaknya tentang kelaparan di Nusa Tenggara dan gak usah peduli dengan kelaparan Somalia. Simpati saja cukup baginya, tak perlu berempati, apalagi membantu. Begitu kan?😉

Ketika aku diketahui menentang Syiah dan Ahmadiyah, lagi-lagi orang terdekatku yang gerah. Ada kenalanku yang Syiah. Secara akidah, kami bertentangan. Tapi toh kami tetap berteman. Saling menahan diri untuk tidak menyudutkan. Bukan caraku bermain frontal dengan orang-orang seperti mereka.🙂 Pun ketika Ahmadiyah menjadi masalah, aku memilih untuk diam secara suara. Doa, tetap mengalir di setiap sujudku. Untuk Syiah dan Ahmadiyah, ini lekat hubungannya dengan hidayah. Dan itu mutlak milik Allah. Tugas muslim adalah mendoakan mereka. “Mereka juga Islam, An!” Kata siapa? Penghina sayyidina Umar dan Abu Bakar itu disebut (penganut) Islam? Punya nabi lain setelah Rasulullah itu disebut Islam? Let me know🙂

Ketika aku memutuskan berjilbab pun, jika bukan karena cinta Allah, rasanya sampai saat ini pun aku masih membiarkan diri ini mengumpat, “Jilbab itu panas, gilak! Apa-apaan sih pake baju tertutup di siang yang panas?”😀 *merona malu*

Jujur saja, aku masih sangat banyak kekurangan. Masih berlumuran dosa. Tapi kalau agamaku dihina, ya nanti dulu berbaik-baiknya.

Aku tetap berteman dengan pemabuk, penjudi, pembunuh, para LGBT, penganut Syiah, golongan Ahmadiyah, pengusung liberalisme+pluralisme+sekularisme, dan aku juga punya teman atheis. Biasa aja. Kami tetap berkomunikasi. Di dunia, aku tetap menjaga hablumminannaas🙂 Karena kita tak pernah tahu… Kapan hidayah datang kepada kita🙂

ya Rabb

Mengemis cinta-Nya saja harus setiap hari kita lakukan demi akhir hidup di dunia yang baik dan selamat. Jika kamu takut dijauhi temanmu hanya karena berseberangan akidah, pikirkan bila Allah menjauh darimu! We never know the future

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s