Useless Convo. End of Discussion.

Beginilah nasib perantau (padahal gue sih mikirnya pulang kampung lho!) dengan predikat ‘pernah menikah’ alias ‘bekas istri seseorang’ atau ‘janda’. Ya, terserah deh ya mau pilih bahasa yang mana. Tapi percakapan sore sekitar pukul 17.00 WIB itu benar-benar menyebalkan. “Ya, sekarang kan Ibu tinggal sendirian. Gak ada temennya.” Berkata dengan tatapan sinis merendahkan. MAKSUD LO?

Oke, cerita lengkapnya adalah seperti ini:

Sudah berulang kali gue nulis di blog ini tentang kelakukan 2 orang adik kakak yang ajaib dan bikin kepala nyut-nyutan. Hari ini keduanya udah membuat kepala mau meledak. Jadi, gue samperin aja orangtuanya tadi sore. Itu pun karena 2 hal yang udah gak bisa ditolerir lagi. Bukan karena korbannya anak gue, tapi justru gue kasian sama 2 anak itu. Gak kebayang masa depannya gimana.

Jadi gini, *kusut* gue mengecek secara berkala, video apa saja yang ditonton sama kedua krucil. Gue intip ketika mereka menonton dan setelah ke tangan gue lagi pun gue liat lagi di bagian search dan history. Tadi gue langsung seperti mendapat serangan jantung. Di bagian search ada kata “n*n*n” dan ketika masuk history ada 9 video bokep dong >_<

Oke, ini salah krucil gue? Tunggu dulu, mereka bahkan masih bingung menulis di layar sentuh macam android gue. Mereka selalu bertanya, “Bunda, aku boleh nonton ini, gak?” “Bun, aku mau nonton yang ini. Boleh? Gak lama tuh, cuman sepuluh menit.” “Bun, aku mau belajar tentang tulang manusia.” Intinya mereka bertanya dan izin.

Tapi tadi siang gue melihat deretan video vulgar itu dan entah harus menyalahkan siapa. Ketika Salman menyebutkan satu nama, kepala gue ngilu. “Ah, Salman gak boleh sembarangan nuduh ya? Masa sih?” tanya gue gak yakin. Salman mengangguk mantap. Gue memicingkan mata. Serius? Anak yang belum 7 tahun? Gue berusaha menenangkan perasaan dan pikiran yang campur aduk. Umar terlalu baik dengan meminjamkan android gue ke temennya sementara dia sendiri main apaan tau gak jelas.

Lah, kemudian ketika krucil gue main di depan rumah, si jagoan kampung itu malah jelas-jelas di depan mata gue ngelempar batu ke Umar. Nimpuknya santai banget dan melengos cuek. CHICKEN! Oh, gitu ya? Oke, gue langsung ke rumahnya dan ketemu orangtuanya. JRENG!

Gue ceritain soal video yang dibuka melalui daftar history, ibunya hanya beristighfar tapi setelah itu seperti tidak terjadi apa pun. Mungkin gak ngeh tujuan gue ke sana? Oke, gue ceritain soal anak bungsunya yang ngajak Umar main di kamar dan dikunci. Ngapain coba main di kamar, cekikikan dalam keadaan terkunci? Gue kan penasaran. Setelah gue paksa buka kamar, keduanya sedang bergegas memakai celana masing-masing. Mengetahui apa yang mereka lakukan, gue pura-pura bloon. “Ngapain coba main di kamar trus pintunya dikunci?” Gak ada yang ngaku. Setelah gue memasang wajah angker (apa sih), Umar bicara, “Tadi buka celana. Disuruh XXX.” Gue bengong dan bingung. “Kok bisa? Buat apa?” Umar menjawab lagi, “Diajak XXX main adu pantat.” HAH?

XXX sering sekali berkata sambil berteriak dalam rumah gue yang menyebabkan kedua krucil secara gak langsung ya jadinya nyontohin. 😦 Gue juga suka galak ke krucil, tapi influence dari lingkungan ternyata efeknya lebih dahsyat. Plus gue juga cerita ke ortunya tentang kelakuan si kakaknya yang hobi banget ngelempar batu. Apa jawaban defensif bapaknya? “Eh, bukan saya lho, Bu, yang nyuruh dia kayak gitu. Mungkin dia kesel karena saya suruh nyari adiknya yang lagi main. Yah, namanya juga anak-anak.” WHAT???? Maaf kalo gue salah denger. Tapi itu benar-benar pembelaan yang gak masuk ke otak gue. Anak-anak? Dia sudah beranjak remaja. Beraninya jadi jagoan kampung.

Dan selama hampir 45 menit gue ada di rumah tetangga gue itu, bapaknya ngomong muter-muter di satu inti kalimat aja, “Jadi saya tuh udah larang anak saya main jauh-jauh sama Umar dan Salman. Masa ke lapang, perikanan, sawah. Saya takut ada apa-apa sama anak saya.” Dahi gue berkerut. Dia buru- buru menambahkan, “Ya, sama anak Ibu juga sih. Pokoknya saya khawatir aja gitu, Bu. Jalanan di sini kan rame. Motor sama mobil gak pernah sepi. Kemaren baru aja ada yang meninggal ketabrak tuh deket Kecamatan. Ya kalo anak saya sih orang-orang udah pada tau. Nah ini kalau anak-anak Ibu gimana?” Dih!

Kemudian mulai merembet ke yang lain. “Ya Ibu kan sekarang sendirian. Gak ada temen ya? Maksud saya gak ada yang ngasuh anak di rumah. Jadi lebih gampang kan, ngawasinnya? Saya sih udah larang anak saya untuk main jauh-jauh kalo sama Umar. Mending gak usah main deh. Di rumah aja.” Itu terus aja yang dibahas. Inti masalah gue bukan itu. Tapi tindakan bully si sulung dan kelakuan seks aneh si bungsu. Gue sih justru gak peduli kalau itu dilakukan ke anak orang lain. Intinya, bukan orang lain yang harus menasehati atau memarahi. Itu tanggung jawab si orangtua, kan?

Si bapak melakukan apology dengan mengatakan, “Namanya juga anak-anak.” Ini sunggu aneh! Mau jadi apa mereka nantinya kalau bersembunyi di balik pemakluman seperti itu? Blangsak ntar gedenya!

Trus bisa-bisanya ngatur anak gue kudu sekolah di sekolahan gitu. “Kenapa Umar gak sekolah? Umurnya kan udah cukup?” Gue jelasinnya kudu gimana? Mereka gak ngerti apa itu homeschooling. Dianggapnya beneran gak sekolah. Dianggapnya gue gak mampu! Ini bukan masalah biaya! Gue jawab aja, “Umar dan Salman belajarnya di rumah sama saya, Pak. Tipe mereka gak bisa untuk belajar ala murid standar sekolahan.” Dibantah dengan sok taunya, “Ah, nanti guru sekolahnya bisa kok ngadepin Umar. Udah sekolah aja. Ntar saya yang urusin.” Dih!

ya, gue ngerasa kami bertiga emang beda. setiap kali itu terjadi, gue inget film era 1983an ini. 😀

Anak-anak gue dianggap alien. Aneh. Beda. Gue pikir itu hanya pikiran dan perasaan yang aneh aja. Tapi, secara gak sadar, tadi si Bapak kelepasan ngomong, “Iya, tetangga sini emang bilang anak-anak harus hati-hati kalau main sama Umar. Jauh terus mainnya.” Maksud loh?

Umar dan Salman memang tipe petualang. Mereka selalu penasaran dengan suatu daerah tertentu dan maunya menjelajah. Bagi orang-orang di sekitar rumah gue ini, jarak dari rumah ke tempat yang disebut ‘lapang’ itu jauh banget. Sementara dulu di Depok, Umar suka main ke masjid yang jaraknya 2x dari ‘lapang’. Sendirian. Pulang selamat. Tau arah balik. Hati gue pun tenang. Itu padahal usianya 4-5 tahun lho. Lah sekarang? Udah hampir 8 tahun, lho.

Ah, sudahlah. Gue senep hari ini. Nyamperin rumahnya gak ada solusi. Terlalu banyak basa basi busuknya. Malesin. Gue cuman masang alarm dengan radar berkekuatan lebih banyak sekarang. Malah gue yang gak bisa menjangkau alam pikiran mereka. Sampe gue harus munta

Have no idea anymore. Dunno.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s