I Found You. Already Looks Like A Serendipity?

Aku gak akan kepikiran menulis postingan ini malam ini. Aku hanya memikirkan sebuah film yang pernah kutonton bertahun lampau, sendirian, di Mall Taman Anggrek Jakarta.

Serendipity. Kalau menurut Wikipedia sih gini, Serendipity means a “happy accident” or “pleasant surprise”; a fortunate mistake. Specifically, the accident of finding something good or useful while not specifically searching for it.”

Film yang rada konyol menurut pemikiranku saat itu. Film yang terlalu bercita rasa Hollywood dan too good to be true. Iya, emang. Mustahil! Iya! Tapi ketika aku menemukan kenyataan banyak kisah seperti itu benar-benar terjadi, aku menelan ludah. Tanpa kusadari, aku ingin seperti itu…

Norak? Bodo!

Awalnya aku berpikir, pertemuan pertama dengannya tak akan menghasilkan apa pun kecuali persahabatan tulus. Iya. Nyatanya aku mengingkari persahabatan itu dan jatuh cinta padanya. Hanya saja, aku terlalu takut untuk jujur. Terlebih, saat itu dia sudah punya seorang kekasih. Tentu, tak ada tempat bagiku di hatinya. *halah pret*

Kemudian, saking geregetannya ingin mencuri perhatiannya, aku selalu bercerita tentang kedekatanku dengan pria lain. Dia hanya merespon dukungan. Aku sama sekali tak puas. Bukan! Bukan itu yang kumau. Cegah aku! Cemburu dong! Aku tak menyerah. Kucuri perhatiannya setiap hari selama kubisa. Sudah hampir berapa tahun ya? Aku tak peduli. Lelah? Kadang. Tapi aku gak mau menyerah.

Aku memang mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan mendekati dan berkencan dengan pria lain. Tapi pikiran yang selalu kembali padanya itu benar-benar mengganggu.

Sometimes people put up walls, not to keep others out, but to see who cares enough to break them down.

Perlahan, seiring berjalannya waktu, aku mengenal karakternya. Aku membaca dirinya.  Hanya dia satu-satunya yang berani ‘menantangku’. Dia yang berani meruntuhkan semua egoku. Dia berani menuntutku. Dia berani memaksaku. Dia berani karena dia bilang dia sangat mengenalku. Itu! Itu yang kumau! Seorang pria yang benar-benar sepadan untuk menjadi ‘lawanku’. Selama ini, pria yang dekat denganku justru menjaga jarak karena aku dinilai ‘terlalu tinggi’ untuk level mereka. Entah dari segi apa. Gak ngerti. Mereka pun selalu berujung pada kata, “Iya terserah kamu deh, atur aja.” GUYS! Tapi dia… Dia berani tegas padaku. Dia berani marah padaku. “Kamu yang dengar aku!” atau “Itu aja aku minta tolong diubah.” Gitu.

Hanya dia satu-satunya yang berani.

Tapi aku bisa apa? Dengan kondisi dan posisiku seperti sekarang, justru membuatku takut. Semakin takut untuk jujur sekaligus kehilangan dia.

Tolong bantu aku…

Kamu, tolong yakinkan aku untuk dapat meyakinkanmu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s