Ada Musibah Lantas Terpuruk?

Mungkin akan terdengar sotoy atau lebay atau sok tau atau entah apa namanya. Setiap orang tentu berbeda sikap ketika menghadapi sebuah musibah. Entah itu kecelakaan, kehilangan, kerugian, dan yang sejenisnya.

Bagiku (dan ini belum tentu benar pun), musibah itu bisa artinya bentuk ujian Allah atau hukumanNya. Kamu, gimana sih menyikapi sebuah masalah (yang kadang disalahpahami sebagai musibah sehingga kepasrahannya pun menjadi salah)? Jujur, semuanya berproses. Pun pandangan kita tentang apa pun yang terjadi terhadap diri.

“Gara-gara dia sih!” “Ah, gue emang goblok!” “Payah nih ah, gue gak bisa selesein semuanya sendirian.” “Tuhan gak sayang gue!” “Trus gue mesti gimana kalo kayak gini?” Dan entah apa lagi yang dilontarkan dari mulut. (efek membaca sebuah stat di FB tanggal 22 Juni.)

Rutukan, caci maki, keluhan, kesedihan dilontarkan di media sosial. Tujuannya apa? Agar seluruh dunia mengetahui kemalangan kita? Gitu? Sakit jiwa. Memang. Itu yang pernah kualami. Sampai aku akhirnya menyadari yang terjadi padaku bisa dikatakan bagian dari bipolar disorder. Apaan tuh? Googling aja ya?šŸ˜› Tetapi itu kasusku. Akhirnya dengan kesadaran sendiri, aku mencoba mengatur akun sosialku hanya untuk orang-orang tertentu yang benar mengenalku apa adanya. Jadi, aku hanya akan menyampah pada mereka. Pun sebaliknya.

Pengumuman kesusahan diri di media sosial hanya akan membuat orang lain mencibir dan bukannya jatuh kasihan. Itu yang pernah kualami. Disinisin dan diketawain. Lantas aku berpikir cepat. Iya, memang. Apa untungnya? Cari sensasi? Duh, mengobral tuh cinta, senyum, tawa, dan rasa optimis. dilempar kain pel Makanya aku lebih memilih untuk membicarakannya secara pribadi pada mereka yang mengerti.

Lantas apa aku harus merasa terpuruk? Aduh mak! Geje sekali! Iya untuk bagian yang satu ini emang gak banget. Dan aku baru aja merasakannya bulan Juni lalu. Ketika target bisnisku tidak mencapai angka yang seharusnya, geregetan!!! Down. Ā Nyesek. Tapi gak bisa nangis. Hanya bisa buru-buru introspeksi dan melihat apa yang kurang pada bulan lalu untuk diperbaiki bulan ini.

Belum lepas dari ujian Juni, eh ada yang menyapa di bulan Juli. Aku tercekat, menelan ludah, dan mendadak sakit kepala teramat sangat. Whops! Ternyata aku harus menggenjot lagi semangat agar tidak terpeleset 2x untuk hal yang sama nih!

Oke, sebaiknya kita langsung memperbaiki diri, stop mengeluh, dan buang masa lalu ke tempat sampah. MARI!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s