Tentang Seorang Salman, Sang Gubernur Persia

Ada seorang pemuda, namanya Salman. Dia orang asing sebenarnya, tapi dalam komunitas yang baik, tentu tidak ada itu istilah orang asing, apalagi soal suku bangsa. Sepanjang baik orangnya, maka diterima dengan tangan terbuka. Apalagi Salman ini cerdas. Dalam sebuah situasi yang rumit, ide-nya yang brilian berhasil menyelamatkan kaumnya, dan itu adalah cerita amat legendaris.

Catatan ini memang membahas Salman yang itu, kalian pasti tahu Salman Al Farisi. Salman dari tanah Persia. Dan ide briliannya itu apalagi kalau bukan soal parit panjang dalam perang Khandaq. Ketika umat Islam di Madinah dikepung oleh gabungan golongan2 yang membencinya, pun di sabotase dari dalam oleh para munafik dan pengkhianat. Tapi tulisan ini tidak akan membahas tentang kisah parit, saya ingin menuliskan kembali kisah yang mungkin jarang orang dengar dari sahabat Nabi yang mulia ini, Salman Al Farisi.

Di jaman pemerintahan Umar Bin Khattab, Salman ikut dalam ekspedisi militer membebaskan Persia, dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash. Kisra imperium Persia berhasil dikalahkan, dan negeri besar itu membutuhkan pemimpin yang baru. Umar Bin Khattab menunjuk Salman Al Farisi dengan berbagai pertimbangan yang kokoh–perintah yang berat untuk ditolak. Maka dengan berat hati, diterimalah perintah tersebut.

Sejarah mencatat, Salman Al Farisi menjadi gubernur Persia yang amat bersahaja. Pakaiannya tidak berubah, penampilannya apalagi. Tidak ada yang menunjukkan kalau dia adalah Gubernur sebuah negeri besar.

Nah, berikut kisah yang saya maksudkan: Pada suatu hari, seorang pedagang dari Syam tiba di pasar besar negeri Persia. Dia kerepotan dengan barang2 yang akan dia jual, banyak dan berat2. Maka, saat melihat ada seorang pria dengan pakaian lusuh di depan pasar, pedagang ini berseru, “Hai, kuli, kemarilah. Bawakan barang2ku.”

Itu sebenarnya hal yang lumrah saja. Ada banyak kuli di pasar, juga banyak pedagang, interaksi yang lumrah. Pria berpakaian lusuh itu mengangguk, menyanggupi pekerjaan tersebut, mulai beranjak membawa barang2. Ketika mulai melintas di depan pasar tersebut, beberapa orang yang mengenalinya berkata, “Wahai Amir, biarlah saya yang mengangkatnya.” Aduh, dalam pemahaman umum ini rumit sekali situasinya. Bagaimana tidak? Bayangkanlah, gubernur Persia (setara dengan Presiden Iran hari ini), sedang susah payah membawa karung2 barang dagangan di depan pasar besar. Itu pemandangan yang amat mengharukan.

Pedagang dari Syam ini tentu terkejut, keheranan, “Siapakah kuli ini? kenapa kalian panggil Amir?”. Maka orang2 menjawabnya dengan sebal, “Tidak tahukah, Tuan, orang itu adalah gubernur kami.” Pias sudahlah pedagang dari Syam tersebut, bergegas membungkuk memohon maaf kepada kuli upahannya yang adalah Salman Al Farisi. Tapi itu bukan masalah besar bagi seorang sahabat Nabi yang mulia tersebut. Berpenampilan bersahaja, membaur dengan rakyatnya, bukanlah omong kosong politik, atau pencitraan, dia melakukannya, karena hei, memang begitulah hidupnya? Apapula yang harus dia tutupi? Permanis? Dia tidak membutuhkan pengawal, tidak membutuhkan ajudan, dan jelas, dia tidak membutuhkan dunia ini. Maka, menemukannya sedang memeriksa pasar, sedang memastikan urusan rakyatnya berjalan baik, adalah hal lumrah, tetap dengan pakaian lusuh seperti selama ini.

Maka, di tengah suasana yang serba salah bagi pedagang Syam tersebut, karena beliau sudah menyanggupi pekerjaan tersebut, Presiden Iran, eh, maaf maksud saya gubernur Persia tersebut, terus menunaikan pekerjaan tersebut hingga selesai. Penuh keringat di sekujur badannya. Memikul barang2 yang berat. Tidak masalah. No problem at all. Sungguh, cerita ini seharusnya membuat kita menyeka mata, lantas tertunduk malu. Dan jika kalian masih remaja, masih sekolah, belum nyemplung di tengah ‘kehidupan nyata’, ingatlah kisah ini, gigit pemahaman baik dari teladan tersebut.

Gigit, hingga rontok satu persatu gigi kita. Hingga tidak ada lagi orang yang meyakininya.

—————

diambil dari SINI.

Itu salah satu alasanku memberi nama mujahid kecilku “SALMAN”. Sejatinya, aku ingin Salman mencontoh kerendahan hati salah seorang sahabat yang memberi teladan melalui tindakan nyata. Insya Allah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s