My Lowest Point

Entah gimana cara menjabarkannya. Yang pasti, aku merasa April tahun ini adalah terburuk bagiku dari sisi semangat dan harapan. Aneh? Iya. Ironisnya, di bulan ini aku memasuki usia baru yang seharusnya disyukuri dan berlimpah cita-cita. Pretlah!

Biasanya aku begitu semangat menulis tentang apa saja. Punya banyak ide yang berhamburan dan tak sabar untuk dieksekusi. Biasanya aku semangat berbalas puisi bersama Si Penunggu Ciremai itu. Biasanya aku cuek stalking dan nyamber tweet orang. Sekarang rasanya hampa. Total. Aku buntu.

Biasanya aku blogwalking dan meninggalkan jejak. Sekarang menjadi silent reader pun seperti hidup segan mati tak mau. Blah! Aku gak tau dan gak ngerti. Ngetwit aja jadi gak karuan dan semakin random. Padahal biasanya aku dikenal dengan puisi galaunya. *dih bangga!* Fokusku terpecah. Rencana menjajal bisnis baru pun tertunda. Mau backpack ke Bogor batal lagi. Jadwal rute ke Cirebon bulan ini gagal total. Entah bulan depan.

Pengen nonjok laptop rasanya. Ada sesuatu yang harus tersalurkan. Mungkin ya aku jenuh. Sepertinya aku memang butuh suasana segar yang baru. Entah apa. Semacam kesibukan yang membuatku bergerak secara fisik. Mobile activity gitu deh. Aku terbiasa sibuk hingga menikmati rasa sakit kepala karena kelelahan psikis. Aku tipe workaholic. Sok sibuk mungkin lebih tepatšŸ˜€ Justru kondisi saat ini membuatku senewen. Aku seperti kehilangan arah.

Memang benar aku harus menjauh dulu dari segala gadget ini. Bertemu lebih banyak orang dan berbincang. Seperti yang biasa dilakukan sebelum punya henpon pun. Ke bioskop, ke kafe, ke kebun binatang, ke museum, ke pasar tradisional, dan ke alam bebas. Iya, aku rindu saat-saat seperti itu. Aku butuh teman bicara yang nyata. Seseorang yang bisa kuajak bicara dan diskusi setiap harinya. Begitulah… Ehm, ini kode bukan ya? Entah.

Entah kenapa aku langsung drop setelah ada berita yang mengejutkan tanggal 20 April yang lalu. Tepat seminggu. Padahal seharusnya aku biasa ajalah. Tapi gak bisa. Meski seharusnya gak peduli. Tapi nyatanya sulit. Ada sesuatu yang aneh. Hal itu memporakporandakan semua rasa, pikiran, jadwal, dan konsentrasiku. Total. Langsung aku istighfar dan mencoba menenangkan diri. Ada sesuatu yang belum terpuaskan. Aku belum keluar rumah. Sesak napasku ini rasanya.

Merasa gagal untuk hidup bermakna pada bulan ini. Sumpek rasanya. Imbasnya kena ke krucilšŸ˜¦ Duh, malah jadi dzolim ya? Aku, tak mengerti harus bagaimana lagi.

Sepi ini sungguh menyiksa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s