Makna Lebaran yang Perlahan Memudar

Bagiku. Iya. Setidaknya saat ini. Sejak Bapak wafat pada tahun 2003, berarti sudah 10 tahun aku tak punya tujuan untuk mudik. Bagiku, mudik itu kembali ke hati orangtua. Setelah Mama mendahului pada tahun 1998, sisa 5 tahun aku ke rumah Bapak dengan separuh hati yang hilang. Maka ketika Bapak menyusul Mama, lengkaplah rasa kehilangan itu. Tak ada yang yang menuntunku pulang.

Adikku, dalam beberapa tahun, juga tak terlihat di mana pun. Dia memilih untuk berhari raya dengan caranya sendiri. Aku, yang saat itu masih terikat pernikahan dengan bapaknya anak-anak, ngumpulnya di rumah kakek-neneknya mereka. Tetap ada yang tak lengkap. Hampanya kerasa banget.

Tahun 2011, aku berlebaran di Bekasi. Pikiranku melayang entah ke mana. Tahun 2012, aku berlebaran di Bandung, hatiku juga tak karuan. Tahun ini? Entah. Aku menulis ini di hari ke-29 Ramadan. Besok, hari puasa terakhir di tahun 1434 Hijirah, insya Allah.  Di mana? Belum kepikiran. Mentok ya di kamar saja bareng anak-anak. Ngobrol. Rumpi. Ketawa. Menikmati saat bertiga sebelum mereka beranjak remaja dan gak mau kruntelan lagi denganku😛

Entah, aku hanya ingin menikmati kenanganku bersama Bapak dan Mama. Cukup. Setelah itu, melanjutkan hidup. Seperti biasa. Lebaran bukan ajang untuk berpesta pora dalam bentuk materi, kan?😉 Aku hanya cemas dan tak ingin Ramadan ini menjadi yang terakhir.😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s