Bersiap Mengosongkan Gelas Kotor dan Memenuhinya dengan CintaNya

Perubahan drastis dan dipaksakan apa sih namanya? Gatau deh, such as revolusi? Eh, bener gak? Entah. Aku gak suka yang demikian. Perubahan bagiku membutuhkan proses. Gak bisa tergesa yang justru menyebabkan rapuh dan berantakan di sana sini. Sederhananya, kalau mau dandanan tampil sempurna dan cantik, pasti memerlukan waktu minimal 30 menitan ya. Iya gak sih penganten? Woy!😀 Nah kalau penganten didandanin ngasal hanya sepuluh menit, gimana? Cakep kagak?😛

Pun dengan diriku. Jelas banget. Sahabat-sahabat dekatku sangat mengetahui siapa aku. Bagaimana bobroknya diriku. Lemah dan blangsak (ini bahasa apa sih?) kondisi imanku. Masa laluku gelapnya lebih dari hitamnya oli bekas. *yak, lebay* Tapi jelas semuanya membuatku gelisah gak karuan. Nangis tiap malam gak jelas. Ada yang kosong. Ada yang hilang. Setiap bertanya dalam doa habis shalat pastilah ada rasa nyeri. Sepi yang aneh. Aku mau berubah. Tapi gak bisa drastis. Aku orangnya stubborn pol!😀 Tipe sanguin yang ngeyel plus koleris yang kepala batu. Sempurna😆

Sahabatku tau keseharianku. Sarkasnya aku. Cuek dan slenge’annya aku. Pernah nyemplung di Daarut Tauhiid tapi gak serta merta membuatku mengubah penampilan kan? Teteup aja berantakan dan tomboy. Maaf, gak punya gamis. Maaf, belum bisa berjilbab dengan baik. Maaf, masih berhubungan dekat dengan para pria. Maksudku, seperti cipika cipiki. Aku juga masih menikmati lagu-lagu barat disamping nasyid, tentu saja. Terganggukah?

Jangan menilaiku dari dari bagaimana cara berpakaian dan bersosialisasiku. Bantu saja aku untuk memperbaiki aqidahku. Bantu mempelajari makrifatullah. Itu saja. Selebihnya biar berjalan seiring waktu. Aku ingin menjadi muallaf. Belajar dari nol. Semuanya. Kalau perlu dari huruf hijaiyah dan tajwid. Bareng dengan krucilku. Gak papa.

Mungkin ini salah satu terhalangnya aku untuk mendapat mursyid. Gelasku masih penuh dengan air kotor. Ditambah akunya belum mau menukar isi gelas itu dengan air yang baru dan bersih. Bagaimana aku berulang kali tak bisa menemui Syaikh Fattaah padahal ingin sekali bersilaturrahim. Tapi kemudian Vei sahabatku bilang, someday aku akan ketemu. Belum saatnya. Rasul belum memberi jalan itu. Bersabar aja.

Setiap kali aku mau berjuang untuk berubah, cobaannya langsung kayak pembuangan sampah. Numpuk beud! Awalnya aku bingung. Tetapi aku menyadari satu hal itu. Aku dibiarkan tenggelam dalam kelam sebelum akhirnya Allah akan mengangkatku dari lumpur dan membersihkanku dengan caraNya.Aku mengistilahkan dengan “Proses Mencuci Baju”. Tau dong ya bagaimana ‘mengerikannya’ tahapan pencucian itu? *tahan napas*

Karena aku ingin belajar menyempurnakan secara perlahan apa yang seharusnya kubawa mati nanti…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s